MoneyTalk, Jakarta – Pada Senin (14/10), Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Panjaitan (LBP), membuat pernyataan yang cukup menggemparkan dalam wawancaranya di kanal YouTube Visioner.
Dalam wawancara tersebut Luhut secara tegas membantah adanya isu mengenai keretakan hubungannya dengan Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri. Luhut menjelaskan bahwa dirinya tidak memiliki masalah pribadi dengan Megawati. Ia menyatakan, tidak mendukung Ganjar Pranowo pada Pilpres karena sejumlah alasan, bukan karena ketidaksepahaman dengan Megawati.
Luhut mengungkapkan bahwa dukungannya terhadap Prabowo Subianto bukanlah tanpa alasan. Menurutnya, PDI Perjuangan di bawah kepemimpinan Megawati tidak memiliki arah yang jelas dan peka terhadap kondisi politik dan ekonomi nasional. Lebih jauh, ia menyatakan bahwa Megawati tidak mampu memimpin partai secara efektif, yang membuatnya mempertanyakan arah partai tersebut.
Dalam wawancara tersebut, Luhut secara terang-terangan menyatakan bahwa banyak tokoh PDIP yang tidak memiliki sensitivitas terhadap isu-isu penting, terutama yang terkait dengan minoritas. Luhut juga mengakui bahwa keluarganya adalah PNI asli, namun sikapnya terhadap PDIP saat ini adalah karena pandangannya bahwa partai tersebut “tidak jelas.”
Baginya, alasan untuk mendukung seseorang adalah karena program yang mereka bawa untuk kepentingan bangsa, bukan semata-mata loyalitas pada partai.
Luhut menyatakan bahwa Prabowo adalah pilihan yang logis karena memiliki visi yang sejalan dengan program-program Presiden Jokowi. Dalam beberapa kesempatan, Luhut mengaku telah berdiskusi dengan Prabowo, dan ia melihat bahwa Prabowo memiliki komitmen untuk melanjutkan dan menyempurnakan kebijakan-kebijakan yang telah diterapkan oleh pemerintahan Jokowi.
Ia mengungkapkan bahwa melanjutkan program-program yang sudah berjalan akan lebih efektif bagi Indonesia daripada memulai dari awal. Jika setiap lima tahun harus memulai kebijakan baru, menurut Luhut, maka negara akan terjebak dalam siklus kebijakan yang tidak efisien. Ia menekankan pentingnya kelanjutan program Jokowi yang telah terbukti berhasil, seperti e-Katalog, hilirisasi industri, dan program lainnya.
Ketika ditanya mengenai kemungkinan PDIP dan Ganjar Pranowo melanjutkan program-program Jokowi, Luhut tampak skeptis. Ia meragukan komitmen Ganjar dan PDIP untuk meneruskan kebijakan tersebut. Baginya, PDIP lebih berfokus pada citra partai daripada memperhatikan hasil-hasil konkret yang bisa dirasakan rakyat.
Luhut menyatakan, “Kita perlu pemimpin yang tidak hanya mengandalkan nama besar, tapi yang benar-benar bekerja demi bangsa.”
Luhut juga menepis spekulasi bahwa dukungan Jokowi terhadap Prabowo karena faktor kedekatan keluarga, yakni pencalonan putranya, Gibran Rakabuming, sebagai calon wakil presiden. Ia menegaskan bahwa dukungan Jokowi pada Prabowo murni didasarkan pada visi keberlanjutan program-program pembangunan nasional, bukan kepentingan keluarga. Menurutnya, Jokowi hanya ingin memastikan program-programnya dapat dilanjutkan oleh pemimpin yang memiliki komitmen yang sama, seperti Prabowo.
Lebih jauh, Luhut menegaskan bahwa Jokowi tetap sederhana dan idealis, serta mampu bekerja sama dengan timnya untuk mencapai hasil terbaik. Meski banyak pihak yang menyatakan bahwa Jokowi telah berubah karena kekuasaan, Luhut menolak pandangan tersebut. Ia mengatakan bahwa satu-satunya perubahan yang ia rasakan adalah kini ia yang harus menunggu Jokowi saat bertemu, bukan sebaliknya, seperti dulu.
Luhut mengajak para pemimpin, baik yang masih menjabat maupun yang sudah tidak aktif, untuk melakukan refleksi. Ia menekankan pentingnya memberikan keteladanan kepada masyarakat, terutama di tengah situasi politik yang semakin memanas menjelang Pilpres. Ia juga menyayangkan tindakan sebagian tokoh yang kerap melontarkan kritik tanpa dasar yang kuat, yang menurutnya hanya akan merusak tatanan demokrasi.
Luhut menegaskan bahwa semua pihak perlu berkomitmen untuk menjaga persatuan dan stabilitas, serta memastikan program pembangunan berlanjut demi kesejahteraan bangsa. Menurutnya, bonus demografi yang dimiliki Indonesia hingga tahun 2030 perlu dimanfaatkan dengan bijak, dan hanya dengan kepemimpinan yang konsisten, hal ini dapat terwujud.
Pernyataan Luhut memperlihatkan posisinya yang tegas mendukung Prabowo Subianto, dengan alasan keberlanjutan program pemerintahan Jokowi. Selain itu, Luhut menekankan bahwa pilihannya tidak dipengaruhi oleh faktor personal atau hubungan dengan tokoh lain, melainkan karena keyakinannya bahwa Prabowo memiliki visi yang jelas untuk Indonesia ke depan.
Di sisi lain, ia mengkritik PDIP dan Ganjar Pranowo atas kurangnya arah yang jelas dalam memimpin, dan meragukan kemampuan mereka untuk meneruskan capaian-capaian pemerintahan Jokowi. (c@kra)





