Dasco Jalankan Operasi Senyap Pisahkan Prabowo dengan Jokowi? 

  • Bagikan

MoneyTalk, Jakarta – Langkah politik kerap berjalan tak terduga. Seperti papan catur, pion-pion bergerak diam-diam, seringkali tanpa suara, namun mengubah keseluruhan peta permainan. Salah satu figur kunci dalam dinamika kekuasaan hari ini adalah Sufmi Dasco Ahmad. Wakil Ketua DPR RI sekaligus Ketua Harian DPP Partai Gerindra ini kembali menjadi sorotan, kali ini bukan karena posisinya dalam parlemen, tetapi karena manuver-manuver politik yang disebut-sebut sebagai “operasi senyap” untuk memisahkan Prabowo Subianto dari Joko Widodo.

Semua bermula dari pernyataan Dasco terkait logo Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional (Gekrafs). Ia menegaskan bahwa logo Gekrafs tetap kancil, “tidak seperti partai sebelah.” Walau kemudian Dasco membantah bahwa pernyataan itu menyindir Partai Solidaritas Indonesia (PSI)  yang kini menggunakan simbol gajah publik terlanjur menafsirkan ini sebagai sindiran simbolik. Dalam politik, simbol adalah bahasa yang kuat. Kancil melambangkan kecerdikan dan kelincahan, sedangkan gajah melambangkan kekuatan dan ingatan.

Secara implisit, Dasco ingin menekankan bahwa Gekrafs  dan secara lebih luas Gerindra  tetap pada jati dirinya, tidak terombang-ambing oleh perubahan simbolik atau politik pragmatis. Namun, sindiran ini datang pada saat yang sangat sensitif: ketika hubungan Prabowo dan PSI semakin terlihat harmonis, utamanya dengan keterlibatan Jokowi dan anaknya Kaesang Pangarep dalam tubuh PSI.

Yang menguatkan spekulasi adalah absennya Dasco dalam pertemuan Prabowo dan Jokowi di Solo dalam rangka penutupan Kongres PSI. Padahal, acara tersebut berskala nasional dan menyedot perhatian banyak pihak. Ketidakhadiran Ketua Harian Gerindra, yang selama ini dikenal loyal kepada Prabowo, menimbulkan pertanyaan besar. Apakah ini hanya kebetulan? Atau justru disengaja sebagai bentuk jarak politik?

Saya melihat, ada dua kemungkinan besar mengapa Dasco tidak ikut serta.Pertanda Ketegangan Internal di Gerindra:

-Ada sinyal bahwa elite Gerindra sendiri kini mulai terbelah terkait arah dukungan terhadap Jokowi dan keluarganya. Dasco termasuk figur yang lebih konservatif dalam menjaga “garis Prabowo”, yakni posisi ideologis dan arah kebijakan yang tidak terlalu tunduk pada arus pragmatis kekuasaan Jokowi. Dengan absennya di Solo, bisa jadi Dasco sedang menarik garis tegas antara Gerindra sebagai partai dengan PSI sebagai kendaraan politik Jokowi dan Kaesang.

Ada Operasi Senyap Memisahkan Prabowo dari Jokowi:

Jika hipotesis ini benar, maka Dasco tengah menjalankan strategi jangka panjang: mende-Jokowisasi Prabowo demi menjaga integritas dan orisinalitas kepemimpinan nasional pasca 2029. Jokowi kini terlalu dekat dengan PSI, bahkan dengan posisi Gibran sebagai wapres, Jokowi berpeluang membentuk kekuatan politik tersendiri yang suatu saat bisa berbenturan langsung dengan Gerindra dan Prabowo. Dasco kemungkinan melihat itu sebagai ancaman potensial.

Selama ini publik melihat Jokowi dan Prabowo seperti dua sahabat politik. Namun, jika ditelusuri lebih dalam, koalisi mereka hanyalah coalition of convenience  alias koalisi yang didasarkan pada kalkulasi jangka pendek. Jokowi mendapatkan stabilitas politik pasca-Pilpres 2019 dengan memasukkan Prabowo ke dalam kabinet, sementara Prabowo memperoleh jalan menuju elektabilitas yang lebih tinggi.

Namun saat ini, Prabowo sudah jadi presiden terpilih. Kepentingan Jokowi berubah. Ia kini harus memikirkan masa depan politik anaknya, Gibran Rakabuming Raka, dan memastikan ada succession line pasca Prabowo. Karena itu, Jokowi akan membangun poros politik baru yang bisa jadi tidak akan sejalan dengan Gerindra.

Sufmi Dasco Ahmad adalah politisi senior yang dikenal sangat berhati-hati namun tegas dalam langkah politiknya. Sebagai Ketua Harian, ia bertugas menjaga soliditas partai sekaligus memastikan Gerindra tidak tergelincir dalam pusaran kekuasaan yang bisa menggerus ideologi dan prinsip dasar partai.

Jika benar Dasco sedang mengarahkan “operasi senyap” untuk menjauhkan Prabowo dari pengaruh politik Jokowi dan PSI, maka ini adalah langkah berani. Artinya, Dasco sudah membaca potensi dominasi politik Jokowi pasca 2029 yang dapat membahayakan posisi Gerindra sebagai poros kekuasaan utama.

Apakah Dasco sedang ‘membangkang’ terhadap Prabowo? Tidak. Ini bukan tentang pembangkangan, tetapi tentang strategi. Seorang ketua harian partai tentu punya tanggung jawab lebih dari sekadar mengikuti kemana arus politik pemimpinnya mengarah. Ia harus menjaga arah, menata ritme, dan sesekali menahan laju jika dinilai berbahaya.

Dengan melakukan manuver senyap, Dasco mencoba menyelamatkan masa depan politik Prabowo dan Gerindra agar tidak dikendalikan sepenuhnya oleh Jokowi dan kroninya. Ia tahu bahwa dalam permainan kekuasaan, terlalu dekat dengan kekuatan yang tengah naik justru bisa membutakan mata terhadap jebakan-jebakan strategis.

Dalam tahun-tahun mendatang, peta politik Indonesia akan sangat bergantung pada bagaimana relasi antara Presiden Prabowo dan mantan Presiden Jokowi berkembang. Jika Prabowo terlalu bergantung pada Jokowi, maka Gerindra akan kehilangan karakter dan kemandiriannya. Namun, jika Prabowo mampu berdiri sendiri — dengan orang-orang seperti Dasco di sekelilingnya — maka akan ada harapan untuk menciptakan kepemimpinan nasional yang lebih berdaulat dan tidak terkooptasi oleh oligarki lama.

Sufmi Dasco Ahmad tampaknya menyadari ini lebih awal dari yang lain. Dan dengan diam-diam, ia sudah mulai menggerakkan bidak di papan catur kekuasaan.

Penulis : Muslim Arbi, Pengamat politik

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *