MoneyTalk, Jakarta – Menguatnya dolar Amerika Serikat terhadap rupiah kembali memantik sorotan tajam dari akademisi dan pengamat ekonomi maritim, Ronnie H. Rusli.
Ronnie menegaskan, nilai tukar rupiah yang kini berada di level Rp17.381 per dolar AS belum bisa dianggap sebagai kondisi ekonomi yang sehat. Bahkan, ia menyebut situasi tersebut mengingatkan publik pada masa kelam krisis moneter 1998.
“Harga dolar AS pada tahun 1998 mengalami fluktuasi ekstrem akibat krisis moneter, melonjak drastis dari kisaran Rp4.000-an menjadi puncaknya di atas Rp16.000-Rp17.000 per USD sekitar bulan Juni 1998,” kata Ronnie Rusli pada Jumat (8/5/2026).
Ronnie kemudian menyoroti kurs rupiah terkini yang menurutnya menjadi indikator bahwa fondasi ekonomi nasional masih rapuh.
“IDR to USD rate: Rp17.381/US$,” imbuhnya.
Menurut Ronnie, narasi bahwa ekonomi Indonesia sedang baik-baik saja menjadi sulit dipercaya apabila nilai tukar rupiah masih berada di level yang identik dengan periode krisis.
“Belum bisa dibilang ekonomi Indonesia bagus. Seyogianya kalau dibilang rupiah menguat ya ke Rp15.000/USD. Ini nilai tukar saat krismon,” tegasnya.
Pernyataan Ronnie sontak memantik diskusi luas di media sosial. Banyak warganet menilai pelemahan rupiah bukan sekadar persoalan angka kurs, melainkan cerminan tekanan struktural ekonomi nasional, mulai dari ketergantungan impor, utang luar negeri, hingga lemahnya daya tahan industri domestik.
Sebagai akademisi yang lama berkecimpung dalam isu ekonomi dan kemaritiman nasional, Ronnie selama ini dikenal vokal mengkritik pengelolaan sumber daya alam Indonesia yang dinilai belum sepenuhnya berpihak pada kepentingan rakyat dan kedaulatan ekonomi nasional.
Kondisi rupiah yang terus tertekan juga dikhawatirkan berdampak langsung pada kenaikan harga barang impor, beban utang negara, serta meningkatnya tekanan terhadap daya beli masyarakat. Di tengah situasi global yang belum stabil, peringatan Ronnie Rusli menjadi sinyal keras agar pemerintah tidak terjebak dalam pencitraan statistik semata, sementara realitas ekonomi di lapangan justru menunjukkan tekanan yang makin berat.


