MoneyTalk, Jakarta – Unggahan pegiat media sosial yang juga Direktur Eksekutif Indonesia Maritime Institute (IMI), Y. Paonganan atau yang dikenal dengan akun X @ongen_id, kembali menyita perhatian publik. Kali ini, Ongen melontarkan sindiran bernada satire di tengah maraknya isu dan narasi liar yang menyebut bulan Februari akan diwarnai kerusuhan atau huru-hara.
Melalui cuitannya, Ongen menyinggung pihak-pihak yang gemar “mikir dan ngoceh” soal Februari dengan nada penuh kecurigaan dan ancaman, namun sama sekali mengabaikan sisi kebahagiaan masyarakat. Ia menyebut Februari justru identik dengan perayaan Valentine Day, yang seharusnya dimaknai sebagai momentum kasih sayang dan ekspresi damai, bukan provokasi atau kekacauan.
“Februari ada hari bahagia, rasanya mereka nggak pernah ngerayain Valentine Day. Saran gua ikut rayain aja 14 Februari nanti, tapi jangan bawa molotov karena akan mengganggu keintiman,” tulis Ongen disertai emoji tertawa, Senin (5/1/2026).
Pernyataan tersebut dinilai sebagai sindiran langsung terhadap narasi provokatif yang belakangan ramai di media sosial, seolah-olah Februari identik dengan potensi rusuh dan chaos. Ongen secara satir mengingatkan bahwa perbedaan pandangan politik atau kritik sosial tidak seharusnya diterjemahkan menjadi tindakan anarkis.
Tak hanya itu, Ongen juga menyinggung potensi meningkatnya kerumunan massa pada bulan Februari saat perayaan Valentine Day terutama pada malam hari hingga dini hari. Ia mengingatkan semua pihak agar tetap waspada.
“Februari identik dengan Valentine Day, akan banyak massa berkumpul apalagi malam sampai subuh, entah mau ngapain. Agar waspadai Satpol PP,” lanjutnya.
Warganet menilai pesan tersebut bukan sekadar humor, melainkan peringatan sosial agar publik tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu yang digoreng berlebihan. Banyak yang menafsirkan cuitan Ongen sebagai kritik terhadap para “pengoceh” yang terus menggiring opini seolah-olah akan terjadi huru-hara besar, tanpa dasar yang jelas.
Tagar #RakyatCintaPrabowo yang turut disematkan dalam unggahan itu juga memunculkan beragam tafsir. Sebagian menilai sebagai ekspresi dukungan politik, sementara lainnya melihatnya sebagai penegasan sikap Ongen bahwa stabilitas nasional dan ketertiban publik harus dijaga, terlepas dari dinamika politik yang ada.
Hingga kini, unggahan tersebut terus beredar luas dan menuai beragam respons. Ada yang menanggapinya serius sebagai peringatan dini, ada pula yang mengapresiasi gaya satire Ongen yang dinilai tajam, relevan, dan menyentil langsung isu provokasi kerusuhan yang kerap muncul menjelang momentum tertentu.


