Din Syamsuddin: Islam dan Konghucu Punya Banyak Persamaan, Dorong Aliansi Peradaban Dunia Baru

  • Bagikan

MoneyTalk, Jakarta – Mantan Ketua Umum Muhammadiyah, Din Syamsuddin, menegaskan bahwa ajaran Islam dan Konghucu memiliki banyak titik temu, baik dalam aspek teologis maupun kehidupan sosial kemasyarakatan. Hal itu disampaikannya dalam Konferensi Internasional Islam-Confucianism Civilizational Dialogue 2026 yang berlangsung di Friendship Palace pada 16 April 2026.

Konferensi tersebut diselenggarakan oleh International Confucian Association bersama International Islamic University Malaysia dan dihadiri sekitar 300 peserta dari berbagai negara. Dari Indonesia, turut hadir Chandra Setiawan yang juga menjabat sebagai Wakil Presiden International Confucian Association.

Dalam paparannya, Din Syamsuddin menekankan bahwa ajaran Konghucu yang lahir jauh sebelum Islam membawa nilai-nilai luhur yang sejalan dengan prinsip-prinsip Islam. Ia mencontohkan konsep Tian dalam Konghucu yang sering dimaknai sebagai Tuhan atau kekuatan langit, serta ajaran tentang pentingnya keluarga, harmoni sosial, dan pembentukan manusia paripurna.

“Dalam perspektif Islam, konsep insan paripurna dikenal sebagai insan kamil. Ini menunjukkan adanya kesamaan nilai dasar antara kedua ajaran,” ujarnya.

Lebih jauh, Din bahkan mengemukakan pandangan teologis bahwa Confucius atau Konghucu dapat dipandang sebagai sosok nabi yang diutus kepada kaumnya. Pandangan tersebut ia dasarkan pada prinsip dalam Al-Qur’an bahwa setiap umat telah diberikan petunjuk oleh Tuhan melalui seorang pembimbing.

Dalam makalahnya yang berjudul Viability of Islamic Confucian Global Collaboration, Din menilai kolaborasi antara dunia Islam dan peradaban Tiongkok bukan hanya mungkin, tetapi juga mendesak. Ia menyebut bahwa sistem dunia saat ini yang berbasis humanisme sekuler dan liberal telah mengalami kerusakan dan perlu digantikan.

“Sudah saatnya dibangun sistem dunia baru yang bertumpu pada nilai ketuhanan atau teosentrisme, yang mengedepankan kemanusiaan yang adil dan beradab,” tegasnya.

Tokoh yang juga dikenal sebagai Ketua Poros Dunia Wasatiyyat Islam itu mengusulkan pembentukan Global Alliance of Virtues atau Aliansi Global Keutamaan. Gagasan ini bertujuan menciptakan “lingkaran keutamaan” sebagai pengganti “lingkaran setan” yang selama ini dinilai menjerat peradaban dunia dengan konflik, ketimpangan, dan dominasi kekuasaan.

Menurut Din, kolaborasi konkret antara dunia Islam dan Tiongkok dapat menjadi motor penggerak lahirnya peradaban dunia baru yang lebih adil, damai, dan sejahtera.

Konferensi ini juga menghadirkan sambutan kunci dari Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim serta perwakilan pemerintah Tiongkok. Sementara itu, Chandra Setiawan dalam kesempatan yang sama memaparkan makalah tentang Pancasila dan etika Konghucu sebagai dasar harmonisasi kehidupan berbangsa.

Gagasan Din Syamsuddin tersebut sejalan dengan seruan para ulama, zuama, dan cendekiawan Muslim Indonesia pada 2 April 2026 yang mendorong terbentuknya aliansi global untuk kemanusiaan yang adil dan beradab. Seruan itu menolak segala bentuk agresi, dominasi, dan hegemoni antarnegara.

“Sudah saatnya bangsa-bangsa yang mencintai perdamaian dan keadilan bersatu membangun tata dunia baru yang adil, damai, sejahtera, dan beradab,” pungkas Din menutup presentasinya.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *