MoneyTalk,Jakarta – Guru besar dan pendiri Rumah Perubahan, Prof. Renaldi Kasali, kembali menyita perhatian publik lewat narasinya di kanal YouTube Renaldi Kasali Official yang tayang pada Minggu (5/10). Dalam video bertajuk reflektif itu, Renaldi menyoroti secara tajam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tengah menuai kontroversi akibat sejumlah kasus keracunan massal di berbagai daerah.
“Selama berminggu-minggu kita hanya habis membicarakan ijazah mantan presiden dan anaknya. Tapi begitu muncul kasus makan bergizi gratis, tiba-tiba semua beralih bicara tentang keracunan. Bahkan cucu saya juga kena. Satu kelas di Jogja muntah-muntah,” ujar Renaldi membuka dengan nada prihatin.
Kasus yang viral di media sosial, lanjutnya, bukan sekadar soal ulat di nasi atau sayur di SMK Jambi, tetapi cerminan dari lemahnya pengawasan dan minimnya perencanaan. Menurutnya, program MBG yang semula dimaksudkan untuk memberi keadilan gizi bagi anak-anak sekolah justru menimbulkan potensi bahaya baru mulai dari sampah makanan yang mencapai 425–850 ton per hari, hingga munculnya praktik bisnis terselubung di balik proyek sosial.
“Tujuannya mulia, tapi jangan dibisniskan. Kalau ini proyek sosial, jangan ada motif keuntungan. Tapi kalau mau dijadikan bisnis, ya jangan pakai uang rakyat,” tegasnya.
Renaldi mengungkap keresahan publik yang mulai mempertanyakan kompetensi pimpinan Badan Gizi Nasional (BGN) yang dikabarkan berlatar belakang entomologi, bukan gizi.
“Dari pemimpinnya saja bukan ahli gizi. Maka tak heran publik gelisah. Ini soal anak-anak, bukan soal serangga,” sindirnya pedas.
Ia kemudian membandingkan implementasi program serupa di luar negeri. Jepang dan Korea, katanya, telah menjalankan program makan sehat sejak tahun 1950-an dengan pendekatan pendidikan, kebersihan, dan partisipasi masyarakat.
“Anak-anak di Jepang dilatih membersihkan kelas, memasak, bahkan menanam sayuran sendiri. Jadi, program gizi di sana bukan sekadar makan gratis, tapi membangun karakter dan kesadaran,” paparnya.
Sementara di Indonesia, kata Renaldi, pelaksanaannya terlalu tergesa-gesa, tanpa bukti ilmiah yang kuat (evidence-based policy).
“Kita ingin hasil besar dalam waktu cepat, padahal dasar ilmiahnya belum ada. Ini yang dikhawatirkan para akademisi,” ungkapnya.
Ia juga menyoroti praktik penunjukan dapur MBG yang kental nuansa bisnis.
“Saya dengar di lapangan ada yang bilang, ‘Bapak mau pegang satu dapur 3.500 orang? Siapkan saja Rp2 miliar, Rp4 miliar.’ Ini sudah jadi bisnis. Padahal uangnya uang rakyat,” katanya.
Menurut Renaldi, program seperti MBG tak bisa diserahkan pada logika proyek instan. Ia menegaskan pentingnya tiga prioritas utama:
1. Keamanan pangan, Dapur harus higienis dan diawasi ketat.
2. Standar nutrisi yang jelas,Menu harus sesuai kebutuhan usia anak.
3. Profesionalisme staf,Kokinya harus terlatih dan paham gizi.
Selain itu, Renaldi memaparkan 10 langkah perbaikan yang perlu segera dilakukan pemerintah, mulai dari transparansi anggaran, partisipasi masyarakat lokal, pengawasan independen, hingga uji coba terbatas (pilot project) di daerah tertentu sebelum program dijalankan nasional.
“Jangan paksakan seragam di seluruh Indonesia. Makanan di Jember beda dengan di Padang. Ada anak dikasih spageti, ada yang dikasih salad — padahal mereka tak kenal itu. Akhirnya tidak dimakan dan basi,” ujarnya memberi contoh.
Dengan gaya bercerita khasnya, Renaldi bahkan menyinggung pengalamannya memberi pizza kepada para pekerja bangunan 15 tahun lalu.
“Saya pikir mereka senang, ternyata ditinggal. Mereka tak kenal makanan itu. Begitu juga anak-anak kita. Jangan paksakan selera kota ke daerah,” katanya sambil tersenyum getir.
Di dalam narasinya, Renaldi menyerukan agar pemerintah kembali ke niat awal program: membangun generasi sehat, bukan proyek politik atau bisnis terselubung.
“Kalau 1% anak keracunan, jangan bilang kecil. Itu nyawa manusia. Kita harus berani evaluasi, jangan menutup mata,” tegasnya.
“Mari kita jadikan kritik ini bukan untuk menjatuhkan pemerintah, tapi untuk memperbaiki bangsa. Karena uang yang dipakai adalah uang kita semua.”
Renaldi dengan kalimat reflektif khasnya:
“Stay relevan. Karena bangsa besar bukan yang banyak program, tapi yang belajar dari kesalahannya.”





