Pengibaran Bendera One Piece: Pertemuan Simbolik antara Nasionalisme Lama yang Kaku dan Nasionalisme Baru yang Cair

  • Bagikan

MoneyTalk, Jakarta – Ketika bendera Merah Putih dikibarkan berdampingan dengan bendera bajak laut anime, sebagian langsung naik pitam. Sebagian lagi? Ngangguk-ngangguk sambil bilang: “Ini era baru, Bung.”

Satu Tiang, Dua Bendera, Banyak Tafsir

Belum lama ini, viral video anak muda yang mengibarkan bendera Straw Hat Pirates dari One Piece tepat di bawah bendera Merah Putih. Respon publik? Campur aduk. Ada yang tertawa, ada yang geram, dan tentu saja ada yang marah atas nama “kehormatan simbol negara”.

Tapi di luar drama medsos, peristiwa ini menyimpan makna penting: kita sedang menyaksikan pertarungan tafsir simbolik tentang apa itu nasionalisme—antara generasi yang mewarisi nasionalisme sebagai dogma, dan generasi yang membentuknya lewat budaya pop.

Nasionalisme Lama: Simbol Sakral, Ruang Tertutup

Dalam pandangan klasik ala Émile Durkheim, simbol negara seperti bendera adalah “totem” simbol sakral yang menjadi pemersatu kolektif. Ia bukan sekadar kain, tapi manifestasi dari nilai-nilai suci yang tak boleh dilanggar.

Nasionalisme dalam kerangka ini dibentuk lewat institusionalisasi ideologi: sekolah, militer, upacara, dan lagu wajib. Simbol negara adalah milik negara, bukan milik warga. Dan warga “baik” adalah mereka yang patuh pada bentuk ekspresi yang sudah ditentukan negara.

Teori ini berpadu dengan konsep hegemoni Gramsci, bahwa simbol negara menjadi alat ideologis yang mempertahankan kekuasaan. Artinya: siapa boleh bicara atas nama nasionalisme, dan dalam bentuk apa, sudah diatur oleh negara lewat lembaga-lembaga dominan.

Maka ketika muncul bendera fiksi di tiang yang sama, dianggaplah sebagai gangguan karena ia datang dari luar struktur resmi.

Nasionalisme Baru: Identitas Hibrid di Era Budaya Pop

Tapi generasi muda hari ini hidup di realitas yang berbeda. Identitas mereka terbentuk di persimpangan antara lokal dan global. Mereka tumbuh di TikTok, main game online lintas negara, dan belajar soal keadilan sosial dari anime dan YouTube, bukan dari buku paket PPKn.

Masuklah konsep masyarakat cair dari Zygmunt Bauman. Dalam masyarakat cair, struktur sosial tidak lagi kaku. Simbol dan identitas menjadi fleksibel, adaptif, dan bisa dicampuraduk. Termasuk cara mencintai negara.

Dan ketika simbol negara tidak lagi memberi ruang ekspresi bagi generasi baru, mereka akan hijack simbol lain—termasuk dari anime—untuk mewakili nilai yang mereka yakini: kebebasan, solidaritas, mimpi, dan perlawanan terhadap ketidakadilan.

Ruang Simbolik: Dari Monolog Negara ke Dialog Warga

Fenomena ini juga bisa dilihat lewat lensa Pierre Bourdieu, terutama konsep “symbolic capital” dan “field”. Negara selama ini memonopoli otoritas atas simbol bendera, lagu, lambang dan memaksakan makna tunggal lewat lembaga seperti pendidikan dan militer.

Tapi anak muda sekarang menciptakan “ruang simbolik” baru. Mereka masuk ke field yang lain: fandom, komunitas digital, subkultur. Di situ, mereka punya agensi untuk membentuk makna sendiri. Bendera Straw Hat Pirates yang mereka kibarkan adalah simbol alternatif dari nasionalisme versi mereka.

Dengan kata lain, ini bukan sekadar soal anime. Ini soal siapa yang berhak memaknai nasionalisme hari ini.

Glocalization dan Perebutan Tafsir Budaya

Dalam konteks globalisasi, Roland Robertson menawarkan konsep glocalization: ketika budaya global masuk ke lokal dan dilokalisasi sesuai kebutuhan. Budaya pop seperti One Piece masuk ke Indonesia bukan sebagai produk asing murni, tapi dijadikan “bahasa baru” untuk menyuarakan nilai lokal.

Jadi waktu anak muda mengibarkan bendera Luffy bareng Merah Putih, bukan berarti mereka nggak nasionalis. Justru sebaliknya: mereka sedang menulis ulang makna nasionalisme lewat simbol yang mereka pahami dan cintai. Ini bukan benturan budaya, tapi transformasi budaya.

Nasionalisme Tak Lagi Tunggal

Nasionalisme tak bisa lagi hanya dilihat sebagai satu bentuk tunggal. Benedict Anderson pun sejak awal menyebut negara-bangsa sebagai “komunitas terbayang” (imagined community) produk imajinasi kolektif yang dibentuk lewat simbol dan narasi.

Kalau hari ini narasi dan simbol itu bergeser, berarti bentuk nasionalismenya juga berubah. Nasionalisme baru tidak datang dari negara ke warga, tapi dari warga ke negara.

Nasionalisme, Kini dan Nanti

Apa yang ditunjukkan oleh bendera One Piece yang berkibar di bawah Merah Putih bukan tindakan makar, tapi sinyal zaman.

Anak muda sedang bilang: “Kami cinta negeri ini, tapi dengan cara kami sendiri. Jangan paksa kami mengekspresikannya seperti dulu, karena dunia sudah berubah.”

Dan mungkin, daripada sibuk melarang, kita perlu mulai mendengar. Karena nasionalisme tak pernah beku. Ia hidup, berubah, dan harus terus diperjuangkan meski kadang bentuknya agak… bajak laut.

Penulis :

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *