MoneyTalk, Jakarta – Dalam kanal YouTube-nya pada Jumat (4/10), Awalil Rizky menjelaskan berbagai tantangan industrialisasi Indonesia saat ini, mulai dari fenomena deindustrialisasi dini, dampak impor ilegal, hingga pembiayaan industri yang kurang memadai. Ia juga membahas perlunya strategi industrialisasi yang lebih menyeluruh untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Artikel ini merangkum poin-poin kunci dari pemaparan Awalil, menyoroti permasalahan serta solusi potensial yang dapat dipertimbangkan pemerintah ke depan.
Fenomena Deindustrialisasi Dini di Indonesia
Awalil mengangkat fenomena “deindustrialisasi dini” yang tengah terjadi di Indonesia, sebuah kondisi di mana sektor industri mengalami penurunan porsi sebelum mencapai pendapatan per kapita yang tinggi. Idealnya, sektor industri harus mampu mencapai kontribusi sekitar 30%-35% terhadap PDB, namun kenyataannya kontribusi ini sudah turun sebelum mencapai angka tersebut. Kondisi ini berbeda dengan negara maju seperti Jerman dan Jepang yang mengalami deindustrialisasi setelah ekonominya mencapai level yang tinggi.
Fenomena ini juga terlihat pada data pertumbuhan industri di era pemerintahan Jokowi yang jauh di bawah target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN). Dalam RPJMN pertama (2015-2019), pemerintah menargetkan pertumbuhan industri sebesar 7,4%, namun faktanya hanya mencapai rata-rata 4,5%. Begitu pula pada periode kedua, yang semakin terpengaruh oleh pandemi COVID-19, sehingga target pertumbuhan industri sulit tercapai.
Impor Ilegal dan Penurunan Permintaan Domestik
Salah satu ancaman terbesar bagi industri nasional adalah membanjirnya produk impor ilegal, khususnya pada industri tekstil dan garmen. Awalil menyoroti perbedaan data antara neraca perdagangan Tiongkok dan Indonesia yang menunjukkan adanya potensi penyelundupan barang. Fenomena ini memperburuk kondisi pasar domestik, karena produk-produk impor ilegal ini mengambil pangsa pasar industri lokal yang seharusnya bisa dikelola oleh industri dalam negeri.
Permintaan domestik yang menurun juga menjadi tantangan bagi industri. Penurunan ini berdampak pada indeks manajer pembelian (PMI), yang mencerminkan kinerja sektor manufaktur. Meski permintaan domestik sempat menopang PMI di beberapa kuartal terakhir, penurunan permintaan ini perlahan memicu kontraksi. Hal ini menunjukkan bahwa ketahanan permintaan domestik sangat memengaruhi stabilitas industri.
Kegagalan Transformasi Ekonomi yang Tidak by Design
Menurut Awalil, pemerintah perlu mendesain strategi industrialisasi yang jelas, dengan membedakan industri berorientasi ekspor dan substitusi impor. Selama ini, perkembangan industri di Indonesia dianggap “by blessing” – lebih dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti kenaikan harga komoditas, ketimbang perencanaan yang matang.
Selain itu, mayoritas industri yang berkembang masih berorientasi pada pasar domestik, seperti industri makanan dan minuman serta kimia farmasi, bukan pada ekspor. Akibatnya, defisit transaksi berjalan semakin meningkat karena ketergantungan pada impor. Hal ini menunjukkan perlunya perubahan pendekatan, dari yang berbasis pada permintaan domestik menuju strategi industrialisasi yang lebih komprehensif.
Masalah Pembiayaan Industri dan Peran Sektor Perbankan
Awalil juga menyoroti permasalahan dalam pembiayaan industri. Industri di Indonesia banyak bergantung pada sektor perbankan, yang bersifat prosiklikal atau mengikuti siklus ekonomi. Jika sektor industri melemah, perbankan cenderung menarik pembiayaan dan lebih memilih untuk berinvestasi di instrumen surat berharga yang aman, seperti Surat Berharga Negara (SBN).
Pada sisi fiskal, Awalil mengkritisi anggaran untuk Kementerian Perindustrian yang hanya mendapat alokasi belasan triliun, jauh di bawah anggaran kementerian lainnya seperti Kementerian Pertahanan. Anggaran yang terbatas ini membuat Kementerian Perindustrian sulit menjalankan program yang dapat mendukung pertumbuhan industri.
Tantangan Kelas Menengah dan Daya Beli yang Menurun
Awalil juga menyoroti dampak deindustrialisasi terhadap kelas menengah dan daya beli masyarakat. Menurutnya, kelas menengah terbentuk akibat dari kinerja ekonomi, termasuk pertumbuhan sektor industri. Ketika industri mengalami penurunan, jumlah kelas menengah pun ikut berkurang, yang pada akhirnya berdampak pada daya beli masyarakat.
Untuk menghadapi tantangan ini, Awalil menyarankan perlunya strategi yang holistik. Pemerintah tidak hanya perlu fokus pada angka-angka pertumbuhan, tetapi juga pada struktur industri yang lebih berkelanjutan, dengan mendorong sektor yang mampu menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan daya beli masyarakat.
Membangun Strategi Industrialisasi yang Tepat untuk Indonesia
Untuk merespon tantangan tersebut, Awalil merekomendasikan pendekatan industrialisasi yang terarah, mengombinasikan strategi substitusi impor dengan orientasi ekspor. Beberapa sektor, seperti pertanian dan furnitur, dapat dikembangkan untuk kebutuhan domestik dan ekspor dengan dukungan teknologi yang tepat guna dan investasi yang lebih besar. Selain itu, Awalil menegaskan bahwa piramida modal usaha, dari usaha kecil hingga besar, harus saling terhubung agar mampu memberikan dampak positif terhadap perekonomian secara keseluruhan.
Pemikiran Awalil Rizky ini menunjukkan perlunya perubahan paradigma dalam pendekatan industrialisasi Indonesia. Pemerintah perlu mengevaluasi kembali arah kebijakan industri, memastikan bahwa strategi tersebut mampu mendorong pertumbuhan sektor industri yang berkelanjutan, memperkuat permintaan domestik, serta mendukung daya saing ekspor. Jika hal ini tidak segera ditangani, Indonesia berpotensi sulit lepas dari jebakan pendapatan menengah (middle-income trap), yang pada akhirnya akan menghambat pencapaian kesejahteraan masyarakat di masa depan.(c@kra)





