MoneyTalk, Jakarta – Mantan Menteri ESDM Sudirman Said menilai tata kelola pemerintahan Indonesia masih sarat dengan praktik buruk yang diwarisi dari era Presiden Joko Widodo. Menurutnya, hal itu menjadi “lubang hitam” yang berbahaya bila tidak segera diperbaiki oleh Presiden Prabowo Subianto.
“Lingkungan pengendalian kita sangat buruk. Itu kelanjutan dari pemerintahan lama. Presiden terdahulu dikelilingi orang-orang bermasalah, banyak menteri ditangkap KPK, teknokrat jadi yes man, ilmuwan justru memberi justifikasi palsu. Dampaknya, bangsa ini terbebani panjang,” ujar Sudirman dalam podcast Heru Subeno Point, Minggu (24/8).
Sudirman Said membuka diskusi dengan kisah heroik Jenderal Sudirman yang tetap memimpin perang meski sakit parah. Menurutnya, sikap itu mencerminkan pemimpin sejati yang mampu memisahkan urusan pribadi dengan tanggung jawab publik.
“Beliau bilang, yang sakit itu Sudirman, Panglima tidak pernah sakit. Itu teladan pemimpin: tetap bertanggung jawab meski kondisi buruk,” ucapnya.
Sudirman menyebut kondisi demokrasi dan hukum Indonesia makin memburuk. Ia menyinggung penegak hukum yang kerap jadi alat politik, serta lembaga kontrol seperti parlemen, BPK, hingga KPK yang kehilangan kredibilitas.
“KPK yang seharusnya diperkuat justru dilemahkan di masa Jokowi. Itu dosa sejarah. Padahal, kalau hulunya dibersihkan, hilirnya ikut bersih. Korupsi adalah akar masalah kesejahteraan rakyat,” tegasnya.
Sudirman meminta Prabowo tidak sekadar melanjutkan pola lama, melainkan melakukan reformasi total di bidang hukum dan pemberantasan korupsi.
“Pak Presiden, you need to do fundamental reform. Lubang hitam yang ditinggalkan pendahulu Anda harus dikoreksi total. Tegakkan hukum setegak-tegaknya, berantas korupsi. Kalau dua itu dilakukan, rakyat akan berduyun-duyun mendukung Anda,” ujarnya.
Ia menutup dengan peringatan keras: “Hard times create great leaders. Saatnya keadaan sulit ini melahirkan pemimpin kuat. Jika tidak, bangsa ini hanya akan terus terjebak dalam siklus buruk yang sama.”




