MoneyTalk, Jakarta – Menjelang pelaksanaan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 tahun 2026, Gus Aam Wahib Wahab menyampaikan seruan agar NU kembali kepada jati diri perjuangannya sebagai organisasi yang menegakkan kebenaran dan keadilan atau yang disebut sebagai perjuangan Ashabul Haq Wal Adl.
Dalam tulisan yang berjudul “Kembalikan NU ke Perjuangan Ashabul Haq Wal Adl: Menjaga Marwah dan Martabat Jam’iyah, Menegakkan Kebenaran dan Keadilan”, Gus Aam menegaskan bahwa NU bukan sekadar organisasi kemasyarakatan biasa, melainkan warisan perjuangan para ulama yang lahir untuk menjaga agama, membela umat, serta mengawal perjalanan bangsa dan negara.
Menurutnya, perjalanan panjang NU selama hampir satu abad telah melahirkan banyak ulama, pejuang kemerdekaan, pemimpin bangsa, serta jutaan kader yang mengabdikan diri bagi agama dan negara. Namun, ia menilai setiap generasi memiliki tantangan tersendiri sehingga kritik dan evaluasi menjadi bagian penting dalam menjaga organisasi tetap berada di jalur perjuangan para pendirinya.
“Muktamar ke-35 harus menjadi momentum muhasabah, rekonsiliasi, dan konsolidasi untuk memastikan NU tetap berjalan sesuai cita-cita para muassis,” ujar Gus Aam kepada Jakartasatu.com pada Kamis 11/6/2026.
Tujuh Agenda Besar
Dalam pandangannya, terdapat tujuh agenda besar yang perlu menjadi perhatian warga nahdliyin menjelang Muktamar 2026.
Pertama, mengembalikan NU kepada perjuangan Ashabul Haq Wal Adl sebagai fondasi moral organisasi. Menurutnya, NU harus tetap menjadi kekuatan yang membela rakyat ketika terjadi ketidakadilan serta berani menyampaikan kritik konstruktif terhadap berbagai kebijakan yang dinilai merugikan masyarakat.
Kedua, mengembalikan NU kepada Khittah 1926. Ia menegaskan bahwa Khittah bukan sekadar slogan, melainkan landasan berpikir, bersikap, dan bertindak yang berakar pada ajaran Ahlussunnah wal Jamaah.
Ketiga, menghidupkan kembali semangat khidmah atau pengabdian. Gus Aam menekankan bahwa NU dibangun bukan untuk mengejar jabatan dan kekuasaan, melainkan untuk melayani umat dan memperjuangkan kemaslahatan masyarakat.
Keempat, mengkaji kembali penerapan sistem Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) dalam pemilihan Rais Aam dan Ketua Umum PBNU. Menurutnya, sistem tersebut dinilai lebih sesuai dengan tradisi keulamaan dan berpotensi mengurangi polarisasi internal organisasi.
Kelima, menetapkan kriteria yang jelas bagi calon Rais Aam dan Ketua Umum PBNU, dengan menitikberatkan pada kapasitas keilmuan, integritas moral, pengalaman organisasi, dan rekam jejak pengabdian.
Keenam, membentuk Dewan Etik PBNU yang terdiri dari para dzuriyah pendiri, masyayikh, dan tokoh senior NU untuk menjaga marwah organisasi, memberikan nasihat kepada pimpinan, serta menjadi penengah dalam berbagai persoalan internal.
Ketujuh, melakukan reformasi struktur PBNU agar lebih adaptif terhadap tantangan zaman, termasuk penguatan sektor ekonomi umat, pendidikan, teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI), ketahanan pangan, kesehatan masyarakat, lingkungan hidup, hingga diplomasi internasional.
Momentum Menentukan Arah NU
Gus Aam menegaskan bahwa Muktamar NU 2026 tidak boleh hanya dipahami sebagai forum pergantian kepemimpinan. Menurutnya, forum tertinggi organisasi tersebut harus dimanfaatkan untuk menyusun agenda besar NU dalam jangka panjang, termasuk visi 25 hingga 50 tahun ke depan.
“NU terlalu besar untuk dipertaruhkan oleh kepentingan sesaat. NU adalah milik umat, warisan para ulama, benteng kebangsaan, dan harapan jutaan warga nahdliyin,” katanya.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga NU sebagai organisasi yang tetap berdiri di atas prinsip kebenaran, keadilan, moderasi, dan pengabdian kepada umat.
Harapan ke Depan
Pada bagian penutup, Gus Aam menyatakan bahwa upaya mengembalikan NU kepada perjuangan Ashabul Haq Wal Adl bukanlah langkah untuk kembali ke masa lalu, melainkan menghidupkan kembali nilai-nilai luhur para pendiri agar tetap relevan dalam menghadapi tantangan zaman.
Ia berharap NU dapat terus menjadi penjaga moral bangsa, pembela rakyat kecil, sekaligus kekuatan peradaban Islam yang membawa rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil alamin).
“NU harus kembali menjadi organisasi yang seluruh gerak dan langkahnya didasarkan pada niat khidmah lillahi ta’ala serta tegak di atas kebenaran dan keadilan,” pungkasnya.

