Di Forum GMBF Kuala Lumpur, Din Syamsuddin Minta Kerja Sama Bisnis Dunia Islam Lebih Inovatif dan Inklusif

  • Bagikan

MoneyTalk, Jakarta – Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Dr. M. Din Syamsuddin menyerukan pentingnya pembaruan strategi dalam kerja sama bisnis dunia Islam. Hal itu disampaikannya saat menjadi pembicara pada Global Muslim Business Forum (GMBF) 2025 di Kuala Lumpur, Malaysia, Senin (8/12/2025).

Acara bergengsi yang dihadiri sekitar 300 peserta dari berbagai negara itu mempertemukan para pelaku bisnis, pengambil kebijakan, akademisi, hingga pegiat ekonomi syariah internasional. Sejumlah tokoh penting turut hadir, antara lain Ketua Senat Pakistan sekaligus mantan Perdana Menteri Pakistan Syed Yousaf Raza Gilani, Utusan Khusus Pemerintah Kamboja untuk OKI Neak Oknha Datok Othman Hassan, Gubernur Malaka Tun Seri Mulia Haji Mohd Ali bin Mohd Rustam, Ketua Islamic Chamber of Commerce and Development Saleh Kamel, serta jajaran pimpinan GMBF seperti Dato Seri Mohammad Iqbal Rawther dan Tan Sri Michael Yeoh.

Dalam paparannya, Din Syamsuddin memulai dengan sebuah disclaimer bahwa dirinya bukan pelaku bisnis, melainkan tokoh yang peduli terhadap kemajuan ekonomi umat Islam. Ia menegaskan bahwa potensi ekonomi dunia Islam sangat besar, baik dari sisi sumber daya manusia maupun sumber daya alam. Namun, menurutnya potensi itu belum termanifestasi secara optimal.

“Potensi besar ini belum muncul karena rendahnya kerja sama antarnegara Islam, lemahnya self defence mechanism dalam menghadapi liberalisasi ekonomi global, serta minimnya dukungan negara terhadap pemajuan ekonomi umat,” ujarnya.

Din menilai negara-negara Islam perlu mengembangkan strategi bisnis yang inovatif dan berorientasi pasar. Salah satunya dengan menciptakan produk-produk baru yang relevan dengan kebutuhan global serta mendorong perdagangan antarnegara (inter-states trading) secara lebih intensif.

“Diperlukan database dan analisis supply-demand yang kuat, serta pola kemitraan yang saling menguntungkan,” tegasnya.

Dalam konteks global, Guru Besar Politik Islam Global FISIP UIN Jakarta tersebut menekankan pentingnya peran Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) untuk lebih aktif bahkan proaktif dalam memajukan kolaborasi ekonomi, perdagangan, dan investasi antarnegara anggotanya.

Menutup presentasinya, Din Syamsuddin mengingatkan bahwa kerja sama ekonomi umat Islam tidak boleh bersifat eksklusif. Kolaborasi dengan negara dan bangsa manapun tetap diperlukan selama tidak mengandung unsur dominasi dan eksploitasi.

“Kerja sama ekonomi dan perdagangan harus inklusif, selama prinsip keadilan dan kesetaraan tetap dijaga,” tandasnya.

Demikian disampaikan Din Syamsuddin pada forum GMBF 2025 di Kuala Lumpur yang kembali menegaskan posisi strategis dunia Islam dalam peta ekonomi global.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *