MoneyTalk, Jakarta – Forum Aksi, organisasi kemasyarakatan yang menghimpun alumni kampus dari seluruh Indonesia, terus memperluas aksi kemanusiaannya di wilayah terdampak bencana Aceh. Kali ini, Forum Aksi menyasar Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah, dua daerah yang mengalami kerusakan cukup parah akibat bencana banjir bandang pada periode 16 hingga 22 Januari 2026 lalu.
Dalam misi kemanusiaan tersebut, Forum Aksi menyalurkan bantuan berupa dua ton beras, bahan makanan, obat-obatan, serta 300 mushaf Al-Qur’an untuk masyarakat terdampak. Bantuan kesehatan diserahkan langsung ke Posko Kesehatan di Bener Meriah, diterima oleh drg. Indah Koswara dari Puskesmas Kecamatan Pantang Kemuning.
Selain mendistribusikan 1,5 ton bahan pangan yang diterbangkan dari Jakarta, Forum Aksi juga membeli satu ton beras dari pasar lokal di Takengon, Aceh Tengah, sebagai bentuk dukungan terhadap perekonomian setempat sekaligus memastikan distribusi bantuan berjalan cepat.
Presidium Forum Aksi, Dr. Nuning D Nova, mengungkapkan keprihatinannya atas luasnya dampak bencana yang mereka temui di lapangan. Menurutnya, penderitaan masyarakat tidak hanya dirasakan di dua kabupaten tersebut, tetapi meluas hingga sekitar 20 kabupaten di seluruh Provinsi Aceh.
“Sedih membayangkan betapa berat penderitaan masyarakat terdampak. Bantuan sosial yang kami bawa ini masih jauh dari cukup jika dibandingkan dengan kebutuhan riil warga,” ujar Dr. Nuning usai menyerahkan bantuan obat-obatan di Posko Kesehatan Bener Meriah.
Ia menjelaskan, Aceh Tengah dan Bener Meriah mengalami kerusakan signifikan karena letaknya di kawasan kaki Pegunungan Gayo, bagian dari rangkaian Pegunungan Bukit Barisan, yang sangat rentan terhadap banjir bandang dan longsor.
Melihat besarnya jumlah warga terdampak, Dr. Nuning menghimbau Kementerian Kesehatan untuk mempercepat program pemulihan pascabencana, terutama dengan meningkatkan pasokan obat-obatan, vitamin, serta layanan rehabilitasi sosial dan program healing bagi anak-anak korban bencana.
Tak hanya itu, Forum Aksi juga mendesak percepatan pembangunan Hunian Sementara (Huntara) di seluruh kabupaten terdampak, mencontoh langkah yang telah dilakukan di Aceh Tamiang.
“Sudah hampir dua bulan warga masih tinggal di tenda-tenda BNPB. Sulit membayangkan puluhan ribu ibu, anak-anak, dan lansia bertahan di tenda yang pengap dan rentan penyakit,” tegasnya.
Dr. Nuning juga menekankan pentingnya peran pemerintah dalam mempercepat perbaikan infrastruktur dasar, mulai dari pemulihan jaringan listrik hingga pembangunan ribuan titik sumur bor di desa-desa terdampak di seluruh Aceh.
Selain Aceh Tamiang, ia menyebut wilayah lain dengan tingkat kerusakan besar antara lain Aceh Tengah, Bener Meriah, Aceh Utara, Pidie, dan Bireuen. Menurutnya, penanganan bencana di Aceh membutuhkan langkah terpadu lintas kementerian agar pemulihan berjalan cepat dan masyarakat dapat kembali hidup dengan layak.

