Dosen UI: Rupiah ke Rp20.000 per Dolar AS Tinggal Tunggu Waktu

  • Bagikan
Dosen Universitas Indonesia, Ronnie H Rusli

MoneyTalk, Jakarta – Dosen Universitas Indonesia (UI), Ronnie H Rusli, menilai pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hingga menembus angka Rp20.000 per dolar AS hanya tinggal menunggu waktu apabila tidak ada langkah strategis dan fundamental dari pemerintah.

Menurut Ronnie, kondisi ekonomi global yang penuh tekanan, ketergantungan Indonesia terhadap impor energi, serta dominasi transaksi internasional menggunakan dolar AS menjadi faktor utama yang membuat posisi rupiah semakin rentan.

“Lari ke Rp20.000 per dolar AS pasti tinggal tunggu waktu saja. Kenapa? Jelas Rusia tidak akan memberikan minyak gratis, dan pembayarannya juga bukan menggunakan rupiah, melainkan tetap menggunakan USD,” ujar Ronnie dalam keterangannya, Senin (27/4/2026).

Ia menjelaskan, kebutuhan energi nasional yang sangat besar membuat Indonesia tidak memiliki banyak pilihan selain tetap bergantung pada impor, termasuk kemungkinan membuka kerja sama lebih luas dengan Rusia dalam sektor minyak dan energi.

Namun demikian, kerja sama tersebut tetap menuntut pembayaran dalam mata uang dolar AS, bukan rupiah. Hal inilah yang menurutnya akan terus menambah tekanan terhadap cadangan devisa dan memperbesar permintaan dolar di pasar domestik.

“Selama kebutuhan impor tinggi dan transaksi strategis masih menggunakan dolar, maka tekanan terhadap rupiah akan terus terjadi. Ini hukum pasar yang sulit dihindari,” katanya.

Ronnie menilai, narasi diversifikasi sumber energi tanpa penguatan produksi dalam negeri hanya akan menjadi solusi jangka pendek. Dalam jangka panjang, Indonesia tetap harus menghadapi kenyataan bahwa dolar AS masih menjadi mata uang dominan dalam perdagangan global.

Ia juga menyoroti belum kuatnya fondasi industri nasional dalam menopang ketahanan ekonomi. Ketika impor lebih besar daripada ekspor bernilai tinggi, maka tekanan terhadap kurs rupiah akan semakin besar.

Menurutnya, pemerintah perlu segera memperkuat sektor produksi nasional, khususnya energi, pangan, dan industri manufaktur agar ketergantungan terhadap impor dapat ditekan.

“Kalau tidak ada pembenahan struktural, maka depresiasi rupiah akan terus berulang. Rp20.000 itu bukan sesuatu yang mustahil, melainkan skenario realistis bila kondisi ini dibiarkan,” tegasnya.

Ronnie menambahkan, stabilitas kurs bukan hanya persoalan intervensi Bank Indonesia semata, melainkan juga menyangkut arah kebijakan fiskal, perdagangan, hingga strategi geopolitik Indonesia di tengah perubahan tatanan ekonomi dunia.

Ia mengingatkan bahwa konflik geopolitik global, perang dagang, hingga ketegangan energi internasional dapat mempercepat tekanan terhadap mata uang negara berkembang seperti Indonesia.

Karena itu, menurutnya, pemerintah harus berhenti hanya fokus pada penanganan jangka pendek dan mulai membangun kemandirian ekonomi nasional yang sesungguhnya.

“Selama kita masih sangat tergantung pada impor strategis dan transaksi dolar, maka ancaman rupiah menyentuh Rp20.000 per dolar AS akan selalu ada. Tinggal soal waktu saja,” pungkasnya.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *