MoneyTalk, Jakarta – Dalam narasinya yang disampaikan di kanal YouTube pada Senin (23/09/24), Awalil Rizky mengungkapkan kekhawatirannya terkait kondisi utang luar negeri (ULN) Indonesia yang semakin mengkhawatirkan. Awalil memaparkan bahwa bentuk ULN Indonesia saat ini lebih banyak berbentuk surat berharga dibandingkan pinjaman langsung seperti di masa pemerintahan Soeharto. Kondisi ini membuat kemungkinan penyalahgunaan ULN semakin besar, karena surat berharga tidak seketat pinjaman dalam hal pengawasan penggunaan dan negosiasi restrukturisasi jika terjadi kesulitan pembayaran.
Porsi Utang BUMN
Salah satu poin kritis yang disorot adalah tingginya porsi utang BUMN dalam struktur ULN Indonesia. Di era Presiden Jokowi, BUMN semakin banyak terlibat dalam utang luar negeri. Saat Jokowi memulai pemerintahannya, utang BUMN hanya sekitar 17,31 miliar dolar, namun kini mencapai 46,23 miliar dolar per Juli 2024. Hal ini menunjukkan peningkatan signifikan yang menambah risiko ULN Indonesia, terutama karena utang BUMN termasuk dalam kategori utang swasta yang sering terabaikan dalam pembahasan publik.
Posisi ULN Indonesia per Juli 2024 mencapai 414 miliar dolar, terdiri dari utang pemerintah, Bank Indonesia, dan swasta. Rasio ULN terhadap PDB pada Juni 2024 tercatat di angka 30%, masih dalam batas aman menurut beberapa standar internasional, namun sudah melebihi batas yang disarankan oleh banyak negara berkembang yang umumnya menjaga rasio di bawah 25%. Kondisi ini memberikan sinyal bahwa meskipun ULN masih terkendali, Indonesia tetap berada di atas batas aman dan berisiko tinggi jika tidak dikelola dengan baik.
Utang dalam Bentuk Surat Berharga
Awalil juga menyoroti bahwa utang dalam bentuk surat berharga memiliki risiko yang lebih tinggi karena tidak bisa dinegosiasi ulang seperti pinjaman langsung. Ini berpotensi menambah beban utang karena kewajiban pembayaran jatuh tempo yang tidak fleksibel. Selain itu, meskipun Bank Indonesia memiliki kemampuan membayar utang yang relatif stabil, peningkatan signifikan dalam utang BI baru-baru ini, khususnya melalui penerbitan surat berharga rupiah yang dibeli asing, menunjukkan adanya tekanan yang tidak kecil terhadap posisi cadangan devisa nasional.
Secara keseluruhan, meskipun pemerintah terus menyatakan bahwa ULN Indonesia terkendali, terdapat beberapa indikasi yang menunjukkan bahwa risiko ULN semakin meningkat. Dengan terus meningkatnya porsi utang BUMN dan swasta, serta struktur utang yang lebih banyak berbentuk surat berharga, Indonesia perlu lebih waspada dalam mengelola ULN agar tidak menjadi beban besar yang sulit diatasi di masa depan.(c@kra)





