Anak Tak Mampu Beli Pena Bunuh Diri, Nicho Silalahi: Negara Gagal Hadir

  • Bagikan

MoneyTalk, Jakarta – Aktivis sosial Nicho Silalahi menyampaikan kritik tajam terhadap arah kebijakan pemerintah menyusul kabar tragis seorang anak sekolah dasar yang diduga bunuh diri karena tidak mampu membeli buku dan pena.

Melalui pernyataannya di media sosial, Nicho menilai pemerintahan yang beradab seharusnya lebih memprioritaskan penciptaan lapangan kerja bagi para orang tua dibanding sekadar memberikan bantuan makan kepada anak. Menurutnya, ketersediaan pekerjaan yang layak akan menjaga martabat keluarga sekaligus memastikan kebutuhan pendidikan anak terpenuhi secara berkelanjutan.

Sorotan tersebut muncul setelah pemberitaan media nasional, termasuk laporan dari Kompas.id, mengungkap kondisi keluarga miskin ekstrem yang bahkan kesulitan membeli alat tulis dengan harga di bawah Rp10.000. Peristiwa itu dinilai menjadi tamparan keras bagi negara dalam menjamin akses pendidikan dasar bagi seluruh warga.

Sebagai bagian dari jaringan aktivisme Molekul Pancasila, Nicho menekankan bahwa kemiskinan struktural tidak bisa diselesaikan hanya dengan program bantuan jangka pendek. Ia mendorong kebijakan ekonomi yang membuka kesempatan kerja luas, memperkuat perlindungan sosial, serta memastikan tidak ada anak Indonesia yang terhambat sekolah karena faktor biaya sederhana.

“Negara harus hadir bukan hanya memberi makan, tetapi memastikan orang tua memiliki pekerjaan bermartabat agar anak-anak dapat tumbuh dan belajar dengan layak,” ujarnya, Sabtu (14/2/2026).

Pernyataan tersebut memicu diskusi luas di ruang publik mengenai efektivitas program bantuan sosial, kualitas perlindungan pendidikan bagi keluarga miskin, serta tanggung jawab negara dalam mencegah tragedi serupa terulang.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *