MoneyTalk, Jakarta – Ekonom senior Yanuar Rizky menyoroti gaya kebijakan Menteri Keuangan baru, Purbaya, yang dianggap “koboi” dalam menangani fiskal dan moneter. Pernyataan ini ia sampaikan dalam diskusi di kanal YouTube Awalil Rizky, Minggu (14/09).
Menurut Yanuar, apa yang dilakukan Purbaya terkesan melampaui otoritasnya sebagai pengelola fiskal, karena justru banyak bicara soal moneter yang semestinya domain Bank Indonesia.
“Dia terang-terangan di DPR bilang 1–2 tahun terakhir kebijakan fiskal dan moneter tidak tepat. Padahal tugas dia fiskal, bukan moneter. Jadi gaya koboi ini bisa berbahaya,” tegas Yanuar.
Ia menyoroti soal penggunaan SAL (Sisa Anggaran Lebih) yang belakangan ramai dibahas. Menurutnya, publik sering salah paham, karena SAL bukan surplus anggaran, melainkan sisa kelebihan utang yang menumpuk tiap tahun.
“Jangan salah. SAL itu bukan karena pendapatan lebih besar dari belanja, tapi karena kebanyakan utang. Jadi itu sebenarnya sisa kelebihan berutang,” jelasnya.
Lebih jauh, Yanuar mempertanyakan rencana pemerintah menempatkan sekitar Rp200 triliun dari SAL ke perbankan. Menurutnya, langkah itu memang bisa menambah likuiditas, tapi ada risiko besar bila akhirnya hanya dialihkan ke pembelian surat utang negara (SBN) dan bukan kredit produktif.
“Kalau 200 triliun itu masuk bank, jangan sampai justru dipakai geser likuiditas ke SBN. Rakyat butuh efek langsung lewat kredit dan pembiayaan sektor riil,” ungkapnya.
Yanuar juga menilai cara pandang Purbaya terlalu dipengaruhi mazhab monetaris ala Milton Friedman, yang menekankan uang beredar. Padahal, posisi Menkeu semestinya fokus pada fiskal, bukan moneter.
“Dia bicara seperti gubernur bank sentral. Padahal otoritasnya itu fiskal, bukan moneter. Ini yang saya bilang gaya koboi,” sindirnya.
Yanuar mengingatkan, kebijakan seperti ini harus dikritisi agar tidak terjebak dalam eksperimen yang bisa membahayakan stabilitas fiskal maupun moneter Indonesia.





