MoneyTalk, Jakarta – Di sebuah dapur darurat yang dindingnya hanya terpal dan lantainya masih berbau lumpur, seorang perempuan berjas medis terlihat sibuk mengaduk panci besar. Asap mengepul, bercampur aroma nasi dan lauk sederhana. Tangannya cekatan, wajahnya letih, tapi matanya tetap menyala.
Namanya Riry Yanti. Ia adalah dokter. Namun di tengah pengungsian korban bencana di Aceh, khususnya di wilayah Tamiang, ia juga merangkap menjadi tukang masak, perawat, pendengar keluh kesah, bahkan tempat bersandar bagi mereka yang kehilangan segalanya.
Setiap pagi, Riry memulai hari dengan memeriksa pasien: anak-anak yang demam, lansia yang kelelahan, ibu-ibu dengan luka yang tak sempat dirawat. Siang hari, ia beralih ke dapur, memastikan tak ada perut yang kosong. Malam tiba, ia kembali ke tenda medis, berjaga hingga larut, menahan kantuk dan rasa penat yang menumpuk.
“Ada yang sakit karena luka, ada yang sakit karena lapar,” katanya pelan suatu malam. “Kalau obat tak cukup, setidaknya mereka tidak boleh kelaparan.”
Tubuh Riry sering kali gemetar karena kelelahan. Tidurnya hanya sepotong-sepotong, kadang di kursi plastik, kadang di lantai tenda. Namun setiap kali keinginan menyerah datang, bayangan para korban Tamiang kembali menghantui pikirannya.
Ia teringat anak kecil yang menangis mencari ibunya. Seorang kakek yang terus memeluk pakaian cucunya yang hilang. Seorang ibu yang memaksa tersenyum meski rumahnya rata dengan tanah.
“Kalau saya pulang, siapa yang urus mereka?” begitu gumamnya pada diri sendiri.
Riry sebenarnya merindukan rumah. Ia rindu makan bersama keluarga, rindu tidur nyenyak tanpa suara tangis dan sirene. Tapi rindu itu ia kubur dalam-dalam. Baginya, penderitaan para pengungsi jauh lebih besar daripada lelah yang ia rasakan.
Di mata para pengungsi, Riry bukan sekadar dokter. Ia adalah sosok yang memberi rasa aman. Ketika makanan datang, ia memastikan anak-anak mendapat porsi duluan. Ketika obat terbatas, ia mengatur seadil mungkin. Ketika harapan hampir padam, kehadirannya menjadi pengingat bahwa mereka tidak sendirian.
“Bu Dokter yang masak itu baik sekali,” kata seorang ibu pengungsi sambil menahan air mata. “Kalau beliau saja kuat, kami juga harus kuat.”
Riry tak pernah merasa dirinya luar biasa. Baginya, apa yang ia lakukan adalah panggilan kemanusiaan. Ia percaya, di tengah bencana, yang paling dibutuhkan bukan hanya bantuan logistik, tetapi kepedulian yang nyata.
Tak semua luka bisa disembuhkan dengan obat. Riry paham betul itu. Banyak pengungsi mengalami trauma, ketakutan, dan kehilangan yang mendalam. Maka ia sering duduk menemani mereka, mendengar cerita yang berulang-ulang, meski hatinya ikut teriris.
“Kadang mereka hanya ingin didengar,” ujarnya. “Kalau kita pergi, mereka merasa dilupakan.”
Di balik kelelahan dan air mata yang diam-diam ia sembunyikan, Riry Yanti tetap berdiri. Menjadi dokter yang menyembuhkan, tukang masak yang mengenyangkan, dan manusia yang menjaga martabat sesama manusia.
Di tengah puing-puing dan derita Aceh, Riry Yanti adalah bukti bahwa kemanusiaan masih hidup meski harus bertahan dengan tenaga yang hampir habis.
Dan selama masih ada satu nyawa yang membutuhkan, ia memilih tetap tinggal.

