MoneyTalk, Jakarta – Pernyataan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa kembali menuai kritik keras dari kalangan ekonom. Kali ini datang dari ekonom Dipo Satria Ramli, yang menilai respons Purbaya terhadap analisis pasar justru menunjukkan sikap anti-kritik dan cenderung menyerang personal, alih-alih membela kebijakan secara substansial.
Kritik itu muncul setelah lembaga keuangan global Citigroup (Citi) memproyeksikan defisit anggaran Indonesia bisa mencapai 3,5 persen. Alih-alih menanggapi dengan data atau argumentasi kebijakan fiskal, Purbaya justru melontarkan pernyataan yang dianggap merendahkan analis pasar.
“He’s not a real economist. He’s only a master. You should ask a PhD,” ujar Purbaya, sambil menunjuk dirinya sendiri.
Bagi Dipo, pernyataan tersebut mencerminkan cara berpikir yang keliru dalam menghadapi kritik ekonomi.
“Ini kampungan. Analisis pasar dibalas dengan serangan personal dan pamer gelar akademik. Seharusnya menteri keuangan membela kebijakan, bukan egonya,” tegas Dipo, Rabu (4/2/2025).
Menurutnya, proyeksi lembaga seperti Citi bukanlah opini sembarangan, melainkan bagian dari mekanisme pasar global yang memengaruhi persepsi investor, arus modal, dan stabilitas makroekonomi nasional.
“Kalau pemerintah tidak setuju, bantah dengan data, skenario fiskal, dan asumsi makro. Bukan dengan meremehkan latar belakang akademik orang,” tambahnya.
Dipo juga mengingatkan bahwa pasar tidak peduli apakah pejabat bergelar S2 atau S3. Pasar hanya merespons angka, konsistensi kebijakan, dan kredibilitas komunikasi fiskal.
“Pasar tidak membaca ijazah. Pasar membaca defisit, utang, dan risiko,” ujarnya.
Polemik ini dinilai berpotensi memperburuk persepsi investor, terutama di tengah situasi fiskal global yang penuh ketidakpastian. Ketika kritik dibalas dengan nada emosional, sinyal yang tertangkap pasar justru bisa menjadi kontraproduktif.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada klarifikasi lanjutan dari Menteri Keuangan Purbaya terkait kritik tersebut.




