MoneyTalk, Jakarta – Pemadaman listrik massal yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera pada Kamis malam (22/5/2026) memicu sorotan publik terkait rentannya sistem kelistrikan di pulau terbesar kedua Indonesia tersebut. Gangguan yang terjadi hampir bersamaan di enam provinsi disebut sebagai blackout besar yang menunjukkan lemahnya ketahanan infrastruktur listrik nasional.
Akun media sosial X bernama “Hidup sebagai62” dalam unggahannya menyebut peristiwa itu bukan sekadar pemadaman biasa, melainkan blackout massal yang mengekspos kerentanan sistem interkoneksi listrik Sumatera.
Gangguan dilaporkan mulai terjadi sekitar pukul 18.44 WIB ketika sistem Sumatera Bagian Utara (SBU) dan Sumatera Bagian Tengah (SBT) terpisah. Kondisi tersebut menyebabkan sistem kelistrikan di wilayah Sumatera Bagian Utara mengalami padam total.
Sejumlah warga melaporkan waktu gangguan yang sedikit berbeda. Di Sumatera Barat, listrik mulai padam sekitar pukul 18.35 WIB, sementara warga di Padangsidimpuan mencatat blackout terjadi sekitar pukul 18.45 WIB. Dalam rentang waktu sekitar 15 menit, sistem kelistrikan Sumatera bagian utara dan tengah disebut runtuh secara bersamaan.
Pihak PLN mengungkapkan gangguan dipicu terpisahnya sistem Sumatera Bagian Utara dan Sumatera Bagian Tengah setelah jalur transmisi Rumai–Muaro Bungo 275 kV mengalami gangguan.
Jalur transmisi 275 kV tersebut merupakan tulang punggung utama penyaluran listrik dari selatan ke utara Sumatera. Ketika jalur itu terganggu, sistem dinilai tidak memiliki cadangan memadai untuk menopang beban, sehingga efek domino langsung menyebar ke wilayah yang bergantung pada jaringan interkoneksi tersebut.
General Manager PLN UID Sumbar, Arjun Karim, menjelaskan bahwa gangguan berasal dari sisi gardu induk pembangkitan dan transmisi.
PLN menyebut gangguan terjadi pada jaringan transmisi bertegangan 275 kiloVolt yang menjadi salah satu tulang punggung distribusi listrik antarwilayah. Saat sistem terpisah, distribusi listrik menjadi tidak stabil karena pasokan dari pembangkit tidak dapat disalurkan secara merata ke seluruh daerah.
Sistem kelistrikan Sumatera sendiri menggunakan pola interkoneksi tunggal, di mana seluruh provinsi berbagi jaringan listrik yang saling terhubung. Model ini dinilai efisien dalam distribusi energi, tetapi memiliki risiko besar apabila terjadi gangguan pada satu titik kritis.
Pemadaman listrik dilaporkan melanda wilayah Sumatera Utara, Aceh, Riau, Jambi, Lampung, dan Sumatera Barat. Total enam provinsi terdampak akibat gangguan pada satu jalur transmisi di titik Rumai–Muaro Bungo.
Pengamat menilai kondisi tersebut mencerminkan apa yang dikenal dalam sistem infrastruktur sebagai single point of failure, yakni satu titik lemah yang dapat menyebabkan seluruh sistem kolaps apabila tidak memiliki jalur cadangan memadai.
PLN menyatakan proses pemulihan masih terus dilakukan dan diperkirakan membutuhkan waktu sekitar enam hingga delapan jam, tergantung kondisi sistem di lapangan.
Dari sisi ekonomi, dampak blackout diperkirakan sangat besar. Enam provinsi terdampak mencakup lebih dari 25 juta penduduk, ribuan industri, ratusan ribu pelaku UMKM, rumah sakit, hingga infrastruktur digital yang seluruhnya bergantung pada pasokan listrik.
Berdasarkan estimasi yang beredar, apabila blackout berlangsung selama lima jam, potensi kerugian ekonomi diperkirakan mencapai Rp500 miliar hingga Rp1,5 triliun. Kerugian tersebut meliputi terhentinya aktivitas industri, operasional UMKM, gangguan transaksi digital, hingga kerusakan produk yang membutuhkan pendingin.
Jika pemadaman berlangsung hingga 12 jam, kerugian disebut dapat meningkat menjadi Rp2 triliun hingga Rp4 triliun. Sementara jika blackout berlangsung selama 24 jam, estimasi kerugian dapat menembus Rp5 triliun hingga Rp10 triliun, termasuk potensi terganggunya distribusi bahan pokok, layanan perbankan, hingga sektor logistik.
Peristiwa ini kembali memunculkan pertanyaan publik mengenai kesiapan negara dalam membangun sistem infrastruktur energi yang tangguh di Sumatera, pulau dengan kekuatan ekonomi terbesar kedua di Indonesia setelah Jawa.





