Menganalisis Langkah Presiden Trump Menyerang Iran dari Aspek Energy Security

  • Bagikan

MoneyTalk, Jakarta – Setelah hiruk-pikuk ditangkapnya Presiden Venezuela, Nicolás Maduro, oleh militer Amerika Serikat (AS) bulan Januari 2026, sekarang dunia diributkan kembali dengan aksi kontroversial yang dilakukan oleh Presiden Donald Trump dan pemerintah AS. Kali ini AS bekerja sama dengan Israel untuk menyerang Iran dengan fokus mengganti kepemimpinan nasional Iran.

Pada saat menangkap Maduro, alasan hukum utama yang digunakan AS adalah surat dakwaan federal yang sudah ada sejak tahun 2020 di mana AS menuduh Maduro memimpin organisasi perdagangan narkoba bernama “Cartel of the Suns” yang bekerja sama dengan kelompok pemberontak FARC untuk mengirimkan kokain ke AS

Berbeda dengan Venezuela, AS dan Israel menyerang dan membunuh pemimpin spiritual Iran Ayatollah Ali Khamenei pada 28 Februari 2026 dengan alasan negosiasi nuklir yang telah berlangsung lama gagal mencapai resolusi. AS mengklaim bahwa Iran berada di ambang penyelesaian senjata nuklir yang membahayakan stabilitas kawasan Timur Tengah.

Benarkah alasan-alasan yang disampaikan oleh Pemerintah AS dalam melakukan aksi sepihak terhadap negara berdaulat Venezuela dan Iran? Sejatinya tidak ada yang tahu pasti alasan apa yang melatarbelakangi aksi-aksi sepihak ini. Ada yang beranggapan aksi ini hanya masalah geopolitik dunia yang sedang mencari titik kesetimbangan baru. Ada juga yang berpendapat bahwa aksi ini untuk menciptakan keamanan AS yang lebih baik. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah adanya faktor ketidakstabilan emosi Presiden Trump dalam berhubungan dan bekerja sama dengan pemimpin negara lain.

Namun demikian, dari kacamata praktik penguasaan sumber daya alam sebuah negara oleh negara maju dan juga strategi AS untuk memenuhi kebutuhan energinya, maka apa yang dilakukan oleh Presiden Trump ini merupakan pelaksanaan teori dasar dalam energy security. Bukan hal baru.

Secara garis besar, energy security sebuah negara bisa dicapai lewat tiga strategi, yaitu menggunakan kekuatan militer, pendekatan politik dan hubungan dagang.

Strategi pertama adalah menggunakan kekuatan militer yang diterapkan lewat perang terhadap negara yang punya sumber daya alam tersebut. Strategi ini pernah dilakukan oleh Nazi Jerman sewaktu menyerang Polandia dalam Perang Dunia Kedua (PD II). Saat itu, Polandia punya cadangan batu bara yang sangat besar di Eropa. Batubara inilah yang dibutuhkan oleh Nazi untuk diproses menjadi minyak sintetis yang kemudian dipakai untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) mesin perang Nazi.

Strategi yang sama juga pernah diterapkan oleh Jepang dalam memenuhi kebutuhan minyaknya pada PD II. Pada saat itu, AS tidak mau lagi mensuplai minyak ke Jepang karena Jepang menginvasi China. Dengan alasan inilah Jepang akhirnya menyerang Pearl Harbor dan AS menjadi terlibat dalam PD II.

Dengan kondisi kekurangan minyak ini, Jepang mencari sumber minyak baru di Indonesia dengan kekuatan militer dan menjajah Indonesia selama 3,5 tahun. Sejarah panjang tentang lapangan-lapangan minyak yang ditemukan oleh Belanda dan akhirnya dikuasai Jepang bisa dibaca lewat buku The Prize yang ditulis oleh Daniel Yergin.

Strategi kedua dalam mencapai energy security sebuah negara adalah dengan pendekatan politik. Ada empat cara yang ditempuh oleh negara maju dalam melakukan pendekatan politik ini. Diantaranya dengan menguasai volume minyak di negara tersebut yang ditukar dengan jaminan keamanan oleh negara maju. Ini terjadi di Arab Saudi, dimana Amerika Serikat lewat Chevron, Texaco, Exxon, dan Mobil Oil membentuk Saudi Aramco (Arabian American Oil Company) untuk memproduksi minyak di sana dengan jaminan perlindungan keamanan dari gangguan geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Selain menguasai volume minyak, pendekatan politik yang paling sering dilakukan adalah dengan mengganti pimpinan negara yang kaya minyak tersebut dengan seseorang yang berpihak pada negara maju. Metode ini diterapkan pertama kali sewaktu AS dan Inggris melakukan kudeta terhadap Perdana Menteri Iran Mossadegh pada tahun 1953 dan mendudukkan Mohammad Reza Pahlavi sebagai pemimpin Iran yang baru. Singkat cerita, minyak dari Iran akhirnya mengalir dengan porsi 60% untuk AS dan 40% untuk Inggris.

