Program MBG Prabowo Jauh dari Filosofis dan Historis

  • Bagikan

MoneyTalk, Jakarta – Jika Jokowi membusungkan dada pemimpin yang melakukan hilirisasi tambang. Seolah mengingkari Sukarno dan Suharto membuat Krakatau Steel. Maka Prabowo menyombongkan diri dengan program MBG. Seolah memungkiri Suharto sudah terlebih dahulu membuatnya. Berikut pemaparan singkat sebuah diskusi kecil yang menarik antara Burhan Rosyidi, John Mempi, Salamuddin Daeng dan Nirmal Ilham tentang Prabowo tidak berfikir Filosofis dan Historis dalam program MBG.

Media-media Inggris menyoroti keracunan terjadi dalam program andalan presiden baru Indonesia. Kebijakan ambisius bernilai miliaran dolar untuk memberi makan 83 juta orang di akhir tahun. Reuters, BBC, Independent  meliput berbagai kasus keracunan yang dialami murid sekolah membuat rumah sakit kewalahan.

Majalah Tempo menginvestigasi bahwa Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) semuanya terpenuhi dalam program MBG. Korupsi terjadi waktu tagihan besar ke Kementerian Keuangan tidak sesuai dengan kegiatan yang telah dilaksanakan. Kolusi terjadi saat Badan Gizi Nasional (BGN) menunjuk yayasan atau badan usaha yang akan melaksanakan program. Dan Nepotisme terjadi ketika diketahui pemilik yayasan atau badan usaha itu adalah orang dekat Prabowo dan para pendukungnya.

Dalam sebuah diskusi kecil antara Burhan, John, Daeng dan Nirmal. Pertama yang diamati dari program MBG adalah niat dan perbuatan Prabowo. Menurut Burhan Rosyidi, Prabowo memiliki niat yang baik tapi perbuatannya salah. “Prabowo seperti ingin memindahkan dan membiakan ikan tuna sirip biru ke darat. Ekosistemnya berbeda. Seharusnya ekosistemnya dahulu diperbaiki, baru kemudian programnya dijalankan, “kata Burhan.

Kedua yang diamati adalah apa yang ingin dicapai Prabowo dalam program MBG ini. Menurut John Mempi, jika Prabowo ingin memperbaiki gizi anak Indonesia. Maka yang perlu diberikan adalah nutrisi, bukan makan besarnya. “Program seperti ini sudah pernah dijalankan era Orde Baru. Suharto memberikan sekaleng besar susu bubuk dan kacang hijau kepada murid TK dan SD,. Dalam Program Makanan Tambahan Anak Sekolah (PMT-AS), “jelas John.

John Mempi menjelaskan di era Orde Baru, semua kebijakan yang akan ditempuh Suharto terlebih dahulu ditanyakan dan dipertimbangkan kepada penasehat-penasehatnya. Lalu penasehat itu mendatangkan ahli-ahli dibidang masing-masing terkait program yang akan dilaksanakan. Untuk kemudian Suharto mendengarkan, mempertimbangkan dan mengambil keputusan sesuai kesepakatan bersama. Tentunya dengan keterbatasan anggaran masa itu.

“Jadi pemimpin itu mendengarkan, bukan minta untuk didengar. Pemimpin itu mempertimbangkan, bukan langsung ujug-ujug. Pemimpin itu mengambil keputusan yang tepat, bukan yang cepat. Jika alasannya seorang militer biasa mengambil keputusan yang cepat. Memangnya Suharto bukan militer, “singgung John.

Ketiga yang diamati adalah apa manfaat program MBG ini. Salamuddin Daeng memberi pandangan bahwa pertanian dan pengolahan makanan adalah produk budaya. Pada wilayah barat, budaya pertanian dan pengolahan makanan lebih maju dibanding wilayah timur. Karena ditunjang iklim dan letak strategis. Sehingga ketika Suharto memberi seperti MBG, berupa sekaleng besar susu dan kacang hijau kepada anak sekolah itu sangat tepat.

“Saya termasuk yang merasakan program Suharto itu waktu sekolah. Pemberian itu membuat tidak ada ketimpangan antara barat dan timur. Selain itu secara tidak langsung mengedukasi para orang tua di kampung tentang pentingnya susu dan kacang hijau terhadap pertumbuhan otak dan fisik anak, “ungkap Daeng.

Selanjutnya Nirmal Ilham yang pernah bertugas sebagai Tenaga Ahli DPR RI Komisi IV Pertanian, memberikan masukan data-data impor produk pertanian dan peternakan. Bahkan secara terang-terangan pernah membuat tulisan “Pertanian Di Tangan Pithecanthropus Erectus Soloensis”. Kritik terhadap kebijakan pertanian di era Jokowi yang seperti hanya mau memetik dan meramu tanpa mau menanam layaknya manusia purba.

“Pemerintahan SBY mendahulukan perdagangan. Pemerintahan Jokowi mengutamakan pertambangan. Akibatnya 20 tahun pertanian terabaikan. Puncaknya Indonesia menjadi pengimpor pangan terbesar kedua di dunia setelah Rusia, negara di kutub utara itu. Sehingga atas dasar apa Prabowo yang baru tiga bulan menjabat membuat program MBG, “tegas Nirmal.

Bagi Nirmal, Prabowo ini seperti pemimpin yang ingin dilihat bak seekor Singa. Padahal bak seekor Kucing. Pidato di Sidang Umum PBB, Indonesia telah swasembada beras dan ingin menjadi lumbung dunia. Tanpa malu pemberitaan masif tentang buruknya kualitas beras yang dijual di dalam negeri dan impor beras 4,5 juta ton tahun 2024 lalu. Terbesar dalam tujuh tahun terakhir.

Penulis : Nirmal Ilham,ex Tenaga Ahli DPR RI

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *