MoneyTalk, Jakarta – Pengamat politik dan sosial Buni Yani melontarkan kritik tajam terhadap Presiden Prabowo Subianto, khususnya terkait keputusannya bergabung dengan pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) pada 2019.
Dalam pernyataannya, Buni Yani menilai alasan Prabowo saat itu—yakni ingin “berjuang dari dalam”—tidak pernah terbukti secara nyata. Ia menyebut, selama hampir lima tahun berada di lingkar kekuasaan, Prabowo dinilai tidak menunjukkan upaya signifikan untuk mempengaruhi kebijakan pemerintah, terutama dalam isu keadilan bagi para pendukungnya.
“Dalih berjuang dari dalam tidak pernah terlihat hasilnya. Tidak ada bukti konkret bahwa ada perubahan kebijakan yang mengarah pada perlindungan terhadap pendukungnya,” ujar Buni Yani.
Lebih lanjut, ia juga menyinggung berbagai peristiwa yang menurutnya menjadi indikator tidak adanya perubahan tersebut, termasuk penanganan terhadap sejumlah aktivis serta kasus-kasus yang melibatkan kelompok masyarakat tertentu.
Buni Yani berpendapat, seharusnya Prabowo mengambil sikap lebih tegas ketika melihat adanya kebijakan atau tindakan yang dianggap tidak adil. Namun, hal itu dinilainya tidak terjadi selama masa pemerintahan sebelumnya.
Tak hanya itu, kritik juga diarahkan pada kepemimpinan Prabowo saat ini sebagai presiden. Ia menilai belum terlihat langkah konkret untuk memulihkan nama baik pihak-pihak yang sebelumnya merasa dirugikan oleh kebijakan pemerintah.
Dalam pandangannya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa orientasi kekuasaan lebih dominan dibandingkan komitmen terhadap keadilan.
Pernyataan Buni Yani ini menambah daftar kritik terhadap dinamika politik nasional, khususnya terkait relasi antara kekuasaan, loyalitas politik, serta ekspektasi publik terhadap pemimpin negara di era pasca-Pemilu.
Hingga saat ini, belum ada tanggapan resmi dari pihak Presiden Prabowo terkait pernyataan tersebut.





