Pemimpin Busuk Lahir Dari Pemilu Busuk

  • Bagikan

MoneyTalk, Jakarta – Pemimpin hebat katanya “dilahirkan”, bukan diciptakan. Omong kosong! Jika proses kelahirannya dari rahim pemilu yang busuk—penuh kecurangan terstruktur, dinasti politik tak tahu malu, intervensi kekuasaan begitu telanjang, dan duit haram oligarki—hasilnya ya sampah busuk juga, ini desain sadar!

Rakyat disebut pemegang kedaulatan tertinggi? Itu hanya jargon. Hak rakyat cuma direduksi lima tahun sekali: disuruh antre di TPS, coblos foto senyum palsu, pulang, lalu duduk manis jadi penonton opera politik berseri yang entah kapan berakhirnya. Elit-elit b*jing*n itu bergulat berebut tahta di panggung mewah—dibiayai pajak kita—sementara kita yang di bawah ini cuma bisa ngomel di medsos atau diam tercekik.

Para “wakil rakyat” yang duduk ongkang-ongkang di kursi empuk DPR—gaji fantastis dari kantong rakyat—malah jadi budak setia oligarki dan korporasi rakus. Mulut mereka lantang ngomong soal amanah Pembukaan UUD 1945: kedaulatan rakyat, keadilan sosial, dan kesejahteraan umum.

Tapi prakteknya? Kebijakan demi kebijakan menjadi karpet merah buat bohir partai, investor asing, dan konglomerat hitam. Hukum tajam ke bawah, tumpul ke atas. Infrastruktur megah buat pencitraan doang, sementara rakyat kecil makin terdesak oleh harga sembako yang melambung, pajak membengkak seperti rentenir, lapangan kerja lenyap digantikan TKA China, robot dan efisiensi, BUMN pun dilego murah ke asing.

Ini adalah bukti bahwa pernyataan itu benar secara brutal, bahwa PEMIMPIN BUSUK LAHIR DARI SISTEM BUSUK YANG SENGAJA DIPAKE MEMBUSUKKAN RAKYATNYA. Rakyat dibuat bodoh politik, atau masabodoh, apatis kronis, tergantung bansos sesaat agar mudah digembala seperti domba. Pemilu kita bukan pesta demokrasi, tapi pesta pora elit: parpol jadi pemegang saham utama, oligarki jadi investor, KPU cuma EO bayaran, dan rakyat? Hanya dijadikan budak captive yang dipaksa menelan “produk” politik busuk tanpa ada pilihan lain.

Demokrasi perwakilan ini sudah lama diculik dan diselewengkan oligarki. Yang berkuasa bukan suara mayoritas, tapi duit haram, koneksi kotor, dan deal-deal gelap di ruang VIP. Menghasilkan pemimpin sampah yang lahir dari proses busuk itu, dan akan terus melanggengkan kebusukan. Apa itu? Adalah korupsi mendarah daging di sistem, buzzer bayaran yang menjadi mesin politik, menggunakan polarisasi massive untuk pecah belah, ketimpangan makin menganga seperti jurang neraka, kedaulatan rakyat jadi dongeng usang yang cuma dibaca saat kampanye.

Panggilan untuk “bangun” diserukan: hancurkan politik uang, lawan dinasti politik, dan rebut kembali kekuasaan dari segelintir elit. Kenyataan ini pahit, tapi jika tidak ditelan sekarang, kita semua yang akan tenggelam dalam kebusukan.

Penulis : Malika Dwi Ana

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *