MoneyTalk, Jakarta – Gelombang protes dari kelompok yang menamakan diri “100 Ekonom” belakangan ini menjadi sorotan publik. Mereka menuding kebijakan ekonomi pemerintah di bawah Presiden Prabowo Subianto terlalu agresif dan tidak ramah terhadap dunia usaha.
Namun menurut Kun Nurachadijat, Ekonom Universitas Indonesia (UI), ketakutan para ekonom itu justru menunjukkan satu hal penting: mereka hidup dari sistem lama yang kini sedang dibersihkan.
“Mereka itu bukan takut karena kebijakan Purbaya salah. Mereka takut karena sumber kenyamanan mereka yang lahir dari inefisiensi dan rente ekonomi sekarang mulai hilang,” tegas Kun dalam Podcast Madilog, yang tayang di kanal Forum Keadilan TV, Kamis (30/10).
Era Baru: Ekonomi Efisien dan Transparan
Kun memuji langkah Purbaya Yudhi Sadewa seperti Menteri Koordinator Bidang Ekonomi dan Keuangan (Menko Ekuin), sebagai arsitek utama reformasi ekonomi yang tegas, sistematis, dan berbasis data.
“Purbaya itu kayak dokter robot. Tidak kenal kompromi. Semua yang salah langsung disikat,” ujarnya.
Menurut Kun, selama puluhan tahun, ekonomi Indonesia dikuasai oleh kelompok yang hidup dari kebocoran, inefisiensi, dan sistem rente. Mereka membangun jaringan kekuasaan yang menguntungkan diri sendiri dengan mengorbankan rakyat kecil.
“Ada kelompok yang nyaman di situ. Mereka membangun reputasi akademik, posisi komisaris, dan proyek dari sistem lama. Nah, sekarang mereka mulai gelisah,” tambahnya.
Gebrakan Prabowo–Purbaya: Efisiensi Dulu, Utang Bisa Belakangan
Kun menilai duet Prabowo–Purbaya tengah melakukan operasi besar-besaran terhadap tubuh ekonomi nasional yang “penuh lemak”.
Bukan dengan pencitraan, tapi melalui efisiensi struktural dan disiplin fiskal.
“Kalau pemerintah sibuk pencitraan, ya bubar. Prabowo dan Purbaya sedang berbenah. Efisiensi dulu, nanti utang bisa beres dengan sendirinya,” ujar Kun.
Ia menegaskan, fokus utama saat ini bukan melunasi utang secepatnya, tapi memperbaiki cara kerja negara agar tidak terus bocor dan boros.
“Kalau efisiensi ditegakkan, kebocoran 30% yang dulu dianggap normal bisa ditekan sampai nol,” jelasnya.
MBG, Efisiensi, dan Musuh di Dalam Sistem
Salah satu contoh konkret dari upaya efisiensi itu, menurut Kun, adalah penertiban program MBG (Makanan Bergizi) senilai Rp.70 triliun.
“Konsepnya luar biasa, tapi pelaksanaannya amburadul. Ada yang malah bikin pizza dan roti. Purbaya turun tangan bukan karena anti-program sosial, tapi karena ingin memastikan uang rakyat benar-benar sampai ke anak-anak,” ujarnya.
Kun menegaskan, langkah berani itu membuat banyak pihak panas.
“Yang hidup dari inefisiensi pasti terganggu. Mereka takut kehilangan sumber rezeki dari sistem lama.”
100 Ekonom, Tapi Siapa yang Mereka Bela?
Kun mempertanyakan motif di balik munculnya kelompok “100 Ekonom” yang ramai di media.
“Kalau mereka benar-benar ekonom, seharusnya mendukung transparansi dan efisiensi. Tapi kenapa justru takut ketika sistem boros dibongkar?” sindirnya.
Ia menilai banyak dari mereka selama ini menikmati posisi nyaman sebagai konsultan, penasihat, atau bagian dari sistem rente yang tidak produktif.
“Uang berputar di bursa dan proyek kertas, tapi tukang bakso enggak kebagian pembeli. Ini bukan ekonomi rakyat, ini ekonomi rente. Purbaya sedang memutus mata rantainya,” ujar Kun.
Reformasi Ekonomi Prabowo: Dari Dokter ke Manajer Bangsa
Kun juga menyerukan agar Presiden Prabowo menjadi kepala pemerintahan yang manajerial, bukan sekadar kepala negara.
“Setiap Menko dan kementerian harus punya KPI yang jelas. Kinerja harus terukur. Kalau enggak bisa kerja, ya out,” katanya.
Ia juga menyoroti posisi wakil menteri yang dinilai hanya memperpanjang birokrasi.
“Sudah ada sekjen dan dirjen. Ngapain tambah wakil menteri? Itu simbol inefisiensi. Purbaya benar kalau menolak tambah kursi kosong yang hanya buang anggaran,” tegasnya.
Purbaya Si Laron: Siap Terbakar Demi Terang Bangsa
Di akhir wawancaranya, Kun menutup dengan metafora tajam:
“Kalau kata Konfusius, jadilah seperti laron. Kalau sudah melihat cahaya, terbanglah ke sana walau terbakar. Kalau memang jalanmu adalah membawa terang, ya all out.”
Bagi Kun, reformasi ekonomi Prabowo–Purbaya adalah langkah berani untuk menyalakan terang dalam kegelapan ekonomi rente yang sudah terlalu lama bercokol.
“Yang hidup dari kegelapan pasti menjerit, karena cahaya itu menyakitkan bagi mereka,” pungkasnya.





