MoneyTalk.id, Jakarta – Pengamat Politik dan Kebangsaan, Erizal, menilai kemunculan Wakil Ketua BEM UI 2026, Fathimah Azzahra, menjadi fenomena baru di ruang publik setelah sebelumnya perhatian masyarakat tertuju kepada aktivis mahasiswa Tyo Ardianto.
Menurut Erizal, Fathimah Azzahra tengah menjadi sorotan publik berkat kemampuan orasi dan argumentasinya yang dinilai cerdas serta bernas. Namanya melesat setelah video orasinya di Bundaran HI beredar luas di media sosial dan penampilannya dalam diskusi di salah satu televisi nasional mendapat perhatian masyarakat.
“Fathimah muncul karena kualitas gagasan dan cara penyampaiannya yang dinilai matang. Berbeda dengan Tyo Ardianto yang sebelumnya menjadi sorotan karena sejumlah pernyataan kontroversial,” kata Erizal dalam keterangannya, Jum’at 19/6/2026.
Erizal menjelaskan, Fathimah merupakan mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia angkatan 2023 yang saat ini berada pada masa studi yang dinilai ideal untuk menjalankan aktivitas akademik sekaligus organisasi kemahasiswaan.
Menurutnya, posisi Fathimah sebagai mahasiswa aktif sekaligus Wakil Ketua BEM UI menunjukkan keseimbangan antara prestasi akademik dan aktivitas kemahasiswaan yang tidak mudah dicapai banyak mahasiswa.
“Fathimah masih berada dalam fase studi yang sangat relevan dengan aktivitas organisasinya. Ini menjadi contoh bahwa dunia akademik dan aktivisme kampus dapat berjalan beriringan,” ujarnya.
Erizal juga menyoroti besarnya perhatian publik terhadap sosok Fathimah. Menurutnya, kombinasi kecerdasan, kemampuan komunikasi, dan penampilan yang menarik membuat namanya cepat dikenal masyarakat luas.
Meski demikian, ia mengingatkan agar popularitas yang sedang diraih tidak mengubah cara Fathimah dalam menyampaikan kritik kepada pemerintah.
Secara substansi, kata Erizal, sejumlah pandangan yang disampaikan Fathimah memiliki kemiripan dengan kritik yang selama ini disuarakan Tyo Ardianto, seperti soal komunikasi pemerintah, efektivitas program-program negara, hingga isu kedaulatan nasional.
Namun demikian, ia menilai terdapat perbedaan mendasar dalam cara penyampaian keduanya.
“Narasinya bisa jadi memiliki kesamaan, tetapi gaya komunikasi dan pilihan diksi yang digunakan berbeda. Kritik yang disampaikan Fathimah lebih argumentatif dan terukur,” jelasnya.
Erizal juga menyinggung informasi yang beredar mengenai dugaan intimidasi atau teror yang disebut dialami Fathimah dan keluarganya. Ia berharap persoalan tersebut dapat diklarifikasi secara objektif dan tidak langsung dikaitkan dengan pihak tertentu tanpa bukti yang jelas.
Lebih lanjut, Erizal menegaskan bahwa kritik terhadap pemerintah merupakan bagian dari kehidupan demokrasi yang sehat. Namun, menurutnya, kritik sebaiknya tetap disampaikan dengan etika, penghormatan, dan argumentasi yang kuat.
“Perbedaan pandangan politik adalah hal yang wajar dalam demokrasi. Yang penting adalah menjaga kualitas diskursus publik agar tetap bermartabat dan membangun,” pungkasnya.



