Dosen UI Soroti Pemerintahan Jokowi dan Prabowo: Oligarki Dinilai Makin Kuat

  • Bagikan

MoneyTalk.id, Jakarta – Dosen Universitas Indonesia (UI) Suzie Sudarman menyoroti kondisi demokrasi dan pemerintahan di Indonesia, termasuk era pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Presiden Prabowo Subianto.

Pernyataan tersebut disampaikan Suzie saat membahas aksi unjuk rasa mahasiswa yang digelar sehari setelah peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI. Dalam kesempatan itu, ia menyebut mahasiswa memiliki peran penting dalam menyuarakan kepentingan masyarakat.

Menurut Suzie, aksi mahasiswa merupakan bentuk perlawanan terhadap kondisi yang dinilai tidak ideal, khususnya terkait kebebasan menyampaikan pendapat.

“Sekarang hampir semua dibungkam. TV-TV nasional sudah didanai oleh Gerindra,” kata Suzie dalam perbincangan yang dikutip dari tayangan kanal Madilog, Kamis (20/8/2026).

Ia menilai kampus dan mahasiswa masih memiliki ruang untuk menyampaikan kritik serta memberikan gagasan kepada masyarakat luas.

“Hanya universitaslah dengan kekuatan-kekuatan mudanya yang bisa memberikan ilham. Mudah-mudahan itu menginspirasi seluruh negeri,” ujarnya.

Suzie juga menyoroti tuntutan mahasiswa UI yang menurutnya berkaitan dengan apa yang ia sebut sebagai “penjajahan negara terhadap rakyat”.

Ia menilai persoalan oligarki telah berkembang dalam sistem politik dan ekonomi Indonesia.

“Oligarki itu sendiri hidup sempurna di bawah pemerintahan Jokowi. Jadi penjajahan negara terhadap rakyat itu sudah terjadi di era Jokowi,” katanya.

Suzie kemudian membandingkan kondisi kekerasan politik pada sejumlah periode pemerintahan. Menurut dia, kekerasan pada era Jokowi tidak selalu terlihat dalam bentuk ekstrem, tetapi tetap terdapat sejumlah kasus yang menurutnya perlu mendapatkan perhatian.

Dalam kesempatan yang sama, Suzie juga mengkritik arah kebijakan pemerintahan Prabowo, terutama dalam menjalin hubungan dengan kekuatan global.

Ia menyebut Prabowo perlu berhati-hati dalam menentukan mitra strategis Indonesia, termasuk dalam hubungan dengan Amerika Serikat dan China.

“Kalau Pak Prabowo khilaf dalam menentukan sahabat, yaitu sahabat Amerika,” ujar Suzie.

Suzie kemudian menyampaikan pandangannya mengenai Zionisme dan hubungan internasional dengan menggunakan sejumlah istilah serta tudingan yang kontroversial.

Ia juga mengaitkan persoalan investasi dan industri smelter di Batam dengan kelompok yang disebutnya berkaitan dengan keluarga Rothschild.

Lebih jauh, Suzie menyimpulkan bahwa terdapat perbedaan sekaligus kesinambungan persoalan antara pemerintahan Jokowi dan Prabowo.

“Kalau kita lihat cara Pak Prabowo dengan Pak Jokowi, Pak Jokowi sudah berpikir jahat. Pak Prabowo yang pada dasarnya juga ada kejahatan paralel secara berkelindan untuk menciptakan keadaan yang sangat tidak normal,” katanya.

Suzie juga menegaskan bahwa keterlibatan mahasiswa dalam menyampaikan kritik terhadap pemerintah merupakan bagian dari fungsi sosial perguruan tinggi.

Menurutnya, mahasiswa tidak seharusnya hanya menjadi kelompok yang menerima kebijakan pemerintah, tetapi juga memiliki tanggung jawab moral untuk menyampaikan suara masyarakat ketika menemukan persoalan dalam penyelenggaraan negara.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *