NU Kalang Kabut, Membuka Wacana Baru

  • Bagikan
NU Kalang Kabut, Membuka Wacana Baru
NU Kalang Kabut, Membuka Wacana Baru

MoneyTalk, Jakarta – Ungkapan Gus Abdurrazaq LM dalam tayangan di Damar 20 TV pada Sabtu (19/10) berjudul “NU Kalang Kabut” membuka wacana baru terkait kondisi organisasi Nahdlatul Ulama (NU) saat ini. Dengan gaya bahasa yang khas—kelakar penuh canda, namun penuh makna—Gus Abdurrazaq memaparkan kritiknya terhadap NU. Terutama terkait sikap para pengurus dan anggota yang dinilai terlalu pasif dan kurang dewasa dalam menyikapi berbagai permasalahan internal dan eksternal.

Gus Abdurrazaq memulai dengan sebuah anekdot yang ringan namun tajam. Ia bercerita tentang tulisan “No Smoking” yang oleh seorang tokoh NU diartikan sebagai “Orang NU boleh merokok”. Demikian juga dengan tulisan “No Problem” yang oleh santri dibaca tanpa pemahaman kritis.

Baginya, kelakar ini mencerminkan situasi di mana NU saat ini mungkin secara kasat mata terlihat “tanpa masalah”, tetapi sesungguhnya banyak permasalahan serius yang tidak dihadapi dengan bijaksana oleh para pengurus.

Penyataan Gus Abdurrazaq bahwa tulisan “No Problem” dibaca sebagai “tidak ada masalah” justru menyiratkan bahwa mungkin NU tengah menghadapi masalah besar. Namun, alih-alih menyelesaikan permasalahan tersebut, para pengurus seolah-olah memilih untuk bersikap pasif dan enggan terlibat. Ia menyentil ketidakmampuan sebagian pengurus NU untuk bersikap dewasa dalam menghadapi persoalan, meskipun mereka sudah lama berkecimpung di organisasi ini.

Salah satu kritik utama Gus Abdurrazaq adalah mengenai sikap diam dan pasif yang ditunjukkan oleh sebagian tokoh NU. Dengan bahasa yang lugas, ia menyebut sikap diam ini sebagai tanda bahwa para pengurus NU lebih memilih “cari aman” daripada berani berbicara dan berdiri melawan ketidakadilan atau penyimpangan.

Gus Abdurrazaq menyinggung bagaimana sejarah NU kerap dibelokkan oleh kepentingan tertentu. Alih-alih menentang hal ini, banyak tokoh NU justru memilih diam.

Frasa “No Silent” yang dibaca oleh sopirnya sebagai “New Zealand” adalah metafora sindiran bahwa NU seolah-olah memilih diam dalam banyak isu penting. Padahal, organisasi ini seharusnya bisa berperan lebih aktif dalam menjaga moralitas dan prinsip-prinsip Ahlussunnah wal Jamaah. NU yang dulunya berdiri dengan tegas sebagai benteng keagamaan, kini dianggap kehilangan suara dalam menghadapi berbagai tantangan zaman.

Dalam puisinya, Gus Abdurrazaq menyoroti bagaimana NU, yang merupakan salah satu organisasi keagamaan terbesar di Indonesia, seharusnya semakin arif dan bijaksana seiring bertambahnya usia. Namun, yang ia lihat adalah sebaliknya: NU justru kalang kabut dan tidak memiliki arah yang jelas dalam bermanuver, baik dalam konteks politik, sosial, maupun keagamaan.

Sikap tersebut digambarkan sebagai keadaan “di persimpangan jalan”, di mana NU tidak tahu harus melangkah ke mana. Padahal, semakin tua sebuah organisasi, seharusnya semakin matang dalam bersikap dan mengambil keputusan.

Pesan yang paling kuat dari kritik Gus Abdurrazaq adalah bahwa NU tidak boleh lagi terjebak dalam kebingungan dan keragu-raguan. Organisasi ini perlu bangkit dan mempertegas perannya di tengah masyarakat. Jika tidak, Gus Abdurrazaq mengingatkan bahwa ada potensi “ruh kesakralan” NU akan bangkit untuk mengembalikan marwah organisasi ini, sekaligus menghukum para pengkhianat dan pecundang yang memanfaatkan NU untuk kepentingan pribadi.

Poin lainnya yang ditegaskan oleh Gus Abdurrazaq adalah bagaimana ada segelintir pihak yang menikmati kebesaran NU untuk keuntungan pribadi. Mereka “nongkrong dan bersinggahana di atas kebesaran NU”, namun tidak berkontribusi secara nyata untuk memajukan organisasi. Orang-orang ini digambarkan sebagai “pengkhianat” yang tidak malu menggunakan nama besar NU demi keuntungan politik atau materi semata.

Gus Abdurrazaq memperingatkan bahwa jika hal ini terus dibiarkan, maka NU akan kehilangan integritasnya sebagai organisasi yang mewakili kepentingan umat. Ia menekankan pentingnya menjaga ajaran dan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah serta mengembalikan kemuliaan NU dengan cara yang benar.

Kritik yang dilontarkan oleh Gus Abdurrazaq sejalan dengan kekhawatiran sebagian besar masyarakat Nahdliyyin terhadap masa depan NU. Organisasi yang selama ini menjadi benteng utama Ahlussunnah wal Jamaah di Indonesia, dianggap sedang mengalami kemunduran dalam hal kepemimpinan dan ketegasan sikap. Situasi ini diperparah dengan adanya friksi internal dan berbagai kepentingan politik yang menumpangi organisasi.

NU memiliki sejarah panjang dalam memperjuangkan keadilan sosial, keagamaan, dan politik. Namun, dalam beberapa dekade terakhir, beberapa pengamat dan tokoh NU sendiri mengkhawatirkan bahwa organisasi ini kehilangan arah dan hanya menjadi alat politik bagi segelintir elite.

Gus Abdurrazaq menutup kritiknya dengan harapan agar NU bisa kembali kepada prinsip dasarnya, yaitu berjuang demi kepentingan umat dan menjaga kemurnian ajaran Islam Ahlussunnah wal Jamaah. Ia berharap NU bisa menghilangkan para “pengkhianat” yang telah merusak marwah organisasi, dan mengembalikan kebesaran NU sebagai organisasi yang kuat dan independen.

Dengan nada tegas, Gus Abdurrazaq mengingatkan bahwa masa depan NU berada di tangan para pengurus yang bijaksana, yang tidak takut untuk berbicara dan bertindak demi kebaikan umat, bukan demi kepentingan pribadi atau kelompok.

Ungkapan Gus Abdurrazaq dalam tayangan ini adalah refleksi mendalam tentang kondisi NU saat ini. Kritik yang disampaikan dengan kelakar dan puisi ini menyentuh banyak aspek fundamental dalam organisasi. Mulai dari sikap pasif para pengurus, diamnya NU terhadap isu-isu penting, hingga ancaman runtuhnya integritas NU jika tidak segera dilakukan pembenahan. Bagi Gus Abdurrazaq, NU harus segera bangkit dari keterpurukannya dan kembali menjadi garda terdepan dalam menjaga ajaran Islam yang moderat dan rahmatan lil alamin.(c@kra)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *