Rapor Merah Tim Ekonomi Prabowo, Ferry Koto Soroti Neraca Perdagangan Dua Bulan Beruntun

  • Bagikan
Presiden Prabowo
Presiden Prabowo

MoneyTalk.id, Jakarta – Aktivis media sosial Ferry Koto melontarkan kritik terhadap kinerja tim ekonomi Presiden Prabowo Subianto. Melalui unggahan di akun media sosial X miliknya, Ferry menilai rapor tim ekonomi pemerintah mulai menunjukkan sinyal negatif setelah neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit selama dua bulan berturut-turut.

Menurut Ferry, meski secara kumulatif neraca perdagangan periode Januari hingga Juni 2026 masih mencatatkan surplus, nilainya telah merosot lebih dari 80 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

“Rapor merah tim ekonomi Presiden Prabowo dievaluasi bulanan. Neraca perdagangan defisit dua bulan berturut-turut. Walau jika diakumulasi dari Januari sampai Juni 2026 tetap surplus, tapi ambruk 80 persen lebih dibanding periode yang sama tahun lalu,” tulis Ferry, Selasa (4/8/2026).

Ia mengingatkan bahwa tren defisit tersebut perlu segera diantisipasi agar tidak berlanjut pada bulan-bulan berikutnya.

“Jika defisit ini terus terjadi, amsiong tenan wis. Mudah-mudahan tidak,” lanjutnya.

Selain menyoroti indikator ekonomi, Ferry juga mengkritik gaya komunikasi Presiden Prabowo. Menurutnya, pemerintah sebaiknya lebih fokus pada penyelesaian persoalan ekonomi dibanding memperbanyak pidato yang memunculkan polemik.

“Mulailah kurangi pidato dengan nuding-nuding seperti nuding Londo Ireng, perbanyak kerja saja,” ujarnya.

Ferry menilai kondisi ekonomi masyarakat saat ini belum menunjukkan perbaikan yang signifikan. Ia menyebut kegaduhan politik yang terus terjadi justru beriringan dengan perlambatan ekonomi yang dirasakan masyarakat.

“Kasihan rakyat, sudah gaduh tiap hari, ekonomi juga makin ambruk,” katanya.

Dalam kritiknya, Ferry juga menyindir kondisi para pejabat di sekitar Presiden yang menurutnya tidak dapat dijadikan ukuran kesejahteraan masyarakat luas.

“Mungkin Presiden Prabowo tidak merasa ekonomi sedang tidak baik-baik saja, karena melihat orang-orang di sekitarnya makin gemuk dan bertambah kekayaannya. Kondisi ekonomi orang sekitar Presiden bukanlah cermin kondisi rakyat,” tulis Ferry.

Sementara itu, pemerintah sebelumnya menegaskan tetap melakukan berbagai langkah untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional, termasuk memperbaiki tata kelola ekonomi, memperkuat daya saing, serta mengatasi kebocoran ekonomi yang dinilai menghambat kesejahteraan masyarakat.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *