MoneyTalk, Jakarta – Isu kebangkrutan PT Gudang Garam Tbk kembali mencuat ke publik. Salah satu raksasa industri rokok tanah air ini dikabarkan mengalami tekanan finansial serius. Mulai dari laba yang terjun bebas, produksi yang tersendat, harga saham yang terjun drastis, hingga ancaman pemutusan hubungan kerja bagi ribuan pekerjanya.
Tudingan terbaru datang dari laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yang menyebutkan bahwa industri rokok di Indonesia sedang mengalami tekanan luar biasa. Meskipun begitu, Indonesia masih menjadi negara dengan jumlah perokok pria tertinggi di dunia, yakni sebesar 73,2 persen dari total populasi pria.
Koordinator Nasional Gerakan Santri Biru Kuning (GSBK), Febri Yohansyah, menyebut bahwa ada sejumlah indikator yang menunjukkan kondisi keuangan PT Gudang Garam memang tengah tidak sehat. Laporan keuangan menunjukkan laba perseroan anjlok tajam dari Rp5,32 triliun pada 2023 menjadi hanya Rp980,80 miliar pada 2024—terjun hingga 82 persen.
“Penurunan ini diakibatkan oleh menurunnya volume penjualan rokok, membanjirnya rokok ilegal, serta ketatnya aturan larangan merokok di ruang publik,” ujar Febri kepada wartawan, Kamis (24/7/2025).
Dari sisi aset, PT Gudang Garam juga mengalami penurunan nilai signifikan. Aset perusahaan yang sebelumnya sebesar Rp92,4 triliun pada 2023 turun menjadi Rp84,9 triliun pada 2024.
Harga saham PT Gudang Garam juga menunjukkan tren yang memprihatinkan. Jika sebelumnya sempat diperdagangkan di atas Rp90.000 per lembar, kini hanya bertahan di kisaran Rp9.600 per lembar. Kondisi ini turut menambah kekhawatiran investor dan masyarakat terhadap masa depan perusahaan.
Namun, Febri menegaskan bahwa menyimpulkan PT Gudang Garam akan bangkrut adalah langkah yang terburu-buru. “Ini baru tanda-tanda. Belum tentu bangkrut. Bahkan sebaliknya, Gudang Garam punya diversifikasi bisnis yang bisa menyelamatkan arus kasnya,” katanya.
Febri menyebut bahwa Gudang Garam tidak hanya bergerak di industri rokok, tetapi juga sudah merambah ke sektor lain seperti jalan tol, bandara, kertas, konstruksi, dan lainnya. “Ekspansi ini adalah bentuk adaptasi dan strategi jangka panjang,” imbuhnya.
PT Gudang Garam saat ini mengelola 11 anak perusahaan langsung dan 25 anak perusahaan tidak langsung. “Sebagian anak usaha ini justru punya prospek yang sangat menjanjikan ke depan,” ungkap Febri.
Dengan aset besar, diversifikasi sektor, dan jejak historis sebagai salah satu konglomerasi tembakau terbesar di Asia, menurut Febri, isu kebangkrutan Gudang Garam masih perlu dipandang secara proporsional.
Meskipun saat ini perusahaan menghadapi tekanan serius, baik dari sisi regulasi, persaingan pasar, hingga perubahan gaya hidup masyarakat, namun PT Gudang Garam belum bisa disebut bangkrut. Febri menutup pernyataannya dengan optimisme hati-hati, “Kalau membaca peta bisnis mereka, sebenarnya Gudang Garam masih jauh dari kata tamat.”



