MoneyTalk, Jakarta – Air bersih itu bukan cuma soal kebutuhan sehari-hari, tapi jadi fondasi utama kesehatan warga. Bayangin aja, dari minum, mandi, sampai masak, semuanya butuh air yang aman. Kalau airnya kotor atau nggak layak, risiko penyakit langsung meningkat diare, hepatitis A, bahkan stunting pada anak bisa muncul gara-gara masalah sepele: air.
Jakarta sendiri punya tantangan besar soal ini. Penduduk terus bertambah, kualitas air tanah makin turun, ditambah lagi polusi di mana-mana. Nah, di sinilah PAM Jaya berperan penting. Tugas mereka bukan sekadar ngalirin air ke rumah warga, tapi juga memastikan kualitas airnya bener-bener layak buat dipakai. Dengan teknologi pengolahan modern, air sungai yang tadinya jauh dari kata “sehat” bisa berubah jadi air bersih siap pakai buat jutaan orang Jakarta.
Kalau mau bandingin, kita bisa lihat pengalaman Manila, Filipina. Kota itu pernah krisis air parah di tahun 90-an. Akhirnya pemerintah berbenah total: nambah jaringan pipa, perbaiki sistem pengolahan, dan buka ruang kolaborasi dengan swasta. Hasilnya, pelayanan air di Manila jauh lebih stabil dan lebih banyak warga yang akhirnya bisa akses air bersih. Memang caranya beda dengan Jakarta, tapi pesannya sama: air harus jadi prioritas nomor satu kalau mau warga sehat.
Belajar dari sana, Jakarta juga butuh dorongan lebih. Nggak cuma soal bangun pipa atau instalasi, tapi juga bagaimana ngatur tata kelola air dengan transparan, bikin distribusi lebih efisien, dan ngajak masyarakat beralih dari air tanah ke air perpipaan. Soalnya, makin lama kita bergantung sama air tanah, makin cepet juga tanah Jakarta turun.
Air bersih itu sebenarnya bukan sekadar infrastruktur, tapi juga bagian dari peradaban kota. Kalau kita bisa jamin ketersediaannya, berarti kita lagi jaga kesehatan warga, masa depan generasi, dan kelayakan hidup Jakarta sebagai ibu kota. Dalam hal ini, PAM Jaya jadi garda depan yang memastikan fondasi kesehatan warga tetap kokoh.
Penulis : Agung Nugroho, direktur Jakarta Institute.




