MoneyTalk.id, Jakarta – Hasil simulasi berbagai skenario calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) dalam Survei Nasional Indikator periode 14–24 Juli 2026 menunjukkan peta elektoral menuju Pilpres 2029 masih sangat dinamis. Dalam sejumlah simulasi, nama Dedi Mulyadi muncul sebagai figur dengan tingkat elektabilitas tertinggi.
Survei yang melibatkan 4.250 responden di seluruh Indonesia tersebut menggunakan metode multistage random sampling dengan margin of error sekitar ±1,6 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.
Pada simulasi lima nama calon presiden, Dedi Mulyadi berada di posisi teratas dengan elektabilitas 41,9 persen, disusul Prabowo Subianto 21,9 persen, Anies Baswedan 13,3 persen, Gibran Rakabuming Raka 9,1 persen, dan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) 7,4 persen.
Sementara pada simulasi empat nama, Dedi Mulyadi kembali memimpin dengan 45,2 persen, diikuti Prabowo Subianto 23,5 persen, Anies Baswedan 15 persen, dan Gibran Rakabuming Raka 9,7 persen.
Dalam simulasi tiga nama, Dedi Mulyadi juga unggul dengan 46,9 persen, meninggalkan Prabowo Subianto 28,8 persen dan Anies Baswedan 17 persen.
Survei juga menguji berbagai simulasi pasangan capres-cawapres.
Pada skenario yang mempertemukan:
Dedi Mulyadi – Sugiono memperoleh 44,5 persen.
Pramono Anung – Anies Baswedan meraih 15,9 persen.
AHY – Gibran Rakabuming Raka mendapatkan 25,5 persen.
Sementara dalam simulasi dua pasangan, duet Dedi Mulyadi–Pramono Anung memperoleh 57,5 persen, mengungguli pasangan AHY–Gibran Rakabuming Raka yang memperoleh 27,5 persen.
Di sisi lain, untuk kategori semi terbuka calon wakil presiden, Dedi Mulyadi juga menjadi nama yang paling banyak disebut responden dengan 22,6 persen, diikuti Gibran Rakabuming Raka 16,3 persen, AHY 12 persen, Sherly Tjoanda 7,8 persen, dan Khofifah Indar Parawansa 5,1 persen.
Selain mengukur simulasi Pilpres 2029, survei ini juga mencatat tingkat kepuasan publik terhadap Presiden Prabowo Subianto berada pada angka 49,5 persen, sedangkan 48,8 persen menyatakan kurang atau tidak puas terhadap kinerjanya.
Laporan survei tersebut menegaskan bahwa seluruh simulasi merupakan gambaran preferensi publik pada saat survei dilakukan dan bukan prediksi hasil akhir Pilpres 2029. Dinamika politik, koalisi partai, maupun penetapan pasangan calon masih berpotensi mengubah peta elektoral menjelang pemilihan.

