Pertamina Bukan malas membangun kilang Tapi salah Arah 

  • Bagikan

MoneyTalk, Jakarta – Mantan Wakil Menteri ESDM, Arcandra Tahar, PhD, membeberkan fakta mengejutkan dalam podcast Madilog yang ditayangkan kanal Forum TV Keadilan, Senin (20/10).

Dengan gaya tenang namun menusuk, Arcandra memaparkan bagaimana energi  dari etanol, biodiesel hingga minyak  masih menjadi urat nadi geopolitik dunia.

“Kita bicara komitmen hijau, tapi bahan bakunya enggak ada! Jangan sampai janji energi hijau hanya berakhir di impor,” tegas Arcandra.

Ia menyentil rencana pemerintah mengembangkan etanol dari singkong atau tebu, tapi tanpa fondasi produksi yang nyata. “Kalau bahannya aja impor, itu bukan kemandirian energi, tapi kemandirian pura-pura,” sindirnya.

ETANOL & “OMON-OMON” HIJAU: ANTARA IDEALISME DAN IMPOR

Arcandra menilai wacana pemerintah soal bahan bakar nabati seperti E10 atau E15 (etanol campuran bensin) masih sebatas wacana manis tanpa peta jalan jelas.

Ia menyebut, “Waktu era SBY saja program singkong untuk etanol gagal total. Sekarang, bahan bakunya masih nihil. Jadi, bicara blending 10 persen itu masih jauh. Bahkan bisa dibilang ‘omon-omon’.”

Arcandra menyarankan agar pemerintah tidak latah impor energi hijau dengan alasan tren global, tetapi memanfaatkan potensi lokal.

“Kita punya singkong, punya tanah luas. Tapi tanpa perencanaan, ya cuma jadi jargon politik, bukan kebijakan teknokratik,” ujarnya tajam.

PERTAMINA MALAS BANGUN KILANG? “INI BUKAN ISU BARU!

Menanggapi pernyataan Ketua Dewas Danantara, Purbaya Yudhi Sadewa, yang menuding Pertamina “malas membangun kilang”, Arcandra justru mengungkap akar masalahnya:

“Program kilang sudah ada sejak zaman Jokowi periode pertama! Ada Cilacap, Balikpapan, Tuban. Tapi realisasi tersendat. Masalahnya bukan malas, tapi arah strategi yang kabur,” ujarnya.

Arcandra menjelaskan bahwa Indonesia masih mengimpor 700 ribu barel per hari, akibat kapasitas kilang yang stagnan sejak 1990-an.

Ia menegaskanKilang terakhir yang kita bangun itu Balongan, tahun 1998! Setelah itu? Nol! Padahal kebutuhan BBM terus naik. Jadi jangan salahkan kilang, salahkan perencanaannya.”

ENERGI DAN PERANG: “YANG PUNYA MINYAK, MENANG PERANG”

Dalam bagian paling eksplosif dari wawancara, Arcandra menelusuri sejarah dunia melalui “perang minyak”.

“Perang Dunia II? Yang menang itu bukan cuma sekutu, tapi mereka yang punya energi!” tegasnya.

Ia memaparkan bagaimana Jerman mengubah batu bara jadi minyak sintetis, sementara Jepang menyerang Pearl Harbor gara-gara embargo minyak Amerika.

“Begitu pasokan minyak mereka diserang di Guam, tamatlah Jepang. Artinya: perang itu dimenangkan oleh yang punya energi, bukan yang paling kuat militernya.”

BONGKAR POLITIK ENERGI GLOBAL: DARI ARAMCO SAMPAI FREEPORT

Arcandra juga menyinggung bagaimana politik minyak membentuk peta kekuasaan dunia:

“Setelah Perang Dunia, hadiah buat Amerika adalah Arab Saudi  lahirlah ARAMCO. Inggris? Enggak kebagian! Freeport di Papua juga bagian dari sejarah itu.”

Ia bahkan menyinggung penggulingan Perdana Menteri Iran, Mossadegh, yang menasionalisasi minyak nasional, sebagai contoh politik energi:

“Ketika nasionalisasi terjadi, pemimpinnya diganti. Begitu juga Venezuela, Irak, Iran. Energi dan kekuasaan itu selalu berjalan beriringan.”

SINDIR PEMERINTAH: “KITA INI MASIH NEGARA KONSUMEN, BUKAN PRODUSEN!”

Di bagian akhir, Arcandra mengingatkan pemerintah untuk berani berpikir realistis dan strategis:

“Kalau mau bicara kemandirian energi, jangan cuma di pidato. Kita ini masih bergantung pada impor, baik minyak mentah maupun BBM. Itu fakta. Dan Negara yang tidak punya energi sendiri, akan selalu jadi penonton dalam geopolitik dunia” ujarnya.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *