Kekayaan Menguap, Kapitalis Menelanjangi Diri

  • Bagikan

MoneyTalk, Jakarta – “Dalam sehari, kekayaan konglomerat Prajogo Pangestu menyusut lebih dari US$2,7 miliar setara Rp44,9 triliun. Kejadian ini bukan sekadar drama bursa saham, tapi potret telanjang rapuhnya sistem ekonomi kapitalistik yang menuhankan pasar dan meminggirkan manusia. Sementara angka-angka berjatuhan di layar bursa, jutaan rakyat terus bergulat dengan biaya hidup yang melonjak.”

Kekayaan super-konglomerat yang bisa lenyap miliaran dolar hanya dalam 24 jam menegaskan sistem ekonomi modern tidak dibangun di atas produktivitas riil, tetapi pada ilusi nilai kertas dan psikologi pasar. Ketika harga saham jatuh, bukan hanya portofolio yang anjlok. Tetapi juga kepercayaan terhadap sistem yang katanya “efisien”. Padahal, efisiensi macam apa yang bisa meniadakan nilai triliunan rupiah dalam sekejap, tanpa satu pun pabrik berhenti beroperasi?

Bursa saham adalah cermin nyata ketimpangan struktural. Di tangan segelintir elit, kekayaan menjadi senjata, bukan amanah. Mereka bisa mengendalikan kapital, menentukan arah ekonomi, bahkan memengaruhi kebijakan publik. Sementara rakyat kecil, yang hidupnya bergantung pada stabilitas harga kebutuhan pokok, menanggung akibat paling pahit dari setiap guncangan pasar. Itulah wajah asli kapitalisme finansial. Keuntungan diprivatisasi, kerugian disosialisasikan.

Islam memandang harta bukan sebagai milik mutlak individu, melainkan titipan Allah yang harus dimanfaatkan demi kemaslahatan umat (QS An Nur 33). Karena itu, Islam menolak sistem ekonomi berbasis spekulasi yang membuat uang “beranak” tanpa aktivitas produktif. Rasulullah ﷺ bersabda dalam riwayat Al Hakim, “Jika riba dan zina telah tampak di suatu negeri, maka sungguh mereka telah menghalalkan diri mereka terhadap azab Allah.” Dalam konteks modern, mekanisme pasar modal yang didominasi spekulasi merupakan bentuk riba terselubung yang dilegalkan negara.

Dalam sistem ekonomi Islam, krisis seperti yang menimpa konglomerat besar tak akan menular secara destruktif ke masyarakat. Sebab, Islam menutup pintu spekulasi (maysir) dan transaksi berbasis ketidakpastian (gharar). Aset riil menjadi dasar seluruh kegiatan ekonomi, bukan sekadar angka di layar. Distribusi harta pun dijaga melalui zakat, infaq, sedekah dan wakaf produktif yang bersifat wajib sosial, bukan pilihan moral. Dengan begitu, kekayaan tidak menumpuk di tangan segelintir orang (QS Al Hasyr 7).

Solusi Islam, Rekonstruksi Sistemik

Pertama, perlu diterapkan pemisahan antara sektor finansial spekulatif dan sektor riil. Bursa saham berbasis margin, penjualan semu (short selling) dan derivatif harus dihapus, diganti dengan skema investasi berbasis bagi hasil (mudharabah-musyarakah).

Kedua, penerapan zakat korporasi dan wakaf produktif wajib dilakukan perusahaan besar, agar keuntungannya mengalir kembali kepada masyarakat, bukan sekadar pemegang saham.

Ketiga, negara harus memegang kendali atas sumber daya strategis seperti energi, tambang, dan hutan. Bukan diserahkan kepada konglomerasi swasta. Karena dalam Islam, kepemilikan umum tidak boleh dikomersialisasi (HR Abu Dawud).

Di sinilah letak kebangkitan paradigma Islam. Bukan sekadar mengganti aktor ekonomi, tetapi mengganti sistem nilai yang melandasinya. Kapitalisme telah gagal melindungi manusia dari kerakusan dan ketimpangan. Islam menawarkan sistem ekonomi yang adil, stabil dan berorientasi pada kemaslahatan umat. Bukan kepentingan segelintir pemilik modal.

Kekayaan yang menguap dalam semalam hanyalah gejala. Penyakit utamanya adalah sistem yang membiarkan kekuasaan uang mendikte hidup manusia. Selama pasar tetap menjadi “tuhan” dalam ekonomi, rakyat akan terus menjadi korban. Saatnya kembali pada syariah, bukan sekadar sebagai etika bisnis. Tapi sebagai sistem hidup yang menegakkan keadilan hakiki.

Penulis : Amrullah Andi Faisal, Kolumnis Publik di Sinjai

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *