21 Oktober 2026

Blog

MoneyTalk.id,Jakarta – Pengamat intelijen dan geopolitik Amir Hamzah menilai pencopotan Purbaya Yudhi Sadewa dari posisi Menteri Keuangan tidak cukup dilihat sebagai pergantian personal di Kabinet Merah Putih.

Menurut Amir, persoalan yang lebih penting adalah arah kebijakan fiskal dan hubungan antara kekuatan politik, pemodal, Danantara, pemerintah, serta Bank Indonesia.

Presiden Prabowo Subianto pada 14 September 2026 memang mengganti Purbaya dengan Suahasil Nazara. Reuters melaporkan pergantian tersebut menjadi pergantian menteri keuangan ketiga Indonesia dalam waktu kurang dari dua tahun.

Amir menilai sejumlah kebijakan Purbaya selama menjabat menunjukkan adanya upaya menjaga agar beban tertentu tidak langsung dialihkan kepada APBN.

Salah satu contohnya adalah persoalan utang Kereta Cepat Jakarta-Bandung atau Whoosh.

Purbaya sebelumnya berulang kali menyatakan penyelesaian utang Whoosh harus semaksimal mungkin tidak membebani APBN. Pada Juli 2026, Purbaya mengatakan penggunaan dana APBN untuk membayar kewajiban Whoosh akan diminimalkan dan pemerintah dapat menggunakan instrumen di luar APBN, termasuk Special Mission Vehicle (SMV).

Bahkan pada Oktober 2025, Purbaya pernah menyatakan pembayaran utang Whoosh semestinya menjadi tanggung jawab Danantara karena lembaga tersebut menerima dividen dari BUMN. Ia menyebut Danantara menerima dividen sekitar Rp80 triliun hingga Rp90 triliun, sementara kebutuhan pembayaran tahunan Whoosh sekitar Rp2 triliun.

Menurut Amir, sikap tersebut memperlihatkan adanya perbedaan cara pandang mengenai siapa yang harus menanggung beban finansial dari aset dan proyek BUMN.

“Kalau banyak kebijakan Purbaya tidak menguntungkan pihak pemodal, misalnya APBN menolak membiayai utang Whoosh, kemudian Purbaya meminta keuntungan Danantara diberikan kepada negara, tentu ini menjadi persoalan politik ekonomi yang harus dilihat lebih jauh,” ujar Amir.

Amir juga menyoroti tuntutan Purbaya agar Danantara tidak melempar persoalan Whoosh kepada pemerintah melalui APBN.

Menurut dia, pernyataan Purbaya bahwa Danantara memiliki sumber dana sendiri menunjukkan adanya upaya menempatkan pengelolaan aset negara secara lebih bertanggung jawab.

“Danantara punya keuntungan, punya dividen dari BUMN. Kalau ada keuntungan, negara juga harus mendapatkan manfaat. Jangan ketika untung untuk mereka, tetapi ketika ada beban kemudian kembali kepada negara,” katanya.

Amir kemudian mengaitkan pergantian Purbaya dengan persoalan konsolidasi kekuasaan di sekitar Presiden Prabowo.

Ia mempertanyakan apakah pergantian menteri tersebut benar-benar membawa perubahan sistem atau justru mempertahankan pola lama di Kementerian Keuangan.

“Sejak awal ada tuntutan agar Prabowo tidak menggunakan orang-orang lama. Tetapi sekarang kelihatannya Prabowo tetap menggunakan mereka. Ini bagian dari konsolidasi,” ujar Amir.

Suahasil Nazara sendiri bukan figur baru di Kementerian Keuangan. Reuters menyebut Suahasil sebelumnya merupakan Wakil Menteri Keuangan dan pernah memimpin Badan Kebijakan Fiskal. Ia juga dipandang sebagai teknokrat yang berpengalaman di kementerian tersebut.

Karena itu, menurut Amir, pergantian Purbaya perlu dibaca dalam kerangka yang lebih luas, bukan hanya persoalan pergantian pejabat.

“Yang harus diubah adalah sistemnya, bukan hanya mengganti orang. Kalau sistemnya tidak berubah, siapa pun yang menjadi Menteri Keuangan akan menghadapi persoalan yang sama,” katanya.

Amir mengingatkan Presiden Prabowo agar berhati-hati menentukan arah kebijakan ekonomi dan fiskal.

Menurut dia, Indonesia menghadapi tekanan dari berbagai kepentingan, baik domestik maupun global. Kesalahan dalam menentukan strategi dapat membawa dampak serius terhadap stabilitas ekonomi dan politik nasional.

“Kalau strategi Prabowo keliru, Indonesia bisa bubar. Ini bukan menakut-nakuti. Kita harus melihat bagaimana struktur ekonomi dan politik bekerja,” kata Amir.

Ia mengaitkan pandangannya dengan buku Indonesia Paradoks, yang menurutnya menggambarkan berbagai kontradiksi dalam pengelolaan sumber daya dan kekuatan ekonomi Indonesia.

Amir juga menyoroti pengelolaan sumber daya alam, khususnya sektor kehutanan.

Menurutnya, pemerintah harus membuka informasi secara lebih transparan mengenai pengelolaan hutan, termasuk berapa kewajiban perusahaan kepada negara.

“Pengawasan pengelolaan hutan sampai sekarang harus benar-benar dibuka. Perusahaan harus membayar berapa kepada negara? Itu harus jelas. Kalau tidak transparan, ini akan memengaruhi keuangan Indonesia,” ujarnya.

Fiskal dan Moneter Harus Seimbang

Amir juga mengingatkan bahwa kebijakan fiskal tidak dapat berjalan sendiri tanpa memperhitungkan kebijakan moneter Bank Indonesia.

Menurut dia, kritik atau kebijakan Menteri Keuangan yang berhubungan dengan likuiditas, pembiayaan dan fiskal pada akhirnya dapat berpengaruh terhadap ruang kerja bank sentral.

Karena itu, menurut Amir, hubungan antara pemerintah dan Bank Indonesia harus dijaga agar tetap seimbang.

“Pengelolaan keuangan negara bisa memengaruhi Bank Indonesia yang mengurusi moneter. Fiskal dan moneter harus seimbang. Jangan sampai satu kebijakan justru membuat kebijakan yang lain menjadi sulit,” katanya.

Pergantian Purbaya sendiri terjadi di tengah perhatian pasar terhadap kredibilitas fiskal dan arah kebijakan ekonomi pemerintah.

Dalam perspektif geopolitik, Amir juga menyinggung posisi Indonesia dalam BRICS.

Menurutnya, keanggotaan Indonesia di BRICS dapat menjadi instrumen untuk memperluas pilihan ekonomi dan mengurangi ketergantungan terhadap kekuatan keuangan global yang selama ini didominasi negara-negara Barat.

Namun, Amir mengingatkan bahwa secara praktik Indonesia belum sepenuhnya bebas dari sistem keuangan global.

“Prabowo tidak tergantung kepada kekuatan global karena Indonesia masuk BRICS. Tetapi kenyataannya kita masih berada dalam sistem yang juga berhubungan dengan IMF,” ujarnya.

Ia menyebut agenda BRICS mengenai penggunaan mata uang lokal dan pengurangan dominasi dolar atau de-dolarisasi merupakan salah satu perkembangan penting dalam geopolitik ekonomi dunia. Namun, proses tersebut tidak serta-merta membuat negara anggota terbebas dari tekanan lembaga keuangan internasional.

Pada April 2026, Purbaya memang menyatakan menolak tawaran pinjaman IMF dan Bank Dunia. Ia mengatakan Indonesia belum membutuhkan pinjaman tersebut karena memiliki cadangan sekitar US$25 miliar. Tawaran yang disiapkan kedua lembaga tersebut disebut berada pada kisaran US$20 miliar hingga US$30 miliar.

Bagi Amir, sikap Purbaya tersebut merupakan bagian dari kebijakan yang perlu dicermati.

“BRICS itu membawa gagasan de-dolarisasi. Tetapi jangan menganggap kemudian IMF tidak bisa melakukan tekanan. Tekanan global tetap ada,” katanya.

Karena itu, Amir menilai persoalan utama setelah pencopotan Purbaya bukan siapa penggantinya, melainkan apakah pemerintahan Prabowo berani melakukan perubahan struktural dalam pengelolaan ekonomi negara.

“Harus diubah sistemnya, bukan hanya mengganti orang. Kalau hanya mengganti menteri, tetapi mekanisme dan kepentingan yang bekerja di belakang kebijakan tetap sama, persoalannya tidak akan selesai,” pungkas Amir.

MoneyTalk.id,PEMATANGSIANTAR – PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI Kantor Cabang Pematangsiantar (BNI Pematangsiantar) terus memperluas pembiayaan kepada pelaku usaha produktif di daerah. Salah satunya melalui penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) kepada Nazhifah Hapiz, pelaku usaha industri pembuatan mesin kopi di Pematangsiantar.

Nazhifah memperoleh fasilitas KUR sebesar Rp500 juta yang digunakan untuk mendukung pengembangan usaha, mulai dari peningkatan kapasitas produksi, pengadaan bahan baku, pengembangan peralatan, hingga kebutuhan operasional.

Usaha pembuatan mesin kopi yang dijalankan Nazhifah memiliki peluang untuk terus berkembang seiring pertumbuhan bisnis kedai kopi dan meningkatnya kebutuhan terhadap mesin serta peralatan pengolahan kopi.

Pasar usaha tersebut juga tidak hanya terbatas di Pematangsiantar. Produk yang dihasilkan telah dipasarkan ke luar kota melalui penjualan langsung maupun kegiatan canvassing untuk menjangkau calon pelanggan baru.

Saat ini, usaha tersebut telah menghidupi enam orang pekerja yang terlibat dalam proses produksi dan kegiatan operasional sehari-hari. Tambahan pembiayaan akan dapat membantu memperbesar kapasitas usaha sekaligus membuka peluang pengembangan pasar yang lebih luas.

Nazhifah mengatakan tambahan modal menjadi salah satu faktor penting untuk meningkatkan kemampuan produksi sekaligus menangkap peluang pasar yang terus berkembang.

“Dukungan pembiayaan ini menjadi bagian penting dalam pengembangan usaha kami, terutama untuk meningkatkan kapasitas produksi dan memenuhi kebutuhan pasar yang terus berkembang,” ujarnya.

Corporate Secretary BNI Okki Rushartomo mengatakan, penyaluran KUR kepada sektor usaha produktif diharapkan dapat membantu pelaku UMKM meningkatkan skala bisnis dan memperkuat daya saing.

“KUR yang disalurkan kepada Nazhifah Hapiz diharapkan dapat dimanfaatkan secara optimal untuk meningkatkan kapasitas dan produktivitas usaha pembuatan mesin kopi yang dijalankan,” ujar Okki.

Menurut Okki, pertumbuhan industri kopi turut membuka peluang bagi berbagai sektor pendukung. Peluang tersebut tidak hanya muncul pada bisnis kedai kopi, tetapi juga pada industri pembuatan mesin, peralatan, kemasan, hingga berbagai kebutuhan operasional lainnya.

Karena itu, akses pembiayaan dinilai menjadi salah satu faktor yang dapat membantu pelaku usaha lokal memperbesar kapasitas produksi, meningkatkan kualitas produk, dan memperluas jangkauan pasar.

Penyaluran KUR oleh BNI Pematangsiantar juga menunjukkan bahwa pembiayaan usaha rakyat dapat menjangkau sektor industri kecil yang menghasilkan produk pendukung bagi ekosistem bisnis yang lebih luas.

Di Pematangsiantar, perkembangan industri pendukung kopi memiliki peluang tumbuh sejalan dengan meningkatnya aktivitas usaha makanan dan minuman serta berkembangnya budaya konsumsi kopi di masyarakat.

Dengan dukungan pembiayaan, pelaku usaha lokal diharapkan mampu meningkatkan skala bisnis, memperluas pasar hingga luar daerah, membuka peluang kerja baru, serta memperbesar kontribusi UMKM terhadap perekonomian Pematangsiantar dan sekitarnya.

MoneyTalk.id,Jakarta – Penyitaan uang tunai sekitar Rp3,5 miliar oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam pengembangan perkara gratifikasi mantan Bupati Kutai Kartanegara (Kukar) Rita Widyasari kembali menyeret nama politikus Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Ahmad Ali.

Ketua Umum Forum Aliansi Masyarakat Antikorupsi (FORMASI) Jalih Pitoeng mendesak KPK tidak berhenti pada penyitaan aset atau uang yang diduga berkaitan dengan perkara korupsi. Menurut dia, lembaga antirasuah harus menelusuri pihak-pihak yang diduga memiliki keterkaitan dengan sumber dana tersebut.

Jalih menilai penyitaan uang sekitar Rp3,5 miliar menjadi momentum bagi KPK untuk mengusut lebih jauh dugaan aliran gratifikasi, termasuk apabila dalam proses penyidikan ditemukan bukti yang mengarah kepada Ahmad Ali.

“Kalau memang uang yang disita KPK diduga berasal dari tindak pidana korupsi, maka jangan berhenti pada penyitaan hartanya. KPK harus membuka siapa yang memberikan, siapa yang menerima, dan siapa yang menikmati aliran uang tersebut,” ujar Jalih kepada wartawan, Selasa (15/9/2026).

Menurut Jalih, proses hukum harus berjalan berdasarkan bukti dan tidak boleh tebang pilih. Apabila penyidik menemukan bukti yang cukup mengenai keterlibatan seseorang, status hukum terhadap orang tersebut harus ditingkatkan sesuai ketentuan perundang-undangan.

“Kalau bukti-buktinya mengarah kepada Ahmad Ali, kami meminta KPK berani menetapkannya sebagai tersangka. Jangan sampai masyarakat melihat ada perlakuan berbeda dalam pemberantasan korupsi,” tegasnya.

Jalih mengatakan, pengembangan perkara gratifikasi Rita Widyasari seharusnya tidak hanya berorientasi pada penyitaan aset. KPK perlu membongkar jejaring transaksi dan aliran dana yang diduga berkaitan dengan perkara tersebut.

“Korupsi itu bukan hanya soal uang yang ditemukan atau disita. Yang jauh lebih penting adalah membongkar jaringan dan aliran uangnya. Siapa yang memberikan, kepada siapa, untuk kepentingan apa, dan siapa yang akhirnya menikmati,” katanya.

Dia menilai KPK memiliki kewajiban menjelaskan secara terang kepada publik mengenai asal-usul uang yang disita serta kaitannya dengan perkara yang sedang dikembangkan.

“Kalau memang ada keterkaitan dengan perkara gratifikasi, publik berhak mengetahui sejauh mana hubungan uang itu dengan perkara Rita Widyasari. Jangan sampai penyitaan berhenti menjadi berita, tetapi tidak dilanjutkan dengan pengungkapan aktor-aktor yang bertanggung jawab,” kata Jalih.

Jalih juga meminta KPK tidak terpengaruh oleh posisi politik pihak-pihak yang namanya muncul dalam proses penyidikan. Menurutnya, hukum harus berlaku sama bagi siapa pun.

“Siapa pun orangnya, kalau alat bukti cukup dan memenuhi unsur pidana, harus diproses. Jangan karena dia politikus kemudian menjadi sulit disentuh,” ujarnya.

Sebelumnya, KPK menyita uang tunai sekitar Rp3,5 miliar dalam pengembangan perkara gratifikasi di wilayah Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. KPK menyatakan uang tersebut diduga berkaitan atau bersumber dari tindak pidana korupsi yang tengah disidik.

Kasus gratifikasi yang berkaitan dengan mantan Bupati Kukar Rita Widyasari telah menjadi salah satu perkara yang terus dikembangkan KPK. Dalam perkembangan penyidikan, lembaga antirasuah melakukan penelusuran terhadap aset dan aliran dana yang diduga berkaitan dengan tindak pidana korupsi tersebut.

Bagi FORMASI, penyitaan uang dalam jumlah besar harus menjadi pintu masuk untuk membongkar perkara secara lebih luas.

“Kami mendorong KPK bekerja profesional, transparan dan berdasarkan alat bukti. Kalau memang Ahmad Ali terbukti terlibat, tetapkan sebagai tersangka. Kalau tidak terbukti, sampaikan juga secara terang kepada publik. Jangan biarkan kasus ini menggantung dan menimbulkan spekulasi,” pungkas Jalih.

MoneyTalk.id,Jakarta – Purbaya Yudhi Sadewa masih duduk sebagai Menteri Keuangan ketika membahas RAPBN 2027 bersama Komite IV DPD RI pada Senin, 14 September 2026. Ia datang sebagai pejabat yang masih memegang otoritas atas keuangan negara, menjelaskan angka-angka APBN dan agenda pembangunan yang akan menentukan arah fiskal pemerintahan Prabowo Subianto.

Namun, di tengah rapat, sebuah telepon membuatnya meninggalkan ruang pertemuan dan gedung parlemen. Beberapa jam kemudian, publik mendapati kenyataan bahwa kursi yang pagi itu masih diduduki Purbaya telah berpindah kepada Suahasil Nazara. Pergantian itu sah secara konstitusional, tetapi kecepatannya membuat satu pertanyaan sederhana sulit dihindari: apa sebenarnya yang sedang berubah?

Pertanyaan tersebut tidak boleh buru-buru diubah menjadi tuduhan. Presiden memang mempunyai hak prerogatif untuk mengganti menteri, dan pemerintah tidak wajib mempertahankan seseorang hanya karena masih menjalankan agenda resmi pada pagi harinya.

Namun, ketika pergantian terjadi begitu mendadak dan alasan spesifik tidak segera dijelaskan, ruang publik secara alamiah akan mencari penjelasan.

Di sinilah pemerintah seharusnya hadir bukan untuk membungkam pertanyaan, melainkan memberikan konteks yang memadai. Sebab transparansi bukan berarti Presiden kehilangan kewenangannya, tetapi publik memperoleh alasan yang rasional atas keputusan yang menyangkut pengelolaan keuangan negara. Apalagi jabatan Menteri Keuangan bukan posisi biasa karena di dalamnya terdapat kepentingan APBN, utang, pajak, subsidi, belanja negara, dan kepercayaan pasar.

Purbaya sendiri meninggalkan sejumlah kebijakan dan pernyataan yang layak dianalisis, bukan untuk mencari kambing hitam, melainkan untuk memahami kemungkinan persoalan yang sedang dihadapi pemerintah. Salah satunya adalah kebijakan pengelolaan likuiditas dan berbagai langkah fiskal yang mendapat perhatian karena berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi dan stabilitas keuangan.

Kebijakan semacam itu memang selalu memiliki dua sisi: dapat mendorong aktivitas ekonomi, tetapi juga harus dihitung secara hati-hati agar tidak menciptakan risiko baru bagi sistem keuangan. Karena itu, mengganti pejabat tidak otomatis berarti kebijakan sebelumnya salah, sebagaimana mempertahankan pejabat juga tidak otomatis berarti seluruh kebijakannya benar.

Ukuran yang seharusnya digunakan adalah dampak kebijakan terhadap pertumbuhan, stabilitas, kredibilitas APBN, dan kemampuan negara mengelola risiko.

Persoalan menjadi semakin menarik ketika pernyataan Purbaya mengenai utang Kereta Cepat Jakarta-Bandung atau Whoosh kembali muncul ke permukaan. Beberapa hari sebelum pergantian, Purbaya berbicara mengenai restrukturisasi utang proyek tersebut dan menyebut cicilannya sekitar Rp1 triliun per tahun dengan tenor yang sangat panjang.

Pernyataan itu kemudian mendapat sorotan dari pengamat ekonomi Defiyan Cori yang menilai persoalan sebesar Whoosh semestinya disampaikan melalui analisis yang lebih komprehensif karena menyangkut BUMN, struktur pembiayaan, kerja sama dengan China, kepemilikan, serta potensi konsekuensi terhadap keuangan negara. Tetapi dari sini kita harus berhenti sebelum melangkah terlalu jauh: tidak ada keterangan resmi bahwa pernyataan mengenai Whoosh menjadi penyebab Purbaya dicopot. Hubungan waktu antara dua peristiwa memang dapat menjadi bahan pertanyaan, tetapi belum cukup menjadi bukti hubungan sebab-akibat.

Justru yang lebih penting adalah persoalan yang berada di balik Whoosh itu sendiri. Sebuah proyek infrastruktur besar tidak cukup dinilai dari apakah keretanya beroperasi atau berapa cepat perjalanan Jakarta-Bandung ditempuh.

Ia juga harus dilihat dari struktur pembiayaan, kemampuan menghasilkan pendapatan, kewajiban utang, posisi BUMN, dan siapa yang pada akhirnya menanggung risiko apabila proyeksi bisnis tidak berjalan seperti yang diharapkan. Di sinilah peran Menteri Keuangan menjadi penting karena setiap keputusan mengenai pembiayaan negara pada akhirnya bersentuhan dengan ruang fiskal. Publik tidak perlu menuduh bahwa proyek tertentu telah membebani APBN jika faktanya belum demikian, tetapi publik berhak meminta penjelasan mengenai siapa yang menanggung risiko dan bagaimana risiko tersebut dikelola. Dengan demikian, Whoosh seharusnya menjadi pintu masuk untuk membahas tata kelola pembiayaan pembangunan, bukan sekadar bahan untuk menyerang seorang mantan menteri.

Menariknya lagi, Purbaya bukan figur yang dapat dikatakan kehilangan seluruh dukungan publik. Survei Indonesia Political Opinion periode 27 Juli–3 Agustus 2026 menempatkannya sebagai menteri dengan penilaian kinerja terbaik dengan angka 42,8 persen.

Angka tersebut tentu bukan ukuran mutlak keberhasilan seorang Menteri Keuangan karena persepsi publik berbeda dengan evaluasi teknokratis di dalam pemerintahan.

Namun, fakta itu menunjukkan bahwa pergantian Purbaya tidak mudah dijelaskan hanya dengan argumen bahwa ia tidak disukai masyarakat atau gagal membangun citra publik.

Ada kemungkinan terdapat pertimbangan lain yang tidak terlihat dalam survei, seperti koordinasi antarlembaga, konsistensi kebijakan, komunikasi internal, atau kebutuhan Presiden terhadap gaya kepemimpinan yang berbeda. Semua kemungkinan itu masih harus dibuktikan melalui kebijakan dan penjelasan resmi, bukan melalui spekulasi.

Pengangkatan Suahasil Nazara kemudian memberikan petunjuk lain. Ia bukan orang luar yang tiba-tiba masuk ke Kementerian Keuangan, melainkan sosok yang memahami mesin fiskal dari dalam. Ia mengetahui bagaimana APBN disusun, bagaimana kebijakan fiskal bekerja, dan bagaimana birokrasi Kementerian Keuangan mengelola keuangan negara.

Ketika Prabowo menekankan pentingnya menjaga kesehatan dan kredibilitas keuangan negara serta mempertahankan defisit di bawah 3 persen PDB, pesan yang muncul cukup jelas: disiplin fiskal tetap menjadi salah satu perhatian utama. Tetapi pertanyaannya kemudian bukan apakah Suahasil mampu menjaga APBN, melainkan apakah ia akan membawa pendekatan yang berbeda dari pendahulunya.

Perubahan itu baru dapat dibaca setelah masyarakat melihat keputusan nyata, bukan sekadar mendengar pernyataan pada hari pelantikan.

Di sinilah pergantian Purbaya seharusnya dibaca lebih luas. Pemerintahan Prabowo memiliki agenda pembangunan yang besar dan membutuhkan anggaran yang juga besar. Makan Bergizi Gratis membutuhkan pembiayaan, pembangunan infrastruktur membutuhkan dana, subsidi membutuhkan ruang fiskal, sementara kewajiban utang dan pembayaran bunga terus berjalan.

Pada saat yang sama, penerimaan negara tidak dapat diasumsikan selalu tumbuh sesuai dengan kebutuhan belanja. Ada batas antara ambisi pembangunan dan kemampuan kas negara, dan Menteri Keuangan berada tepat di garis batas tersebut. Karena itu, tugas seorang Menteri Keuangan bukan sekadar menyediakan uang untuk semua program pemerintah, tetapi juga memastikan bahwa setiap rupiah yang dikeluarkan memiliki dasar, manfaat, dan sumber pembiayaan yang dapat dipertanggungjawabkan.

APBN pada akhirnya adalah penguji yang paling dingin. Ia tidak peduli seberapa bagus pidato pejabat, seberapa tinggi popularitas menteri, atau seberapa meriah pelantikan di Istana.

Angka defisit akan tetap menunjukkan kondisi fiskal, rasio utang akan tetap dihitung, pembayaran bunga tetap jatuh tempo, dan ruang fiskal tetap memiliki batas. Jika program pemerintah bertambah sementara penerimaan tidak mampu mengejar kebutuhan belanja, pemerintah harus memilih antara melakukan efisiensi, meningkatkan penerimaan, mengurangi belanja, atau mencari pembiayaan tambahan. Tidak ada makan siang gratis dalam pengelolaan keuangan negara. Setiap program yang hari ini disebut sebagai prioritas pada akhirnya memiliki konsekuensi fiskal yang harus dibayar sekarang atau pada masa mendatang.

Karena itu, pergantian Menteri Keuangan seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan siapa yang dicopot dan siapa yang dilantik. Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah apakah pemerintah sedang mengubah cara mengelola APBN.

Jika Purbaya diganti karena pemerintah menginginkan koordinasi yang lebih kuat, publik perlu melihat apakah kebijakan fiskal setelah ini menjadi lebih konsisten. Jika tujuannya memperkuat kepercayaan pasar, indikatornya harus terlihat pada stabilitas fiskal dan kredibilitas kebijakan. Jika pemerintah ingin mempercepat program prioritas, publik perlu mengetahui dari mana pembiayaannya dan bagaimana risiko fiskalnya dikendalikan. Sebab perubahan personel tanpa perubahan kualitas kebijakan pada akhirnya hanya menghasilkan pergantian nama di pintu kantor.

Purbaya pergi, tetapi persoalan yang dihadapinya tidak ikut pergi. Utang Whoosh tetap harus dikelola, APBN tetap harus dijaga, program prioritas tetap membutuhkan uang, dan kewajiban negara tetap harus dibayar. Suahasil sekarang menerima meja kerja yang sama dengan tumpukan persoalan yang tidak jauh berbeda. Karena itu, pergantian ini akan diuji bukan oleh alasan yang beredar di media sosial, melainkan oleh hasil pengelolaan fiskal beberapa bulan ke depan. Apakah defisit terkendali, apakah utang dikelola secara sehat, apakah belanja semakin efektif, apakah penerimaan negara membaik, dan apakah ruang fiskal tetap cukup untuk membiayai program pemerintah tanpa menciptakan beban yang berlebihan.

Pagi hari Purbaya masih membicarakan APBN, siang hari sebuah telepon membuatnya meninggalkan rapat, dan sore hari orang lain sudah mengucapkan sumpah sebagai Menteri Keuangan. Adegan itu memang terlalu cepat untuk tidak menimbulkan pertanyaan. Tetapi pertanyaan yang sehat tidak boleh berubah menjadi tuduhan tanpa bukti. Justru karena pemerintah memiliki kewenangan mengganti menteri, pemerintah juga seharusnya memiliki keberanian menjelaskan arah perubahan tersebut kepada masyarakat.

Sebab yang sedang dipertaruhkan bukan sekadar karier Purbaya atau masa depan politik Suahasil, melainkan cara negara mengelola uang rakyat. Dan jika yang berubah bukan hanya orangnya, melainkan arah fiskalnya, maka publik berhak mengetahui ke mana sebenarnya setir ekonomi pemerintahan Prabowo sedang dibelokkan.

Penulis : Rokhmat Widodo, Pengamat politik dan ekonomi

MoneyTalk.id,Jakarta – Operasi tangkap tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di lingkungan Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) memunculkan desakan agar lembaga antirasuah itu tidak berhenti pada pejabat dan pihak-pihak yang diamankan.

Pengamat politik dan hukum Muslim Arbi mendesak KPK memeriksa Menteri ATR/Kepala BPN Nusron Wahid untuk mengungkap sejauh mana pengetahuan dan tanggung jawab pimpinan kementerian tersebut terhadap dugaan korupsi dalam pengurusan Hak Guna Bangunan (HGB).

“KPK harus memeriksa Nusron Wahid. Jangan berhenti pada anak buahnya. Kalau memang ada dugaan penyimpangan dalam pengurusan HGB, harus dibuka siapa yang mengetahui, siapa yang mengarahkan dan siapa yang menikmati hasilnya,” kata Muslim Arbi kepada wartawan, Selasa (15/9/2026).

Desakan itu muncul setelah KPK melakukan OTT di wilayah Jabodetabek pada Senin, 14 September 2026. Dalam operasi tersebut, KPK mengamankan 17 orang. Mereka antara lain pejabat di lingkungan ATR/BPN, pihak swasta dan sejumlah pihak lain yang diduga berkaitan dengan pengurusan HGB.

Juru Bicara KPK Budi Prasetyo menyebut salah satu pejabat yang diamankan adalah Direktur Jenderal Pengendalian dan Penertiban Tanah dan Ruang (PPTR) ATR/BPN Lampri. Selain itu, terdapat Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Bogor dan Kepala Kantor Pertanahan Kota Tangerang.

Kasus tersebut diduga berkaitan dengan pengurusan HGB di Kabupaten Bogor. KPK juga mengamankan pihak yang disebut terkait dengan PT Summarecon Agung Tbk. Dalam perkembangan pemeriksaan, nama politikus Partai Golkar Fahd A Rafiq turut mencuat dalam OTT tersebut.

Menurut Muslim, keterlibatan sejumlah pejabat ATR/BPN membuat pemeriksaan terhadap Nusron menjadi penting untuk memastikan apakah dugaan praktik korupsi tersebut hanya berlangsung pada level pelaksana atau memiliki mata rantai yang lebih luas.

“Menteri adalah pimpinan tertinggi di kementerian. Karena itu KPK harus melihat persoalan ini secara menyeluruh. Jangan sampai yang diperiksa hanya pejabat bawah, sementara kemungkinan adanya pengetahuan atau keterlibatan di level atas tidak ditelusuri,” ujarnya.

Muslim menilai KPK memiliki kewenangan untuk memanggil siapa pun yang keterangannya dibutuhkan dalam proses penyelidikan maupun penyidikan, termasuk pejabat aktif apabila keterangannya berkaitan dengan perkara.

Apalagi, kata dia, sektor pertanahan merupakan bidang yang rawan praktik korupsi karena menyangkut aset bernilai besar dan proses administrasi yang bersinggungan dengan kepentingan pemerintah serta dunia usaha.

“Persoalan pertanahan ini jangan dianggap perkara administratif biasa. Kalau ada permainan dalam penerbitan atau pengurusan HGB, dampaknya bisa sangat besar karena menyangkut aset dan kepastian hukum atas tanah. KPK harus membongkar sampai ke akar-akarnya,” tegas Muslim.

Desakan Muslim juga memiliki latar belakang perhatian panjangnya terhadap persoalan mafia tanah. Pada 2024, ia pernah melaporkan dugaan kasus mafia tanah di Lombok Timur kepada Menteri ATR/BPN, Kapolri dan Satgas Mafia Tanah. Saat itu Muslim meminta pemerintah turun tangan karena menilai terdapat persoalan serius dalam sengketa kepemilikan tanah.

Ia juga pernah mendesak Kementerian ATR/BPN membatalkan HGB yang menurutnya bermasalah secara administratif dalam perkara lahan yang dikaitkan dengan pembangunan lapangan golf.

Karena itu, Muslim melihat OTT terbaru KPK di lingkungan ATR/BPN sebagai momentum untuk membongkar lebih jauh persoalan tata kelola pertanahan.

“Ini momentum bagi KPK untuk membersihkan sektor pertanahan. Kalau ada pejabat yang bermain, siapa pun orangnya harus diperiksa. Jangan ada yang kebal hukum, termasuk menteri, kalau memang keterangannya diperlukan penyidik,” katanya.

Sementara itu, KPK masih mendalami perkara OTT tersebut. Dari 17 orang yang diamankan, KPK belum pada tahap awal pemeriksaan langsung menyatakan seluruhnya sebagai tersangka. Status hukum masing-masing pihak ditentukan berdasarkan hasil pemeriksaan dan kecukupan alat bukti.

Besarnya barang bukti uang yang turut diamankan dalam operasi tersebut juga menjadi perhatian. Sejumlah laporan menyebut uang tunai dalam rupiah dan valuta asing ditemukan dalam lebih dari 20 boks, kardus dan koper, dengan nilai yang diperkirakan mendekati Rp100 miliar.

Menurut Muslim, besarnya nilai uang yang disebut dalam perkara tersebut semakin memperkuat alasan agar KPK tidak hanya memburu penerima atau pemberi di lapangan.

“Kalau uang yang ditemukan nilainya sangat besar, pertanyaan publik sederhana: untuk siapa uang itu, siapa yang mengatur dan siapa yang mendapat keuntungan? Semua harus dibuka KPK secara transparan,” pungkasnya.

Hingga berita ini ditulis, belum ada pernyataan resmi dari Nusron Wahid terkait desakan Muslim Arbi tersebut. Sejumlah laporan media menyebut Nusron belum memberikan respons terkait OTT yang menyeret pejabat di lingkungan kementeriannya.

MoneyTalk.id,Jakarta – Purbaya Yudhi Sadewa dicopot dari kursi Menteri Keuangan. Pertanyaannya sederhana: apa sebenarnya dosa Purbaya?

Bukankah selama menjabat ia justru banyak berkompromi dengan agenda Presiden Prabowo? MBG tetap dicarikan anggaran, KDMP tetap didukung, persoalan Whoosh dicari jalan keluarnya. Ketika ruang fiskal makin sesak, sumber daya BUMN dan Danantara pun ikut dibidik untuk menopang APBN.

Kalau begitu, mengapa Purbaya yang harus pergi?

Jangan-jangan masalahnya bukan karena Purbaya tidak mau mengikuti Prabowo, tetapi karena ia mulai menyentuh terlalu banyak kepentingan di sekitar sumber uang negara.

Beberapa hari sebelum dicopot, Purbaya merombak besar-besaran jajaran Kementerian Keuangan, termasuk di Ditjen Pajak dan Bea Cukai.

Ini bukan sekadar rotasi pegawai. Pajak dan Bea Cukai adalah mesin utama penerimaan negara. Mengubah pejabat di sana berarti mengubah konfigurasi kekuasaan yang mengendalikan uang APBN.

Jika benar muncul resistensi terhadap rotasi tersebut, lalu beberapa hari kemudian Purbaya dicopot, publik wajar bertanya: apakah ia sedang berhadapan dengan benteng birokrasi yang tidak siap dibongkar?

Korelasi bukan bukti. Tetapi urutannya terlalu menarik untuk diabaikan.

Lebih sensitif lagi adalah soal dividen BUMN.

Purbaya ingin keuntungan BUMN dapat menopang APBN ketika kebutuhan pembiayaan negara membesar. Di sinilah kepentingan Kemenkeu dan Danantara berpotensi berhadapan.

Bagi Kemenkeu, dividen adalah penerimaan negara. Bagi Danantara, laba BUMN adalah amunisi investasi.

Jadi masalahnya bukan sekadar Rp120 triliun.

Ini soal siapa yang mengendalikan uang BUMN: APBN atau Danantara?

Belum ada bukti Danantara menekan Presiden untuk mencopot Purbaya. Tetapi tarik-menarik kepentingan ini jelas layak dicermati.

Purbaya kemudian mudah dijadikan wajah persoalan fiskal. Padahal ia bukan pencipta MBG, KDMP, Whoosh, atau seluruh prioritas belanja pemerintah. Ia hanya bendahara yang disuruh membuat semuanya bisa dibayar.

Ketika ambisi belanja lebih besar daripada penerimaan, pemerintah harus mencari uang: menaikkan penerimaan, memangkas belanja, menambah utang, atau mengeruk sumber kekayaan negara.

Purbaya memilih jalan kompromi. Tetapi ketika cara mencari uang itu mulai bersinggungan dengan birokrasi penerimaan dan pengelola aset BUMN, posisinya menjadi rentan.

Maka mengganti Menteri Keuangan bisa menjadi solusi politik paling mudah:

orangnya diganti, tagihannya tetap.

Penggantinya, Suahasil Nazara, membawa pesan menjaga kesehatan dan kredibilitas APBN serta defisit di bawah 3 persen. Artinya, Istana ingin menenangkan pasar tanpa harus membatalkan ambisi politik Prabowo.

Tetapi mengganti penjaga kas tidak mengubah daftar belanja.

Kalau lubang fiskal lahir dari ambisi politik yang terlalu besar, Purbaya bukan sumber masalah. Ia hanya orang yang kebetulan memegang kalkulator ketika angka-angka mulai tidak masuk akal.

Maka pertanyaan sebenarnya:

Apakah Purbaya gagal menjaga APBN, atau justru dicopot karena cara dia mencari uang mulai mengganggu terlalu banyak kepentingan di sekitar sumber penerimaan dan kekayaan negara?

Jika yang kedua, Purbaya bukan sekadar tumbal fiscal

Ia mungkin tumbal dari perebutan kendali atas uang negara.

Penulis : Kawan Nazar

MoneyTalk.id,Jakarta – Keputusan Presiden Prabowo Subianto mengganti Purbaya Yudhi Sadewa dari posisi Menteri Keuangan dan menunjuk Suahasil Nazara dinilai sebagai langkah tepat untuk memperbaiki pengelolaan fiskal sekaligus memperkuat koordinasi pemerintahan.

Aktivis sosial sekaligus Eksponen Angkatan Reformasi 98, Andrianto menilai pergantian tersebut tidak dapat dilihat hanya sebagai rotasi jabatan. Menurutnya, posisi Menteri Keuangan sangat strategis karena menyangkut arah APBN, hubungan keuangan pusat dan daerah, serta kemampuan pemerintah menjalankan program-program prioritas Presiden Prabowo.

“Ini tepat. Karena masalah fiskal. Purbaya melakukan tindakan yang tidak selaras dengan Presiden Prabowo,” kata Andrianto dalam pernyataan kepada wartawan, Selasa (15/9/2026).

Presiden Prabowo melantik Suahasil Nazara sebagai Menteri Keuangan di Istana Negara, Jakarta, Senin (14/9/2026). Suahasil sebelumnya menjabat Wakil Menteri Keuangan dan menggantikan Purbaya yang baru sekitar satu tahun menjabat sebagai bendahara negara.

Menurut Andrianto, persoalan utama bukan semata-mata mengenai gaya komunikasi seorang menteri, melainkan bagaimana seorang Menteri Keuangan mampu menerjemahkan agenda Presiden ke dalam kebijakan fiskal yang terkoordinasi.

Ia menilai Purbaya tidak cukup berhasil melakukan harmonisasi di internal Kementerian Keuangan maupun dengan kementerian dan lembaga lain.

“Masalahnya Purbaya tidak melakukan harmonisasi di Kementerian Keuangan. Dia juga tidak mampu mengakomodasi kepala daerah terkait Transfer Keuangan Daerah (TKD),” ujarnya.

Andrianto melihat hubungan pusat dan daerah menjadi salah satu titik penting dalam pengelolaan fiskal. TKD bukan hanya persoalan angka dalam APBN, tetapi berkaitan langsung dengan kemampuan pemerintah daerah membiayai pelayanan publik, pembangunan infrastruktur dan program sosial.

Karena itu, menurut dia, kebijakan fiskal pemerintah pusat membutuhkan komunikasi politik dan administratif yang kuat dengan kepala daerah. “Komunikasi Purbaya buruk,” tegas Andrianto.

Andrianto menilai Menteri Keuangan harus mampu menjaga keseimbangan antara disiplin fiskal dengan kebutuhan pembangunan. Apalagi pemerintahan Prabowo membawa sejumlah program besar yang membutuhkan dukungan anggaran dan koordinasi lintas kementerian.

Dalam situasi seperti itu, Menteri Keuangan tidak cukup hanya menghitung kemampuan kas negara. Ia juga harus mampu memastikan kebijakan fiskal sejalan dengan prioritas Presiden, kementerian teknis, pemerintah daerah, Bank Indonesia, Bappenas, serta lembaga negara lainnya.

Pergantian Purbaya dengan Suahasil, menurut Andrianto, menunjukkan kebutuhan Presiden terhadap sosok Menkeu yang lebih kuat dalam koordinasi dan komunikasi birokrasi.

Suahasil bukan orang baru di lingkungan Kementerian Keuangan. Ia merupakan ekonom dan akademisi yang sebelumnya menjabat Wakil Menteri Keuangan. Ia juga pernah memimpin Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan.

“Suahasil sudah memahami dapur Kementerian Keuangan. Dia tahu bagaimana kebijakan fiskal disusun, bagaimana berkoordinasi dengan kementerian lain dan bagaimana menjaga komunikasi dengan pemerintah daerah,” kata Andrianto.

Menurut Andrianto, tantangan Suahasil bukan pekerjaan ringan. Menteri Keuangan baru harus segera membangun kembali komunikasi dengan kepala daerah dan memastikan kebijakan transfer ke daerah tidak menimbulkan ketegangan baru antara pemerintah pusat dan daerah.

Selain itu, Suahasil juga dituntut menjaga kredibilitas APBN di tengah kebutuhan pembiayaan program-program pemerintahan Prabowo.

“Presiden membutuhkan Menteri Keuangan yang bisa menjadi bagian dari orkestrasi pemerintahan, bukan berjalan dengan agenda sendiri,” ujarnya.

Andrianto mengatakan, ke depan keberhasilan Suahasil tidak hanya akan ditentukan oleh kemampuan teknokratisnya, tetapi juga kemampuannya membangun komunikasi politik.

“Yang dibutuhkan sekarang adalah harmonisasi. Antara Presiden, Kementerian Keuangan, kementerian dan lembaga, pemerintah daerah, DPR, DPD dan Bank Indonesia. Jangan sampai kebijakan fiskal berjalan sendiri-sendiri,” katanya.

Menurut dia, APBN merupakan instrumen utama untuk menerjemahkan visi politik pemerintahan ke dalam program konkret. Karena itu, Menteri Keuangan harus mampu menjadi penghubung antara kepentingan fiskal dengan agenda pembangunan nasional.

“Kalau koordinasinya kuat, fiskal bisa menjadi mesin pembangunan. Tetapi kalau komunikasi buruk dan kebijakan tidak harmonis, yang muncul justru konflik kepentingan antara pusat dan daerah,” pungkas Andrianto.

MoneyTalk.id,Jakarta – Wartawan senior Herry Gunawan menyoroti persoalan transparansi perjanjian pemerintah Indonesia dengan China terkait proyek kereta cepat Jakarta-Bandung. Menurut dia, sampai saat ini publik belum mengetahui secara utuh isi perjanjian yang mengatur berbagai konsekuensi dan risiko proyek tersebut.

Herry bahkan mengaitkan persoalan itu dengan posisi Purbaya Yudhi Sadewa yang menurutnya sempat berhadapan dengan persoalan pembebanan kewajiban proyek. Ia menggambarkan adanya tarik-menarik kepentingan antara Danantara dan pihak yang harus menanggung beban tersebut.

“Pak Purbaya itu kejedot-kejedot dengan Danantara. Danantaranya lebih kuat sehingga Danantara bilang, ‘Eh, ini beban lu ambil deh,’” kata Herry di channel YouTube Forum Keadilan Madilog, Selasa (15/9/2026).

Menurut Herry, terdapat kemungkinan adanya ketentuan dalam perjanjian yang membuat pihak tertentu tidak memiliki keleluasaan untuk menolak pengalihan beban tersebut. Namun, ia mengakui bahwa isi perjanjian yang dimaksud hingga kini belum diketahui publik secara terbuka.

“Atau kemudian dibaca dalam perjanjian yang membuat dia tidak bisa menolak. Yang perjanjian itu sampai hari ini masih menjadi misteri kayak supersar,” ujarnya.

Herry mengatakan, persoalan tersebut menjadi penting karena sebelumnya terdapat pandangan bahwa keuntungan atau aset terkait proyek kereta cepat dapat dikelola tanpa membebani pihak lain. Namun, menurut dia, perkembangan berikutnya justru menunjukkan adanya persoalan mengenai siapa yang akhirnya menanggung risiko.

“Pak Purbaya yang awalnya menyatakan enak aja, Danantara keuntungan BUMN dia yang ambil. Kok wus begitu diserahin ke kita. Awalnya gagah kan begitu, akhirnya nyerah,” katanya.

Herry juga mempertanyakan sikap pemerintah yang dinilainya belum membuka secara transparan perjanjian dengan pemerintah China terkait proyek tersebut.

“Pemerintah tidak pernah membuka atau melakukan transparansi tentang perjanjian dia dengan pemerintah China. Sampai hari ini semua orang itu buta,” tegasnya.

Menurut Herry, keterbukaan mengenai perjanjian menjadi penting karena proyek infrastruktur berskala besar tidak hanya menyangkut kepentingan pemerintah saat ini, tetapi dapat berdampak terhadap keuangan negara dalam jangka panjang.

Ia kemudian membandingkan persoalan tersebut dengan kasus pembangunan pelabuhan di Sri Lanka yang dibiayai melalui pinjaman dari China. Herry menyinggung bagaimana persoalan utang proyek tersebut kemudian berujung pada pengelolaan pelabuhan oleh China dalam jangka panjang.

“Pada kasus Sri Lanka, pemerintah China memberikan pinjaman untuk membangun pelabuhan di Sri Lanka. Utang ini macet, dikelola oleh China selama 99 tahun,” ujarnya.

Herry tidak berhenti pada persoalan teknis pembiayaan. Ia mempertanyakan siapa saja pejabat Indonesia yang mengetahui secara detail isi perjanjian dan klausul risiko dalam proyek kereta cepat.

Herry menyebut sejumlah nama yang menurutnya memiliki posisi strategis dalam proses kebijakan dan negosiasi proyek tersebut. Ia menyebut Presiden Joko Widodo, Luhut Binsar Pandjaitan, Airlangga Hartarto hingga Agus Harimurti Yudhoyono.

“Siapa saja sebetulnya yang tahu perjanjian itu? Pasti Presiden Jokowi,” katanya.

Ia kemudian menyebut Luhut yang selama ini dikenal terlibat dalam berbagai proses negosiasi dengan China.

“Kemudian Pak Luhut, dia yang selama ini melakukan negosiasi dengan China. Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto,” ujarnya.

Herry juga menyinggung posisi AHY dalam struktur yang berkaitan dengan proyek kereta cepat. Menurut dia, pejabat yang terlibat dalam pengambilan keputusan harus mengetahui secara mendalam seluruh klausul yang berhubungan dengan risiko proyek.

“Pak AHY ini sebagai ketua komite kereta cepat, buka itu. Ada klausul yang risikonya jauh lebih tinggi ketika proyek ini digagalkan,” kata Herry.

Herry kemudian melontarkan kritik keras terhadap para pengambil kebijakan yang menurutnya memiliki tanggung jawab kepada masyarakat.

Ia menilai apabila terdapat kesalahan dalam perencanaan maupun pengambilan keputusan terkait proyek tersebut, konsekuensinya tidak berhenti pada pemerintahan saat ini.

“Mereka mewakili rakyat. Sekarang ini yang menjadi korban adalah rakyat,” ujarnya.

Bahkan, Herry memperkirakan beban yang muncul dari proyek tersebut dapat dirasakan oleh masyarakat dalam waktu sangat panjang.

“Bukan hanya rakyat hari ini, tapi rakyat pada empat generasi yang akan datang,” katanya.

Pernyataan Herry tersebut pada dasarnya merupakan pandangan dan kritik terhadap tata kelola serta transparansi proyek. Klaim mengenai isi klausul perjanjian, pihak yang terikat secara hukum, serta besaran dan jangka waktu risiko tetap memerlukan pembuktian melalui dokumen perjanjian resmi yang dibuka kepada publik.

Bagi Herry, persoalan utamanya bukan hanya siapa yang saat ini memegang atau mengelola aset dan kewajiban proyek, melainkan sejauh mana negara memberikan informasi kepada masyarakat mengenai keputusan yang berpotensi menimbulkan konsekuensi fiskal dalam jangka panjang.

MoneyTalk.id, Jakarta – Polemik mengenai keaslian ijazah Presiden ke-7 RI Joko Widodo kembali menjadi sorotan. Mantan anggota Badan Intelijen Negara (BIN), Kolonel Purnawirawan Sri Radjasa Chandra, mengaku memiliki keyakinan penuh bahwa ijazah Jokowi palsu.

Pernyataan tersebut disampaikan Sri Radjasa ketika membicarakan informasi yang diperolehnya dari lingkungan Pasar Pramuka, Jakarta. Ia menyebut memiliki relasi lama dengan sejumlah orang di kawasan tersebut, termasuk seseorang bernama Kana sebagai keponakan Paiman dan bekerja di Pasar Pramuka.

Menurut Sri Radjasa, dirinya mengenal kawasan Pasar Pramuka sejak lama karena pernah beraktivitas di sana ketika masih menjalankan tugas intelijen. Dari hubungan tersebut, ia mengaku memperoleh informasi mengenai situasi yang berkembang ketika isu ijazah Jokowi mulai ramai dibicarakan pada 2025.

Sri Radjasa kemudian mengaitkan informasi tersebut dengan sosok Paiman Raharjo. Ia mempertanyakan posisi Paiman yang menurutnya memperoleh sejumlah jabatan strategis, termasuk pernah menjadi Wakil Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi serta menduduki posisi komisaris.

Ia juga menyebut adanya informasi dari orang-orang di sekitar Pasar Pramuka mengenai Paiman ketika isu ijazah Jokowi mulai mencuat. Namun, informasi tersebut menurut Sri Radjasa semestinya tidak berhenti sebagai percakapan di lingkungan informal.

“Kasihan Om Paiman,” ujar Sri Radjasa, mengutip percakapan yang menurutnya pernah muncul di lingkungan tersebut di channel YouTube Refly Harun, Selasa (15/9/2026).

Lebih jauh, Sri Radjasa menilai aparat penegak hukum seharusnya menelusuri setiap informasi yang berkaitan dengan polemik ijazah Jokowi. Ia menduga masih terdapat informasi lain yang dapat dikembangkan untuk mengetahui pihak-pihak yang berada di balik persoalan tersebut.

Menurut dia, apabila ada pihak yang mengetahui proses atau pihak yang disebut-sebut berada di belakang pembuatan dokumen yang dipersoalkan, keterangan tersebut semestinya diperiksa dan diverifikasi secara hukum.

“Seharusnya polisi mengembangkan,” tegasnya.

Sri Radjasa bahkan menyatakan keyakinannya terhadap dugaan ijazah palsu Jokowi 100 persen.

