Prof. Dr. Laila Nurrana, SpOG Bantu Langsung Bantu Warga Aceh Tamiang dan Bireuen

  • Bagikan

MoneyTalk, Jakarta – Dosen senior Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof. Dr. Laila Nurrana, SpOG, turun langsung menyambangi wilayah terdampak bencana di Kabupaten Aceh Tamiang dan Kabupaten Bireuen. Kunjungan ini dilakukan untuk melihat dari dekat kondisi kesehatan serta kehidupan masyarakat yang terdampak bencana di dua kabupaten tersebut.

Dalam peninjauan lapangan, Prof. Laila mendatangi ratusan siswa MTs di Desa Babo serta ratusan ibu dan anak di Desa Rantau Bintang, Kabupaten Aceh Tamiang. Ia juga meninjau keberhasilan penyediaan fasilitas air bersih di Masjid Desa Rantau Bintang serta pembukaan tujuh titik sumur bor yang digagas Tim Presidium Forum Aksi Pusat, alumni Fakultas Kedokteran UI, dan didukung DPP APIB di Aceh Tamiang dan Aceh Bireuen.

Kunjungan kemanusiaan tersebut turut didampingi sejumlah alumni FK UI, di antaranya dr. Nuning D. Nova, dr. Shirly Sucipto, James Pasaribu, MSc, serta Nurmadi Sumarta dari UNS Solo. Dengan tutur kata lembut dan penuh keibuan, Prof. Laila mengajak para murid, anak-anak, dan orang tua untuk tetap bersabar serta menjaga semangat dalam menghadapi dampak bencana yang cukup besar di wilayah Aceh.

Ketua Umum DPP APIB (Aliansi Profesional Indonesia Bangkit), Erick Sitompul, yang turut mendampingi bersama pengurus APIB Sumatera Utara, menyampaikan apresiasi atas kehadiran Prof. Laila dan tim dari Jakarta. Dalam kesempatan itu, mereka juga membagikan 280 mushaf Al-Qur’an sumbangan APIB dan Forum Aksi kepada anak-anak terdampak bencana agar tetap semangat belajar dan membaca Al-Qur’an dalam kondisi apa pun.

Menurut Erick, kehadiran Prof. Laila bukan hanya memberi perhatian moral bagi masyarakat Aceh Tamiang, tetapi juga menjadi teladan bagi kalangan intelektual dan profesional di Indonesia. Di usia yang tidak lagi muda, Prof. Laila dinilai tetap menunjukkan kepedulian nyata terhadap persoalan kemanusiaan.

Ia menegaskan bahwa bencana besar yang melanda wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat membutuhkan perhatian serius dan berkelanjutan dari seluruh pihak. Penanganan bencana, kata Erick, tidak bisa diserahkan sepenuhnya kepada pemerintah, melainkan memerlukan keterlibatan masyarakat luas dengan semangat gotong royong melalui dukungan pemikiran, tenaga, maupun bantuan material.

“Puluhan ribu kepala keluarga masih berada di pengungsian dan membutuhkan pasokan air bersih, makanan, serta dukungan kesehatan hingga masa pemulihan terlewati. Tanpa penanganan terpadu, dampak psikologis dan fisik bisa semakin berat,” ujarnya.

Ia menambahkan, ketersediaan air bersih melalui pembangunan sumur bor maupun sumur gali di wilayah terdampak menjadi syarat utama menjaga kesehatan masyarakat, terlebih menjelang bulan Ramadan dan Hari Raya. Selain itu, penyediaan hunian sementara yang layak, bantuan sembako, perbaikan infrastruktur, serta penciptaan lapangan kerja bagi kepala keluarga produktif harus menjadi prioritas pemerintah pusat dan daerah dengan melibatkan BUMN serta sektor swasta.

Kunjungan Prof. Laila dan tim diharapkan menjadi pemantik solidaritas nasional agar proses pemulihan pascabencana di wilayah Aceh dan sekitarnya dapat berlangsung lebih cepat, menyeluruh, dan berkelanjutan.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *