MoneyTalk, Jakarta – Aktivis dan pegiat media sosial Dokter Tifa kembali melontarkan kritik pedas yang memantik perdebatan publik. Dalam unggahan di media sosial X pada 8 Mei 2026, Dokter Tifa menyindir keras para pendukung fanatik Presiden ke-7 RI Joko Widodo yang disebutnya sebagai “termul” atau “terminal mulut”.
Lewat unggahan panjang bernada satire dan tajam, Dokter Tifa menilai banyak pembela mati-matian isu ijazah Jokowi justru tidak mengalami perubahan hidup meski telah bertahun-tahun menunjukkan loyalitas.
“TERMUL DIE HARDER IJAZAH JOKOWI. TERIAK PALING KERAS, HIDUP JALAN DI TEMPAT,” tulisnya membuka unggahan.
Menurutnya, banyak orang percaya bahwa kedekatan dengan kekuasaan otomatis akan mengubah nasib. Namun realitas berbicara lain.
“Mereka pikir loyalitas = imbalan. Teriakan = kenaikan kelas. Kedekatan = perubahan nasib. Tapi realitasnya? Tidak ada yang berubah,” tulis Dokter Tifa.
Ia bahkan menyinggung sosok pendukung yang disebut paling vokal membela Jokowi, namun kehidupannya disebut tetap biasa-biasa saja.
“Bahkan satu yang paling vokal, paling sering tampil, paling ‘die hard’, ketika saya temui, mobilnya mobil tua. Bertahun-tahun jadi termul, tak ada yang berubah,” sindirnya.
Dalam unggahan itu, Dokter Tifa menyebut banyak pendukung hanya menjadi “TOA politik” karena tidak memiliki akses kekuasaan yang nyata.
“Kalian punya satu hal: suara. Tapi tidak punya akses, aset, pengaruh nyata. Dan tanpa itu, kalian bukan pemain. Kalian hanya TOA alias pengeras suara,” tulisnya lagi.
Tak berhenti di situ, ia juga menyebut fenomena tersebut sebagai “kebodohan kolektif” karena berharap hidup berubah hanya dengan berdiri dekat kekuasaan.
“Yang naik itu elite, inner circle, pemilik modal, pengendali sistem. Bukan kalian yang hanya berteriak di luar pagar,” katanya.
Kalimat paling menyengat muncul di bagian akhir unggahan ketika Dokter Tifa menyebut para pendukung fanatik hanya menjadi “uang recehan dalam kaleng”.
“Sejarah akan mencatat bukan siapa yang paling keras berteriak, tapi siapa yang benar-benar membangun kekuatan,” tulisnya.
Ia lalu menutup dengan sindiran yang ramai dikutip warganet:
“Yang naik pesawat jet pribadi tetap Kaesang.”
Unggahan tersebut langsung memancing gelombang reaksi di media sosial. Sebagian mendukung kritik Dokter Tifa sebagai tamparan bagi budaya politik loyalitas buta, sementara sebagian lain menilai pernyataan itu tendensius dan menyerang pendukung Jokowi secara personal.





