MoneyTalk.id,Cirebon – Tata kelola Rumah Sakit Daerah (RSD) Gunung Jati Cirebon kembali menjadi sorotan serius semua pihak. Sejumlah persoalan, mulai dari stok obat-obatan yang dikabarkan kosong (tidak tersedia), hingga dugaan potongan gaji melalui daftar kehadiran (absensi) pegawai dan persoalan utang lebih dari Rp100 miliar, menjadi perhatian serius.
Informasi tersebut disampaikan oleh salah seorang pasien, informasi yang beredar di lingkungan RSD Gunung Jati, dan mendapatkan respon serius Akademisi Cirebon.
Salah seorang pasien mengaku mengalami kesulitan ketika membutuhkan obat tertentu saat menjalani pelayanan di RSD Gunung Jati. Menurutnya, ketersediaan obat menjadi salah satu hal penting yang harus mendapatkan perhatian serius karena berkaitan langsung dengan pelayanan kepada masyarakat.
“Kalau obat sampai tidak tersedia (kosong), tentu pasien yang paling dirugikan. Kami berharap rumah sakit memastikan obat-obatan yang dibutuhkan pasien tersedia,” ujar salah seorang pasien yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan.
Sementara itu, informasi yang beredar di lingkungan RSD Gunung Jati menyebut, terdapat persoalan lain yang perlu mendapat perhatian, yakni dugaan adanya pemotongan gaji pegawai yang dikaitkan dengan daftar kehadiran (absensi) yang tidak jelas dasarnya dengan tidak memberikan print out kehadirannya.
Menurut informasi yang beredar tersebut, mekanisme pemotongan gaji melalui pencatatan kehadiran perlu dibuka secara transparan agar tidak menimbulkan keresahan di kalangan pegawai. Tentu, persoalan tersebut diharapkan dapat diperiksa dan dipastikan apakah telah sesuai dengan aturan serta mekanisme kepegawaian yang berlaku atau hanya sepihak dari manajemen semata.
Selain persoalan kelangkaan obat dan potongan gaji pegawai, informasi yang menjadi sorotan serius juga menyinggung kondisi keuangan RSD Gunung Jati. Disebutkan, rumah sakit memiliki beban utang yang nilainya lebih dari Rp100 miliar.
“Persoalan ini perlu dilihat secara menyeluruh. Jangan sampai persoalan keuangan kemudian berdampak terhadap kelangkaan obat, alat kesehatan maupun pelayanan kepada pasien,” menurut sumber dilingkungan RSD Gunung Jati tersebut.
Menanggapi kondisi RSD Gunung Jati tersebut, Akademisi Cirebon Prof Dr H Adang Djumhur Salikin jika informasi mengenai kondisi RS Gunung Jati tersebut benar, stok obat yang mulai kosong, utang yang sudah mencapai lebih dari Rp100 miliar, serta adanya pemotongan gaji karyawan secara sepihak, maka persoalannya perlu dilihat secara serius dan komprehensif.
“Ini bukan semata-mata persoalan kekurangan obat atau persoalan keuangan, tetapi sudah menyentuh aspek tata kelola rumah sakit, keberlangsungan pelayanan publik, dan perlindungan hak-hak tenaga kesehatan serta karyawan,” ujarnya.
Namun demikian, kata dia, sebelum mengambil kesimpulan, tentu diperlukan verifikasi dan data yang objektif. Berapa total utang yang sebenarnya, kepada siapa saja, bagaimana struktur utangnya, bagaimana kondisi arus kas, berapa piutang yang belum tertagih, serta apa penyebab terjadinya kekurangan obat.
Yang juga sangat penting, lanjut Prof Adang Djumhur, apabila benar terjadi pemotongan gaji secara sepihak, perlu dijelaskan dasar kebijakan dan mekanismenya. Jangan sampai persoalan manajemen, justru dibebankan kepada karyawan, tanpa proses yang transparan dan berkeadilan.
“Saya kira sudah waktunya dilakukan evaluasi dan audit tata kelola secara menyeluruh, disertai keterbukaan informasi kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Prinsipnya sederhana, pelayanan pasien harus tetap terjamin, hak karyawan harus dilindungi, dan keuangan rumah sakit harus dikelola secara transparan dan akuntabel,” tegasnya.
Jangan sampai, lanjut dia, krisis manajemen berkembang menjadi krisis pelayanan dan akhirnya masyarakat serta karyawan yang menjadi korban. Dirinya berharap, semoga persoalan ini segera mendapat solusi terbaik.
“Ya, bila perlu segera dibentuk Pansus, agar bisa dikaji secara lebih komprehensif,” tegasnya.
Publik berharap, persoalan tersebut dapat segera diklarifikasi secara terbuka sehingga tidak menimbulkan spekulasi sekaligus memastikan pelayanan kesehatan di RSD Gunung Jati tetap berjalan optimal.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari pihak RSD Gunung Jati Cirebon.





