MoneyTalk, Jakarta – Dokter, ahli gizi, sekaligus edukator kesehatan, Dr. dr. Tan Shot Yen, M.Hum, menilai pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) memunculkan dinamika sosial yang mengkhawatirkan di tingkat akar rumput. Penilaian itu disampaikan dalam konferensi pers bertajuk “MBG Watch: Proyek Red Flag: Moratorium MBG Memang Mungkin?” di Jakarta, 6 Februari 2026.
Dalam paparannya, dr. Tan mengungkap adanya praktik divide et impera atau perpecahan sosial di kalangan kader Posyandu. Sebagian kader tetap berpegang pada Pedoman Pemberian Makan Bayi dan Anak (PMBA) yang menekankan pola makan alami, seimbang, dan minim pangan olahan. Namun di sisi lain, tidak sedikit kader yang merasa terpaksa mengikuti skema distribusi MBG karena faktor kebutuhan ekonomi.
“Kondisi ini bukan sekadar soal teknis program, tetapi sudah menyentuh relasi sosial antaribu dan kader di masyarakat,” ujar dr. Tan, Selasa (10/2/2026).
Menurutnya, situasi tersebut berpotensi menormalisasi konsumsi pangan ultra-proses, termasuk minuman berpemanis dan makanan tinggi gula. Jika berlangsung terus-menerus, pola ini dikhawatirkan justru menjauhkan tujuan utama ketahanan gizi masyarakat.
Lebih jauh, dr. Tan menilai narasi sosial yang muncul turut memperuncing perbedaan. Sebagian kelompok mendorong sikap “bersyukur” terhadap bantuan pangan, sementara kelompok lain mempertahankan prinsip kesehatan berbasis PMBA dan kerap dilabeli “terlalu ideal” atau “sok sehat”. Akibatnya, ruang dialog kritis di masyarakat menyempit dan digantikan oleh kepatuhan tanpa diskusi terbuka.
“Ketika kritik dianggap sebagai ketidaksyukuran, maka ruang publik kehilangan fungsi korektifnya,” tegasnya.
Dr. Tan pun mengajukan pertanyaan mendasar: jika sebuah program justru memecah warga, apakah yang sedang dibangun benar-benar ketahanan gizi, atau sekadar kepatuhan politik?
Ia mendorong evaluasi menyeluruh terhadap desain dan implementasi MBG, terutama agar tetap selaras dengan prinsip kesehatan masyarakat, perlindungan anak, serta pemberdayaan kader di tingkat komunitas.
Diskursus mengenai MBG sendiri terus berkembang di ruang publik, seiring harapan besar terhadap peningkatan kualitas gizi nasional. Namun kritik dari kalangan ahli kesehatan seperti dr. Tan menunjukkan bahwa keberhasilan program tidak hanya diukur dari distribusi pangan, melainkan juga dari dampak sosial, kualitas nutrisi, dan keberlanjutan kesehatan masyarakat.

