MoneyTalk.id, Jakarta – Aktivis media sosial Islah Bahrawi melontarkan kritik keras terhadap Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan, Budiman Sudjatmiko, di tengah polemik yang berkembang pasca-insiden penolakan sejumlah mahasiswa terhadap diskusi yang menghadirkan Budiman dan beberapa pejabat pemerintah di lingkungan kampus.
Melalui pernyataannya di media sosial, Islah menilai citra Budiman di mata sebagian publik mengalami perubahan drastis. Menurutnya, stigma sebagai “penjilat” melekat karena Budiman yang dahulu dikenal sebagai pengkritik keras Prabowo Subianto kini justru menjadi salah satu tokoh yang kerap memberikan pujian kepada Presiden. Kritik serupa juga pernah muncul dari sejumlah mantan aktivis dan pengamat politik setelah Budiman menyatakan dukungan kepada Prabowo pada Pemilu 2024.
Islah menilai perubahan sikap politik merupakan hal yang sah dalam demokrasi. Namun, menurutnya, yang menjadi persoalan adalah ketika perubahan tersebut dianggap tidak disertai penjelasan yang memadai kepada publik, terutama kepada kelompok yang selama ini mengikuti perjalanan politik Budiman sejak era reformasi.
“Stigma itu muncul karena publik melihat kontras yang sangat tajam antara sikap Budiman di masa lalu dan posisinya saat ini,” demikian substansi kritik yang berkembang di ruang publik terhadap mantan Ketua PRD tersebut, Rabu (17/6/2026).
Pernyataan Islah muncul di tengah meningkatnya sorotan terhadap Budiman setelah forum diskusi yang menghadirkan dirinya bersama Menteri ATR/BPN Nusron Wahid dan Wakil Menteri Pertanian Sudaryono mendapat penolakan dari sejumlah mahasiswa. Aksi tersebut memicu perdebatan luas mengenai kebebasan akademik, ruang dialog di kampus, serta persepsi publik terhadap para pejabat yang hadir dalam forum tersebut.
Di sisi lain, pendukung Budiman menilai kritik yang diarahkan kepadanya berlebihan. Mereka berpendapat bahwa perubahan sikap politik merupakan dinamika yang lazim terjadi dalam perjalanan demokrasi. Budiman sendiri dalam berbagai kesempatan menegaskan bahwa dukungannya terhadap pemerintahan saat ini didasarkan pada keyakinannya terhadap program-program pembangunan dan pengentasan kemiskinan yang sedang dijalankan.
Perdebatan mengenai Budiman menunjukkan bagaimana rekam jejak politik seorang tokoh dapat terus menjadi bahan penilaian publik. Bagi sebagian kalangan, perubahan posisi politik adalah bentuk kedewasaan dan adaptasi terhadap realitas. Namun bagi kelompok lain, perubahan tersebut dapat menimbulkan pertanyaan mengenai konsistensi idealisme yang selama ini diperjuangkan.
Kontroversi yang berkembang di media sosial pun memperlihatkan bahwa figur Budiman Sudjatmiko masih menjadi salah satu tokoh yang mampu memancing perdebatan publik, terutama ketika dikaitkan dengan sejarah perjuangannya sebagai aktivis reformasi dan posisinya saat ini sebagai bagian dari pemerintahan.




