MoneyTalk.id,Jakarta – Tantangan dan sayembara Menteri Pekerjaan Umum (PU), Dody Hanggodo kepada wartawan dan publik memancing polemik. Pasalnya politisi dari Partai Demokrat ini memberikan hadiah berupa umroh bersama keluarga bagi siapa saja yang bisa membuktikan nepotisme dalam keluarga Dody Hanggodo.
Pernyataan tersebut disampaikan langsung oleh Dody di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, setelah ia dicegat oleh awak media.
Tantangan yang diberikan Menteri PU Dody Hanggodo disebabkan pengangkatan Aisyah Zakkiyahme jadi komisaris PT Pembangunan Perumahan (PTPP) Tbk. Aisyah disebut-sebut sebagai keponakan dari Dody Hanggodo.
”Gue kasih sayembara kalau lu bisa buktikan. Gue kasih lu umrah sekeluarga lu semua,” kata Dody Hanggodo kepada wartawan di komplek Istana, Jakarta, Jumat, 17 Juli.
Dody memberikan tenggat waktu selama satu bulan bagi siapa pun untuk membawa bukti sah mengenai hubungan kekerabatan tersebut. Ketika wartawan terus mendesak jawaban apakah Aisyah benar-benar keponakannya atau bukan, Dody enggan menjawab secara gamblang dan hanya berseloroh, “Lu pikir sendiri dah.”
Direktur Center for Budget Analysis (CBA), Uchok Sky Khadafi menilai pernyataan dari Dody Hanggodo terkesan arogan dan sombong. Uchok mengingatkan Dody Hanggodo untuk tidak perlu merasa lebih” tinggi ” dibandingkan yang lain.
”Dody Hanggodo tidak perlu lontarkan pernyataan arogan dan sombong seperti itu kepada publik. Dikhawatirkan saat jatuh akan sangat sakit jika terlalu tinggi hati,” kata Uchok sky.
Uchok menambahkan saat ini pihaknya sedang meminta Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk secepatnya memeriksa Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo terkait penggunaan jet pribadi dalam agenda perjalanan dinas. Menurutnya, penggunaan pesawat tersebut perlu dijelaskan kepada publik, terutama di tengah kebijakan efisiensi anggaran yang menjadi arahan Presiden Prabowo Subianto.
”Jika benar Menteri PU menggunakan jet pribadi, maka publik berhak mengetahui siapa yang membiayai penerbangan tersebut, apakah menggunakan APBN, pihak ketiga, atau fasilitas lainnya. Semua itu harus dijelaskan secara terbuka,” kata Uchok dalam keterangannya, Jumat, 17 Juli.
Uchok menyebut pesawat yang digunakan memiliki registrasi PK-CCA, yang diketahui merupakan pesawat jenis Cessna Model 700 Citation Longitude, sebuah jet bisnis kategori super midsize yang lazim digunakan untuk penerbangan eksekutif.
”Di saat pemerintah sedang mengampanyekan efisiensi belanja negara, penggunaan jet pribadi tentu akan memunculkan pertanyaan publik mengenai konsistensi pelaksanaan kebijakan tersebut,” ujarnya.





