MoneyTalk, Jakarta – Aktivis Nahdlatul Ulama (NU), Umar Hasibuan atau yang akrab disapa Gus Umar, melontarkan kritik keras terhadap kinerja Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Ia menilai penegakan hukum di Indonesia semakin melemah dan tidak berani menyentuh elite politik kelas atas.
Menurut Gus Umar, kondisi tersebut sangat kontras jika dibandingkan dengan Malaysia. Ia mencontohkan bagaimana mantan Perdana Menteri Malaysia, Najib Razak, bisa dijatuhi hukuman penjara selama 15 tahun atas kasus korupsi.
“Penegakan hukum di Malaysia sangat hebat. Mantan perdana menterinya saja bisa dihukum 15 tahun penjara karena korupsi. Di Indonesia? Hukum sangat lemah,” ujar Gus Umar di akun media sosialnya, Sabtu (27/12/2025).
Ia bahkan menyindir KPK yang dinilainya kehilangan taring dan keberanian. Gus Umar menyebut lembaga antirasuah itu kini seperti “mandul”.
“Jangankan mantan presiden, mantan menteri agama saja tidak tersentuh. KPK sekarang mandul, seperti tempe lembek,” tegasnya.
Gus Umar menilai kondisi ini berbahaya bagi masa depan pemberantasan korupsi di Indonesia. Ketika hukum tajam ke bawah namun tumpul ke atas, kata dia, maka kepercayaan publik terhadap negara akan terus merosot.
Ia juga mengingatkan bahwa reformasi hukum dan keberanian aparat penegak hukum merupakan syarat mutlak bagi tegaknya keadilan. Tanpa itu, pemberantasan korupsi hanya akan menjadi slogan kosong.
“Kalau hukum hanya berani pada rakyat kecil, sementara elite kebal, maka jangan heran korupsi semakin merajalela,” pungkasnya.
Pernyataan Gus Umar ini menambah daftar kritik publik terhadap KPK yang belakangan kerap dipersoalkan karena dianggap melemah, baik dari sisi kewenangan maupun keberanian dalam menindak kasus-kasus besar.



