Independen Sumatra Bongkar Dugaan Jejak Tambang Keluarga Sherly Tjoanda di Maluku Utara: “Penghancur Pulau”

  • Bagikan
Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda

MoneyTalk, Jakarta – Akun X milik media Independen Sumatra mengunggah kritik keras terhadap Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda, terkait dugaan keterlibatan perusahaan-perusahaan tambang yang disebut merusak sejumlah pulau di Maluku Utara.

Dalam unggahan pada Jumat (30/5/2026), Independen Sumatra menyebut sejumlah perusahaan yang diklaim berkaitan dengan Sherly Tjoanda dan dituding melakukan aktivitas pertambangan yang berdampak pada kerusakan lingkungan di beberapa wilayah kepulauan.

“DAFTAR PERUSAHAAN SHARLY TJOANDA PENGHANCUR PULAU DI MALUKU UTARA,” tulis akun tersebut dalam unggahannya.

Adapun daftar perusahaan yang disebut dalam unggahan itu antara lain:

1. PT Karya Wijaya — disebut menghancurkan Pulau Gebe

2. PT Bela Sarana Permai — disebut merusak Pulau Obi, Desa Wooi

3. PT Amazing Tabara — disebut merusak Pulau Obi, Desa Sambiki

4. PT Indonesia Mas Mulia — disebut merusak Pulau Bacan

5. PT Bela Kencana — disebut merusak Pulau Obi, Desa Soligi

Unggahan itu juga menyebut masih terdapat banyak perusahaan cangkang lain yang diduga terlibat dalam aktivitas pertambangan yang berdampak terhadap lingkungan di Maluku Utara.

Independen Sumatra mengutip sumber dari Jaringan Advokasi Tambang terkait data dan tudingan tersebut.

Selain menyoroti persoalan lingkungan, unggahan itu juga menyinggung kekayaan Sherly Tjoanda yang disebut mencapai hampir Rp1 triliun, sehingga disebut sebagai gubernur terkaya di Indonesia.

“Sepertinya Sharly Tjoanda tidak butuh gaji sebagai Gubernur Maluku Utara. Yang dibutuhkannya adalah posisi strategis untuk mengatur regulasi agar bisnis tambang keluarganya semakin lancar,” tulis akun tersebut.

Unggahan itu turut disertai sejumlah foto yang diklaim memperlihatkan dampak lingkungan di Pulau Gebe dan Pulau Obi akibat aktivitas pertambangan. Dalam narasinya, Independen Sumatra menyebut kawasan yang sebelumnya memiliki pantai biru dan hutan hijau kini berubah menjadi “lautan lumpur yang keruh”.

“Keuntungan berapa pun besarnya tidak akan pernah bisa menggantikan ekosistem ciptaan Tuhan. Jika lingkungan dirusak, akibatnya bisa terasa hingga 300 tahun ke depan,” demikian bunyi unggahan tersebut.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada klarifikasi resmi dari pihak Sherly Tjoanda maupun perusahaan-perusahaan yang disebut dalam unggahan terkait tudingan tersebut.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *