MoneyTalk, Jakarta – Kabar panas kembali menyeruak dari dunia keuangan nasional! Wacana pemangkasan tiga nol dari mata uang rupiah alias redenominasi kembali mencuat setelah beberapa tahun tenggelam. Lewat kanal YouTube Calon Sarjana pada Minggu (10/10), topik ini kembali dibedah habis-habisan oleh host Jini dengan gaya khasnya yang santai tapi nyelekit.
“Beberapa tahun belakangan muncul rencana BI buat hapus tiga angka nol di rupiah. Kedengarannya simpel, tapi kok belum dijalankan juga ya?” kata Jini membuka videonya dengan nada penasaran.
“100 Ribu Jadi 100, Tapi Nilainya Sama!”
Dalam videonya, Calon Sarjana menjelaskan, redenominasi bukan berarti nilai uang jadi turun. “Nilai ekonominya tetap, cuma angkanya disederhanakan,” ujar Jini.
Contohnya, uang Rp100.000 nantinya akan jadi Rp100 aja tapi harga barang juga ikut nyusut. Jadi, ngopi 5 ribu nanti tetap bayar Rp5. Logikanya, “bukan potong nilai, tapi potong nol.”
Namun, Jini menegaskan, jangan samakan redenominasi dengan “Sanering” kebijakan sadis di era 1950-an dan 1959 ketika nilai uang benar-benar dipangkas setengah. “Dulu tuh parah, Guys! Bayar ST manis aja mesti dua lembar duit gara-gara nilai uang dipotong. Daya beli langsung jeblok!” ungkapnya.
BI Sudah Siapkan Sejak 2010, Tapi Kok Belum Jalan?
Ternyata, Bank Indonesia sudah menggagas redenominasi sejak tahun 2010, bahkan sempat digodok lagi pada 2020. Tapi pelaksanaannya? Masih menggantung.
“Enggak segampang motong kertas, Teman-teman. Ini menyangkut hukum dan stabilitas ekonomi nasional,” jelas Jini.
Menurutnya, mencetak uang baru bukan sekadar desain ulang. Pemerintah harus menyeimbangkan penarikan uang lama dan peredaran uang baru. Kalau salah perhitungan, rupiah bisa jeblok dan inflasi meledak!
“Bayangin kalau semua orang tiba-tiba belanja, barang jadi langka, harga naik gila-gilaan kayak 1965 dulu inflasi 650%! Segelas ST bisa jadi Rp37.500!” ujar Jini dengan nada kocak tapi tajam.
“Jangan Sampai Kayak Rusia dan Korea Utara!”
Calon Sarjana juga membongkar sejumlah kasus gagal redenominasi dunia.
Mulai dari Rusia yang bikin warganya bingung bedain uang baru dan lama, sampai Korea Utara yang bikin rakyatnya panik massal karena waktu tukar uangnya super singkat.
“Bayangin aja semua orang lari ke bank, tapi uang barunya belum siap! Chaos total!” kata Jini.
Lalu, ada Brasil dan Zimbabwe yang nekat nyabut nol pas ekonominya lagi ambruk hasilnya? Harga barang naik ribuan persen, hyperinflasi menggila!
“Ghana pun kena batunya, harga-harga malah naik lima persen gara-gara mayoritas transaksinya tunai. Jadi, potong nol itu bukan perkara main-main, Guys,” tambahnya.
“Bukan Cuma Soal Nol, Tapi Soal Gengsi Negara!”
Meski banyak risiko, Calon Sarjana juga menyorot sisi positifnya.
Kalau redenominasi sukses, Indonesia bakal dipandang dunia sebagai negara berkeuangan stabil dan berwibawa. “Bayangin deh, kalau BI berhasil tanpa drama, citra ekonomi kita bakal naik di mata dunia. Investor asing bakal berdatangan, lapangan kerja makin banyak!” ucap Jini penuh semangat.
Selain itu, masyarakat juga akan merasakan manfaat langsung “Enggak ribet lagi sama nol! Transfer, ngetik harga, sampai ngitung kembalian jadi lebih gampang. Enggak ada lagi tuh salah ketik satu nol terus jadi panik!” candanya.
Jini menantang para penonton, “Kalau nanti pemerintah mulai ngomongin redenominasi lagi, jangan panik! Dengerin baik-baik, cari info dari sumber yang benar. Karena sukses atau gagalnya ini bukan cuma di tangan pemerintah, tapi juga di tangan kita semua!”
Dengan gaya khasnya yang ringan tapi informatif, Calon Sarjana berhasil bikin isu ekonomi serius jadi tontonan yang seru dan renyah.
“Kalau sampai gagal, bisa-bisa rupiah kita malah kayak di film distopia nolnya hilang, nilainya juga lenyap!” tutup Jini dengan tawa.





