MoneyTalk, Jakarta – Kasus dugaan arogansi dua oknum aparat TNI dan Polri di Polsek Kemayoran Jakarta Pusat kembali melukai rasa keadilan publik. Seorang penjual es jadul menjadi korban tudingan sepihak, dituduh menjual makanan berbahan berbahaya tanpa dasar bukti yang jelas. Peristiwa tersebut viral di media sosial dan memicu kecaman luas dari masyarakat.
Dalam video yang beredar, tampak dua oknum aparat bersikap keras dan tidak profesional terhadap pedagang kecil tersebut. Tuduhan yang dilontarkan belakangan terbukti keliru setelah hasil uji laboratorium memastikan es jadul yang dijual aman dan layak konsumsi.
Fakta ini justru memperparah kemarahan publik. Banyak pihak menilai tindakan aparat tersebut mencerminkan sikap arogan, penggunaan asumsi berlebihan, serta minimnya sensitivitas terhadap rakyat kecil.
“Bagaimana mungkin aparat bisa melindungi rakyat jika masih bertindak berdasarkan asumsi dan arogansi?” tulis salah satu warganet.
Tak hanya penjual es jadul yang merasa dirugikan, kekecewaan juga datang dari kalangan jurnalis dan masyarakat luas. Netizen menyoroti ketidakmampuan oknum aparat membedakan antara wartawan dan pelaku kejahatan di lapangan, yang dinilai mencerminkan lemahnya profesionalisme.
Meski aparat terkait akhirnya mengakui kesalahan dan menyampaikan permintaan maaf, publik menilai hal itu belum cukup untuk memulihkan harga diri korban yang telah dipermalukan di hadapan umum.
“Apakah harga diri rakyat kecil bisa ditebus hanya dengan permintaan maaf?” tulis komentar lain yang ramai disukai warganet.
Kasus ini kembali memantik diskursus soal pentingnya pendidikan moral Pancasila, etika kekuasaan, serta reformasi sikap aparat dalam melayani masyarakat. Banyak pihak menegaskan bahwa rakyat tidak membutuhkan aparat yang arogan, melainkan aparat yang hadir memberikan perlindungan dan keadilan.
Peristiwa di Kemayoran ini menjadi pengingat keras bahwa kewenangan berseragam bukanlah alat untuk menghakimi, melainkan amanah untuk melindungi. Tanpa profesionalisme dan empati, kepercayaan publik terhadap institusi negara akan terus tergerus.

