MoneyTalk.id,Jakarta – Suasana diskusi publik bertajuk “Perlukah Reformasi Jilid 2?” di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Rabu (17/6/2026), memanas setelah seorang mahasiswa dari Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Jawa Tengah-DIY, Natael Bremana, melontarkan kritik keras kepada Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin), Budiman Sudjatmiko.
Dalam forum tersebut, Natael secara terbuka menyebut Budiman sebagai “pelacur Reformasi”. Menurutnya, mantan aktivis 1998 itu telah meninggalkan nilai-nilai perjuangan reformasi dan lebih mengedepankan kepentingan kekuasaan dibanding kepentingan rakyat.
“Budiman Sudjatmiko bukan aktivis 98, melainkan pelacur reformasi. Dia bukan berbicara nilai dan kepentingan rakyat, tetapi berbicara kepentingan pribadi,” tegas Natael dalam diskusi tersebut.
Natael menilai kondisi Indonesia saat ini tidak jauh berbeda dengan situasi yang melatarbelakangi lahirnya Reformasi 1998. Ia menyoroti membengkaknya struktur pemerintahan, keterlibatan aparat keamanan dalam jabatan sipil, serta masih maraknya praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN).
“Reformasi menuntut birokrasi yang ramping dan efisien. Hari ini kabinet justru semakin gemuk. Reformasi juga menolak militerisme, tetapi sekarang TNI dan Polri aktif kembali bisa menduduki berbagai jabatan sipil,” ujar Natael.
Selain itu, ia juga mengkritik sejumlah program pemerintah, termasuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih. Menurutnya, program-program tersebut perlu diawasi secara ketat agar tidak menjadi ruang baru bagi praktik KKN.
Pernyataan keras tersebut langsung memicu respons dari Budiman. Dari atas panggung, ia mempertanyakan dasar tuduhan yang dilontarkan kepadanya.
“Apa ukurannya pelacur?” tanya Budiman.
“Jual diri,” jawab Natael.
“Apa yang saya jual?”
“Keberpihakan pada rakyat,” balas Natael.
Perdebatan semakin memanas ketika Budiman meminta bukti konkret mengenai tuduhan bahwa dirinya tidak lagi berpihak kepada rakyat. Natael kemudian menyinggung persoalan kemiskinan, ketimpangan sosial, kenaikan harga pangan, hingga mahalnya biaya pendidikan sebagai indikator bahwa cita-cita reformasi belum terwujud.
Menanggapi kritik tersebut, Budiman membela posisinya dengan menjelaskan berbagai program pengentasan kemiskinan yang sedang dirumuskan dan dijalankan pemerintah. Ia menyebut program Sekolah Rakyat, Makan Bergizi Gratis, serta Koperasi Perdesaan Merah Putih sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat miskin secara struktural.
Insiden ini menambah daftar forum diskusi yang diwarnai perdebatan sengit antara Budiman Sudjatmiko dan kalangan mahasiswa dalam beberapa pekan terakhir. Sebelumnya, Budiman juga menghadapi kritik tajam dari sejumlah mahasiswa dalam forum diskusi di Semarang terkait posisi politiknya di pemerintahan dan arah pembangunan nasional.




