MoneyTalk.id,Jakarta – Praktisi media massa sekaligus Wakil Direktur Center for Analysis and Journalism (CAJ) PWI Pusat dan Executive Director HIAWATHA Institute, Benz Jono Hartono, menyoroti tantangan besar yang dihadapi Presiden Prabowo Subianto dalam menjalankan pemerintahan.
Melalui rilis yang diterima pada Kamis (18/6/2026), Benz menilai tantangan terbesar seorang pemimpin tidak selalu datang dari oposisi atau tekanan eksternal, melainkan dari lingkungan kekuasaan yang berada paling dekat dengannya.
Dalam tulisannya yang berjudul “Prabowo Subianto dan Lingkaran Setan di Sekitarnya”, Benz menjelaskan bahwa setiap pemimpin selalu dikelilingi oleh lingkaran kekuasaan yang terdiri dari para penasihat, elite politik, oligarki ekonomi, birokrasi, hingga kelompok pemburu keuntungan yang hidup dari kedekatan dengan penguasa.
“Sejarah mencatat bahwa tidak sedikit pemimpin yang pada awalnya datang dengan semangat perubahan, tetapi kemudian tersandera oleh lingkungan yang mengelilinginya,” tulis Benz.
Menurutnya, kondisi tersebut kerap melahirkan apa yang disebut sebagai “lingkaran setan kekuasaan”, yakni situasi ketika seorang pemimpin semakin sulit membedakan kritik yang tulus dengan pujian yang menyesatkan.
Dalam kondisi seperti itu, informasi yang diterima pemimpin sering kali telah melalui penyaringan sesuai kepentingan kelompok tertentu. Akibatnya, kebijakan yang dihasilkan tidak sepenuhnya berorientasi pada kepentingan rakyat, melainkan merupakan hasil kompromi dari berbagai tekanan yang bekerja di belakang layar.
Benz menilai saat ini banyak kalangan pengamat melihat Presiden Prabowo Subianto tengah menghadapi tantangan yang tidak ringan. Di satu sisi, Prabowo membawa narasi keberlanjutan pembangunan, stabilitas nasional, dan penguatan kedaulatan negara. Namun di sisi lain, muncul pertanyaan publik mengenai sejauh mana kendali penuh berada di tangan presiden dalam menentukan arah pemerintahan.
Ia kemudian menguraikan empat lingkaran utama yang dinilai berpotensi mempengaruhi jalannya kekuasaan.
Pertama adalah oligarki ekonomi, yaitu kelompok pemilik modal besar yang memiliki akses luas terhadap sumber daya dan kemampuan mempengaruhi kebijakan publik.
“Kepentingan ekonomi segelintir orang bisa menjadi lebih dominan dibanding kepentingan jutaan rakyat,” ujarnya.
Lingkaran kedua adalah elite politik dan partai-partai pendukung yang masing-masing memiliki agenda serta kepentingan kekuasaan tersendiri. Menurut Benz, terlalu banyak kepentingan politik yang harus diakomodasi dapat menguras energi pemerintahan untuk menjaga keseimbangan koalisi dibanding menyelesaikan persoalan rakyat.
Lingkaran ketiga adalah birokrasi dan kelompok teknokrat yang menguasai informasi serta pelaksanaan kebijakan. Ia menilai visi besar seorang presiden tidak akan berjalan efektif tanpa dukungan birokrasi yang profesional dan bersih.
Sementara lingkaran keempat adalah para penjilat kekuasaan yang dinilai selalu hadir dalam setiap rezim. Kelompok ini disebut lebih memilih membangun citra dan pujian dibanding menyampaikan realitas yang sebenarnya terjadi.
“Ketika kritik dianggap ancaman dan pujian dianggap kebenaran, maka proses pengambilan keputusan menjadi kehilangan koreksi,” tulisnya.
Benz mengingatkan bahwa banyak kekuasaan dalam sejarah justru runtuh bukan karena serangan dari luar, melainkan akibat persoalan yang tumbuh di lingkungan terdekat penguasa sendiri.
Karena itu, ia menilai tantangan sesungguhnya bagi Prabowo adalah keberanian untuk membersihkan lingkaran kekuasaan dari pemburu rente, makelar kebijakan, dan kelompok yang menjadikan negara sebagai alat memperkaya diri.
Menurutnya, rakyat pada akhirnya akan menilai seorang presiden berdasarkan keberanian mengambil keputusan yang berpihak kepada kepentingan umum, bukan dari banyaknya pidato maupun pencitraan politik.
“Pertanyaannya adalah, mampukah ia memutus rantai lingkaran setan yang selama ini mengelilingi kekuasaan di Indonesia?” tulis Benz.
Ia menegaskan, apabila mampu keluar dari jebakan oligarki dan kepentingan elite, Prabowo dapat dikenang sebagai pemimpin yang berhasil melakukan perubahan. Sebaliknya, jika tidak, sejarah berpotensi mencatat pergantian pemimpin hanya sebagai pergantian wajah, sementara pola kekuasaan lama tetap bertahan.
“Sebab dalam politik, sering kali musuh terbesar seorang pemimpin bukanlah lawan yang berdiri di hadapannya, melainkan orang-orang yang berdiri paling dekat dengannya,” pungkasnya.