MoneyTalk.id,Jakarta –  Akun media sosial Independen Sumatra mengunggah sebuah tulisan pada 14 September 2026 yang mempertanyakan latar belakang politik di balik pengangkatan Suahasil Nazara sebagai Menteri Keuangan menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa di pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Tulisan tersebut mengangkat rekam jejak Suahasil Nazara yang sebelumnya telah berada di pemerintahan pada era Presiden Joko Widodo (Jokowi).

“Suahasil Nazara naik jadi Menkeu. Jejak Jokowi makin kuat di pemerintahan Prabowo?” demikian judul yang dicantumkan Independen Sumatra dalam unggahannya.

Independen Sumatra menulis bahwa ada fakta yang menurut mereka tidak bisa diabaikan.

“Suahasil Nazara bukan wajah baru di pemerintahan.” ucapnya.

“Pada 2019, ketika Jokowi masih menjadi Presiden, Suahasil diminta langsung menempati posisi Wakil Menteri Keuangan. Saat itu ia merupakan Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kemenkeu.” sambungnya.

Menurut tulisan tersebut, posisi itu membuat Suahasil menjadi bagian dari pemerintahan Jokowi.

“Artinya, Suahasil adalah bagian dari mesin pemerintahan Jokowi sejak Kabinet Indonesia Maju.” jelasnya.

Independen Sumatra kemudian menyoroti keberlanjutan karier Suahasil setelah pemerintahan berganti.

“Setelah pemerintahan berganti, Suahasil ternyata tetap bertahan.” katanya.

Tulisan itu menyebut Suahasil kembali menjadi Wakil Menteri Keuangan pada Kabinet Merah Putih setelah dilantik pada Oktober 2024. Pada 14 September 2026, menurut unggahan tersebut, Prabowo menaikkan Suahasil menjadi Menteri Keuangan menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa.

“Nah, di sinilah pertanyaan politiknya mulai menarik wak.” kata dia.

Independen Sumatra kemudian mempertanyakan apakah pengangkatan tersebut semata-mata didasarkan pada kompetensi atau juga memiliki pertimbangan politik.

“Apakah ini murni soal kompetensi? Atau ada kalkulasi politik yang jauh lebih besar?” tanyanya.

Menurut tulisan itu, pertanyaan tersebut muncul karena Suahasil sebelumnya dibesarkan dalam pemerintahan Jokowi dan kini memperoleh posisi strategis dalam pemerintahan Prabowo.

“Sebab orang yang dibesarkan dalam pemerintahan Jokowi kini mendapatkan posisi yang sangat strategis di pemerintahan Prabowo.” lanjutnya.

Tulisan tersebut juga menekankan strategisnya posisi Menteri Keuangan.

“MENKEU BUKAN JABATAN BIASA.” jelasnya.

Independen Sumatra menyebut Menteri Keuangan memiliki kendali atas sejumlah aspek penting pengelolaan keuangan negara.

“Di tangan Menkeu ada kendali atas APBN, penerimaan negara, belanja negara, kebijakan fiskal, pembiayaan dan arah pengelolaan keuangan negara.” bebernya.

Karena itu, menurut mereka, siapa pun yang menduduki posisi tersebut memiliki konsekuensi politik dan ekonomi yang besar.

Namun, tulisan tersebut juga memberikan sejumlah batasan terhadap kesimpulan politik yang diajukan.

“Awak tidak mengatakan Suahasil adalah ORANG JOKOWI.” kata dia.

“Awak juga tidak punya bukti untuk mengatakan dia adalah PROKSI GENG SOLO.” sambungnya.

Independen Sumatra menegaskan bahwa yang mereka anggap sebagai fakta adalah rekam jejak Suahasil dalam pemerintahan Jokowi.

“Tapi rekam jejaknya dengan pemerintahan Jokowi adalah fakta.” kata dia.

Selanjutnya, tulisan itu mempertanyakan apakah pengangkatan Suahasil merupakan profesionalisme atau bagian dari desain politik yang lebih besar.

“Maka publik berhak bertanya: APAKAH INI SEKADAR PROFESIONALISME? ATAU ADA DESAIN POLITIK YANG LEBIH BESAR?” tanyanya.

Independen Sumatra juga menyampaikan kemungkinan mengenai adanya upaya mempertahankan pengaruh politik era sebelumnya, tetapi tidak menyatakan hal tersebut sebagai fakta.

“Kalau benar ada kelompok yang sedang berusaha mempertahankan pengaruh politik era lama di dalam pemerintahan baru, maka kursi Menkeu tentu menjadi salah satu titik paling strategis.” tanyanya kembali.

Tulisan itu kemudian kembali memberikan penyangkalan terhadap kesimpulan bahwa Suahasil pasti terlibat dalam skenario tersebut.

“Bukan berarti Suahasil pasti bagian dari skenario tersebut. Belum ada bukti untuk menyimpulkan sejauh itu.” tukasnya.

Dalam konteks tersebut, Independen Sumatra mengatakan politik bukan hanya menyangkut orang yang menduduki jabatan, tetapi juga proses di balik penunjukan dan akses terhadap pusat kekuasaan.

“Tetapi politik tidak hanya berbicara tentang siapa yang duduk di kursi. Politik juga berbicara tentang SIAPA YANG MEMILIH, SIAPA YANG DIPERTAHANKAN, DAN SIAPA YANG MENDAPATKAN AKSES KE PUSAT KEKUASAAN.” terangnya.

Tulisan tersebut kemudian mengajukan dua kemungkinan mengenai arah politik pemerintahan Prabowo.

“APAKAH PRABOWO SEDANG MEMPERKUAT PEMERINTAHANNYA SENDIRI? ATAU TANPA DISADARI, JUSTRU MEMBERI RUANG BAGI JARINGAN KEKUASAAN LAMA UNTUK KEMBALI BEKERJA DARI DALAM?” tanyanya menegasnya

Independen Sumatra menutup tulisannya dengan menekankan bahwa kesimpulan mengenai adanya operasi politik tidak dapat dibuat tanpa bukti.

“Kalau kelak muncul bukti bahwa ada operasi politik untuk melemahkan Prabowo dari dalam, barulah publik bisa menilai apakah semua ini hanya kebetulan… atau memang ada permainan besar di baliknya.” tuturnya.

Tulisan itu diakhiri dengan seruan:

“JANGAN MENUDUH TANPA BUKTI. TAPI JANGAN JUGA BERHENTI BERTANYA.” tandasnya.

Materi tersebut merupakan analisis dan pertanyaan politik yang disampaikan oleh Independen Sumatra, bukan bukti bahwa Suahasil Nazara merupakan “orang Jokowi”, “proksi Geng Solo”, atau terlibat dalam operasi politik untuk melemahkan Prabowo.

Dengan demikian, dugaan mengenai adanya “desain politik” atau “jaringan kekuasaan lama” perlu dibedakan dari fakta mengenai rekam jejak jabatan Suahasil. Tanpa bukti tambahan atau pernyataan dari pihak-pihak yang dituding maupun pihak pemerintah, dugaan tersebut belum dapat dinyatakan sebagai fakta.

Dari sisi pemerintahan Prabowo, pengangkatan seorang pejabat yang telah berpengalaman di Kementerian Keuangan juga dapat dipandang sebagai keputusan berbasis pengalaman dan kompetensi administratif. Karena itu, alasan resmi dan pertimbangan Presiden Prabowo dalam memilih Suahasil Nazara menjadi penting untuk melihat apakah keputusan tersebut terutama merupakan pertimbangan profesional, politik, atau kombinasi keduanya.