Kondisi penguasaan minyak Iran oleh AS dan Inggris ini berhenti sampai Ayatollah Khomeini mengambil alih kepemimpinan Iran lewat revolusi tahun 1979. Sejak itu, perusahaan minyak dari AS dan Inggris harus hengkang dari Iran. Minyak yang sangat dibutuhkan oleh AS dan Inggris tidak lagi mengalir dari Iran. Inilah salah satu sebab mengapa perseteruan AS dan Iran terjadi sampai hari ini, bukan semata-mata masalah nuklir.

Strategi yang sama juga bisa terlihat saat penggulingan Sadam Hussein di Irak, Moammar Gaddafi di Libya, dan Nicolás Maduro di Venezuela dan sekarang Ali Khameini di Iran. Kita menjadi bertanya-tanya apakah ini bagian dari strategi untuk mencapai energy security AS dengan menggunakan pendekatan politik? Lebih tepatnya lagi dengan mengganti pimpinan nasional untuk menguasai minyak dan gas sebuah negara?

Seperti yang kita tahu, Venezuela dan Iran adalah negara dengan cadangan minyak nomor satu dan ketiga di dunia sementara peringkat kedua diambil oleh Arab Saudi. Kalau negara maju dalam hal ini AS mampu menguasai Venezuela dan Iran, maka tiga besar cadangan minyak dunia akan menjadi tulang punggung AS untuk mencapai energy security-nya.

Kalaulah nuklir menjadi alasan untuk gejolak yang terjadi di Iran saat ini, kenapa tidak terjadi keributan dengan Pakistan, Korea Utara dan India yang punya senjata nuklir? Apakah karena mereka tidak punya minyak yang signifikan? Silahkan sahabat energi mendiskusikannya.

Pertanyaan selanjutnya adalah kenapa setelah Maduro ditangkap oleh AS kemudian gangguan beralih ke Iran yang mengakibatkan wafatnya Ayatollah Ali Khamenei? Bukankah dengan menguasai Venezuela, kebutuhan impor minyak AS bisa terpenuhi?

Mari kita lihat fakta-fakta yang ada tentang minyak Venezuela. Secara geografis, Venezuela sangat dekat dengan AS sehingga memudahkan dari sisi transportasi dan mobilisasi. Selain itu, kilang-kilang minyak yang ada di Texas dan Louisiana dirancang untuk dapat mengolah minyak dari Venezuela yang secara kualitas tidak bagus dan sulit diolah. Selain berat, minyaknya juga mengandung sulfur yang tinggi. Ini mengakibatkan biaya untuk mengolah minyak dari Venezuela sangat mahal.
Kendala terbesar agar bisa memproduksi minyak di Venezuela datang dari Perusahaan minyak AS sendiri seperti ExxonMobil, ConocoPhillips dan Chevron. Mereka berkeberatan untuk berinvestasi lagi di Venezuela karena trauma masa lalu dimana aset-aset lapangan migas mereka dinasionalisasi oleh Presiden Chavez pada tahun 2007. Kalaupun ada yang berinvestasi, kontraktor-kontraktor pelaksana juga enggan untuk mengerjakan proyek ini karena masih banyak tagihan mereka sebelum tahun 2007 yang belum dibayarkan oleh perusahaan minyak yang mengontrak mereka.

Kendala selanjutnya adalah butuh waktu yang cukup lama, paling tidak 10 sampai 15 tahun agar kondisi fasilitas dan sumur produksi bisa berjalan seperti sebelum tahun 2007. Selain itu, revitalisasi aset ini juga membutuhkan dana yang sangat besar. Beberapa data memperkirakan dana yang dibutuhkan lebih dari USD 180 miliar. Dengan kondisi harga minyak yang tidak begitu bagus di awal tahun 2026 ini, ditambah dengan persaingan dengan produksi minyak dari negara OPEC, maka perusahaan minyak AS akan berpikir ulang untuk berinvestasi di Venezuela.

Kalau begitu, apa alternatif strategi untuk mencapai energy security AS? Salah satu jalan yang lebih mudah dan terbukti punya cadangan minyak besar adalah kembali ke Iran. Kualitas minyaknya jauh lebih baik daripada Venezuela. Ongkos produksi dan pengolahannya juga lebih murah, dan yang tidak kalah pentingnya adalah fasilitas produksi dan sumurnya relatif masih bagus dan terawat dibandingkan dengan Venezuela.

Dengan segala kelebihan yang dimiliki oleh Iran, bukanlah hal yang mudah bagi AS untuk mendapatkan minyak tersebut. Kalau Presiden Maduro mampu ditangkap dalam hitungan jam, rasanya akan sangat panjang jalan yang ditempuh oleh AS untuk menguasai Iran kembali.

AS tentu sudah berhitung dan punya strategi yang terukur, termasuk untuk mendudukkan kembali anak Reza Pahlevi untuk menjadi pemimpin Iran. Pendekatan politik yang dicampur dengan kekuatan militer sedang dipakai oleh AS untuk merebut Iran. Apakah ini semata-mata masalah energy security AS atau ada agenda lain dibalik ini semua? Tidak ada yang tahu.

Satu hal yang perlu kita catat bahwa sejarah berulang dengan strategi yang hampir sama. Kelihatannya, negara maju kurang kreatif untuk berinovasi dalam mencukupi kebutuhan energi fosilnya. Semoga bermanfaat.

Penulis : Arcandra Tahar

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *