Semua Data Bisa Dimonetize, Pentingnya Pengolahan Data dalam Era Digital

  • Bagikan
Semua Data Bisa Dimonetize, Pentingnya Pengolahan Data dalam Era Digital
Semua Data Bisa Dimonetize, Pentingnya Pengolahan Data dalam Era Digital

MoneyTalk, Jakarta – Dalam dunia teknologi informasi, istilah-istilah yang terdengar sangat teknis sering membingungkan orang awam. Dalam podcast Net Public pada (28/09) digambarkan oleh Bang Samsul Nasution, CTO PT Bag Harapan Tritunggal, tentang bahasa dalam dunia IT dan pentingnya data dalam pengambilan keputusan. Diskusi ini membuka wawasan tentang bagaimana data dapat dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat, terutama di tingkat kelurahan.

Podcast dibuka dengan pernyataan sang host, “Gua enggak paham nih, Bang, orang IT itu kan kalau kita ngobrol kayaknya bahasanya ‘dewa’ banget. Itu benar enggak sih?”

Salah satu tantangan dalam dunia IT adalah kesenjangan bahasa antara developer dan pihak manajemen seperti CEO. Bang Samsul mengungkapkan bahwa terkadang terjadi kesulitan dalam berkomunikasi antara dua pihak ini.

“Ada kalanya developer menggunakan bahasa yang terlalu teknis, sementara CEO mungkin lebih suka penjelasan yang sederhana,” katanya. “Di sini pentingnya ada orang yang bisa menjadi jembatan antara dua sisi tersebut.”

Bang Samsul menambahkan, “Sangat mungkin bagi orang yang bukan dari latar belakang IT untuk berpura-pura mengerti saat mendengar istilah teknis. Namun, hal ini tidak membantu komunikasi yang efektif.”

Setelah membahas bahasa, percakapan beralih ke topik data.

“Sekarang, kalau kita ngomongin data, ini lagi seru banget. Data sering disebut sebagai raja, dan banyak yang bilang ‘data is the new gold’ atau ‘data is the new oil’. Kenapa bisa sampai dibilang begitu, Bang?” tanya host.

Bang Samsul menjelaskan, “Data itu sebenarnya sekumpulan informasi yang sangat berharga. Namun, nilainya tidak bisa diukur hanya dengan mata uang. Kita perlu memahami data itu dulu. Tanpa pengolahan yang tepat, data bisa menjadi ‘sampah’.”

Dia juga menjelaskan bagaimana data dikumpulkan dan diolah menjadi insight yang dapat digunakan untuk pengambilan keputusan.

“Misalnya, jika kita berbicara tentang Starbucks, mereka menggunakan data untuk menentukan lokasi terbaik untuk membuka kafe. Mereka menganalisis data demografis, lalu lintas, dan kompetisi di daerah tersebut,” tambahnya.

Setiap kelurahan biasanya memiliki data penduduk yang cukup lengkap, termasuk informasi tentang jumlah warga, pendidikan, dan umur. Data ini merupakan sumber informasi yang vital untuk merencanakan program-program pembangunan. Namun, sering kali data ini hanya terakumulasi dalam bentuk berkas dan tidak diolah lebih lanjut. Akibatnya, ketika ada kebutuhan akan data—misalnya untuk bantuan pemerintah—data tersebut tidak valid dan tidak dapat diandalkan.

Meskipun data telah dikumpulkan, belum ada sistem yang memadai untuk mengolahnya secara digital. Dengan adanya Kebijakan No. 1 Tahun 2023, pemerintah telah berupaya mendorong digitalisasi data, tetapi pertanyaannya adalah: seberapa efektif data ini dimanfaatkan? Banyak pihak, termasuk perusahaan swasta, masih belum mengoptimalkan potensi data yang mereka milik.

Salah satu masalah yang lebih serius adalah ketika data yang dimiliki tidak dimanfaatkan secara optimal. Dalam beberapa kasus, data yang ada justru dimanfaatkan oleh pihak lain baik secara legal maupun ilegal. Misalnya, data yang seharusnya aman dan hanya boleh diakses oleh pihak tertentu, bisa bocor dan digunakan untuk kepentingan yang tidak jelas. Ini menunjukkan pentingnya perlindungan dan pengelolaan data yang baik.

Ada dua model pengumpulan data: terbuka dan tertutup. Data terbuka, seperti yang dihasilkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), dapat diakses publik. Sementara data tertutup, seperti informasi pribadi yang terdapat dalam sistem perbankan atau data kesehatan, tidak dapat sembarangan diakses. Data yang bocor dan tidak terkelola dengan baik dapat berisiko tinggi bagi individu dan institusi.

Data yang tidak diolah hanya akan menjadi angka-angka tanpa arti. Penting bagi pemimpin dan pengelola data untuk memahami cara mengolah data tersebut agar dapat memberikan wawasan yang berarti. Salah satu solusi untuk mengatasi masalah ini adalah dengan melibatkan ahli analisis data yang dapat mengolah dan menginterpretasikan data dengan baik.

Pengolahan data mencakup pengumpulan data terstruktur dan tidak terstruktur, yang masing-masing memerlukan pendekatan yang berbeda. Data terstruktur, seperti yang terdapat dalam spreadsheet, lebih mudah untuk diolah. Namun, data tidak terstruktur, seperti data dari media sosial atau email, memerlukan teknik dan alat yang lebih canggih untuk dianalisis.

Sebagai contoh konkret, seorang pemilik kafe menghadapi masalah dengan pelanggan yang datang dalam rombongan namun hanya membeli satu atau dua minuman. Istilah “Rojali” (rombongan jarang beli) menjadi viral di media sosial. Hal ini menunjukkan bahwa kafe tersebut perlu mengidentifikasi perilaku pelanggan untuk meningkatkan penjualan. Dengan memanfaatkan data pengunjung, pemilik kafe bisa mendapatkan wawasan tentang frekuensi kunjungan, produk yang disukai, dan demografi pelanggan.

Salah satu cara untuk memanfaatkan data pelanggan adalah dengan mengadakan survei. Dengan memberikan akses Wi-Fi gratis setelah pelanggan mengisi survei, pemilik kafe dapat mengumpulkan data berharga yang akan membantu mereka memahami lebih dalam mengenai pola perilaku pelanggan.

Data yang telah diolah dengan baik dapat dimonetisasi. Setiap industri, termasuk perikanan, bisa memanfaatkan data untuk mendapatkan keuntungan. Misalnya, data mengenai jenis ikan yang ditangkap dan permintaan pasar dapat memberikan wawasan bagi nelayan untuk menentukan harga yang kompetitif. Jika nelayan mengetahui bahwa Jepang sedang kekurangan tuna, mereka dapat mengatur penjualan ke pasar tersebut untuk mendapatkan harga yang lebih baik.

Dalam rangka memaksimalkan potensi data di tingkat kelurahan, penting untuk memiliki sistem pengelolaan data yang baik. Data harus diolah dan dianalisis untuk memberikan wawasan yang dapat membantu pengambilan keputusan. Selain itu, perlindungan data dan pemanfaatan data yang legal juga sangat penting untuk menjaga integritas dan keamanan informasi. Dengan memanfaatkan teknologi dan melibatkan para ahli, diharapkan data yang tersedia dapat digunakan untuk menciptakan solusi yang lebih baik bagi masyarakat.

Melalui wawasan yang diberikan oleh Bang Samsul Nasution dalam podcast ini, kita dapat memahami lebih dalam tentang pentingnya pengolahan data dan bahasa dalam dunia IT, serta bagaimana keduanya dapat berkontribusi pada kemajuan masyarakat di era digit.(c@kra)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *