MoneyTalk, Jakarta – Dokter Tifa mengungkapkan kisah pribadinya menjalani kewajiban wajib lapor setiap minggu ke Polda Metro Jaya sejak ditetapkan sebagai tersangka pada 7 November 2025.
Melalui pernyataannya, Dokter Tifa menggambarkan bagaimana rutinitas tersebut menjadi bagian dari kehidupannya selama empat bulan terakhir. Ia mengaku harus datang setiap pekan ke kantor polisi, bahkan pada hari libur ketika sebagian besar orang menikmati waktu bersama keluarga atau beristirahat.
“Hari ini Sabtu, 14 Maret 2026, bagi banyak orang adalah hari libur. Tetapi tidak bagi saya, karena wajib lapor harus saya jalani setiap minggu,” ujarnya, Sabtu (14/3/2026).
Menurutnya, hari Sabtu menjadi satu-satunya waktu yang tersisa untuk memenuhi kewajiban tersebut karena hari Senin hingga Jumat ia sibuk mempersiapkan ujian doktoral.
Dokter Tifa juga menggambarkan suasana ruang pemeriksaan di Direktorat Reserse Kriminal Umum yang kini terasa akrab baginya.
“Ruang Pemeriksaan KAMNEG DITRESKRIMUM menjadi ruangan yang akrab buat saya. Pagi ini ketika saya mengetuk pintu yang sepi seperti kamar hantu, terlihat beberapa polisi muda masih tampak lelah setelah lembur memeriksa tersangka sepanjang pekan,” tuturnya.
Ia mengatakan, sebelumnya tidak pernah membayangkan suatu hari harus rutin melangkah ke kantor polisi untuk melaporkan diri. Namun kini hal tersebut menjadi bagian dari realitas yang harus dijalani.
Di tengah proses hukum yang berlangsung, Dokter Tifa menyebut kewajiban wajib lapor yang ia jalani seperti “tahanan kota”, meskipun secara formal ia tidak ditahan.
“Tanpa terasa sudah empat bulan berlalu, tanpa tanda kapan kewajiban ini selesai saya jalani,” katanya.
Meski demikian, ia mencoba memaknai pengalaman tersebut sebagai bagian dari konsekuensi atas sikapnya dalam menyampaikan pandangan.
“Ini bukan tentang saya. Ini tentang harga dari sebuah keberanian untuk berbicara,” ujarnya.
Ia mengakui ada rasa lelah dan pertanyaan dalam hati apakah perjuangan yang dijalaninya suatu hari akan dipahami banyak orang. Namun ia tetap berusaha tegar menghadapi proses hukum yang berjalan.
“Setiap minggu bagi saya bukan sekadar hari wajib lapor. Ini menjadi pengingat bahwa jalan kebenaran tidak selalu mudah dan suara hati kadang harus dibayar mahal,” ungkapnya.
Menurutnya, setiap pekan rutinitasnya sederhana: datang ke kantor polisi, melapor, lalu kembali menjalani kehidupan seperti biasa.
Di akhir pernyataannya, Dokter Tifa menyampaikan keyakinannya bahwa kebenaran pada akhirnya akan menemukan jalannya.
“Kebenaran mungkin bisa ditekan, tetapi tidak pernah bisa dihentikan. Selama napas ini masih ada, saya akan tetap berjalan setenang mungkin dan seteguh mungkin,” katanya.
Ia menutup pernyataannya dengan doa dan ungkapan tawakal: Hasbunallah wanikmal wakil, nikmal maula wanikman nashir. La haula wala quwwata illa billah.
Sampai saat ini proses hukum yang menjerat Dokter Tifa masih berjalan dan belum ada keterangan resmi dari pihak kepolisian mengenai perkembangan terbaru kasus tersebut.




