Pemerintahan Prabowo Akan Terus Digoyang Asing, Indonesia Jadi Rebutan Dua Godzilla Dunia

  • Bagikan
Pernyataan Sikap dan Tuntutan Forum Nasional untuk Daulat Rakyat
Pernyataan Sikap dan Tuntutan Forum Nasional untuk Daulat Rakyat

MoneyTalk, Jakarta – Pernyataan tajam datang dari Ulta Lavenia, peneliti kontra-terorisme dan keamanan internasional, dalam podcast yang ditayangkan di kanal YouTube LJR5 Fajar Aditya pada Sabtu (20/09). Ulta menilai, pemerintahan Presiden Prabowo tidak akan pernah lepas dari ancaman dan intervensi asing karena posisi strategis Indonesia di peta geopolitik global.

“Aku bisa bilang asing akan terus berupaya menggoyang pemerintahan Pak Prabowo. Karena dalam politik internasional, Indonesia ini seksi banget di mata dua kekuatan dunia,” tegas Ulta.

Indonesia Jadi Rebutan Dua Poros Global

Ulta menyebut Indonesia berada di tengah persaingan dua blok raksasa: AS–NATO–AUKUS dengan Cina–Rusia–BRICS.

Amerika dan sekutunya mendorong proteksionisme serta memaksa negara-negara lain tunduk pada aturan perdagangan yang berat sebelah.

Sementara Cina–Rusia menawarkan pembangunan ekonomi, investasi infrastruktur, hingga pengembangan nuklir sipil.

“Pak Prabowo dekat dengan BRICS karena dianggap lebih fair, tidak memakai standar ganda seperti Barat. Tapi itu membuat pihak lain iri dan ingin melemahkan posisi Indonesia,” jelasnya.

BRICS vs IMF: Jalan Baru Ekonomi Global

Ulta juga menyinggung soal pendirian bank BRICS yang diproyeksikan menyaingi IMF. Baginya, hal ini bisa menjadi peluang sekaligus ancaman.

Keuntungan: akses pembangunan tanpa syarat privatisasi dan liberalisasi yang selama ini membebani negara berkembang.

Kerugian: Indonesia akan lebih sering diganggu karena dianggap keluar dari orbit Barat.

Ancaman Intelijen dan Color Revolution

Menurut Ulta, skenario “menggoyang” pemerintahan Prabowo bisa terjadi lewat operasi intelijen maupun Color Revolution istilah untuk operasi rahasia CIA dalam menjatuhkan rezim.

“Revolusi warna lebih murah daripada invasi militer. Mereka bisa pakai simbol, bahkan budaya populer. Yang penting tujuannya: rezim change dan menciptakan pemerintah boneka,” ujarnya.

Ulta menilai demonstrasi di Indonesia pun tidak bisa dilepaskan dari kemungkinan infiltrasi asing. Big data yang dianalisis oleh timnya, 09 Strategic Center, menunjukkan adanya pola keterlibatan pihak luar di media sosial maupun lapangan.

Indonesia di Persimpangan Perang Dunia III

Ulta bahkan mengingatkan potensi pecahnya Perang Dunia III di Laut Cina Selatan.

Taiwan menjadi titik rawan: jika diserang Cina, Amerika pasti akan turun tangan. Posisi Indonesia yang berada di jalur strategis akan membuat negeri ini tidak bisa netral sepenuhnya.

“Kalau pecah perang, jangan lupa ada 300 ribu WNI di Taiwan. Jumlahnya setara seluruh pasukan TNI AD. Evakuasi mereka itu bukan hal sederhana,” jelas Ulta.

Ancaman dari Dalam Negeri

Selain tekanan eksternal, Ulta juga menyoroti lemahnya sistem keamanan di dalam negeri:

Masih ada retakan internal di pemerintahan.Intelijen belum sepenuhnya kuat dalam melindungi Presiden maupun negara. Propaganda untuk membenturkan TNI dengan Polri atau rakyat dinilai berbahaya karena melemahkan pertahanan nasional.

Meski ancaman besar terus membayangi, Ulta optimistis bahwa strategi politik bebas aktif Indonesia masih bisa menjaga keseimbangan.

“Politik internasional itu seni. Kita nonblok, politik bebas aktif. Tapi tetap saja, asing akan terus berupaya. Maka Prabowo harus dikelilingi orang-orang yang paham seni berpolitik internasional dan loyal pada NKRI,” pungkasnya.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *