Benz Jono Hartono Soroti Dugaan Mentalitas Kolonial dalam Kehidupan Berbangsa

  • Bagikan
Praktisi media massa sekaligus Vice Director Confederation ASEAN Journalist (CAJ) PWI Pusat dan Executive Director HIAWATHA Institute, Benz Jono Hartono

MoneyTalk.id, Jakarta – Praktisi media massa Benz Jono Hartono menyampaikan pandangannya mengenai kondisi kehidupan berbangsa dan bernegara melalui rilis yang diterima redaksi, Kamis (30/7/2026). Dalam rilis tersebut, ia menilai bahwa setelah berakhirnya penjajahan fisik oleh Belanda, masih terdapat persoalan yang menurutnya berkaitan dengan cara berpikir dan praktik kekuasaan yang dianggap tidak sepenuhnya berpihak kepada rakyat.

Benz memberi judul rilisnya “Penjajahan Jilid Dua Dilanjutkan Oleh Londo Ireng” dan menyertakan pernyataan berikut:

“Ketika Penjajah Pergi, yang Tetap Tinggal dan Menjajah adalah Londo Ireng sebagai Instrumen Kaum Kafir dan Kaum Munafik Penjajahan di Indonesia.” katanya.

Menurut Benz, proklamasi kemerdekaan pada tahun 1945 memang mengakhiri pemerintahan kolonial Belanda, tetapi ia mempertanyakan apakah seluruh bentuk penjajahan benar-benar telah berakhir.

“Jika penjajahan jilid pertama dilakukan oleh ‘Londo Bule’ melalui kekuatan militer, monopoli ekonomi, dan penguasaan politik, maka dalam penjajahan jilid kedua dijalankan oleh ‘Londo Ireng’, sebuah metamorfosis cara berpikir kolonial dan lebih setia kepada kepentingan Kaum Kafir dan Kaum Munafik, daripada kepada kepentingan rakyatnya sendiri yang Mayoritas Islam,” tulisnya.

Ia juga menyoroti apa yang disebutnya sebagai persoalan perlakuan terhadap identitas dan aspirasi umat Islam dalam ruang publik.

“Identitas umat Islam, aspirasi mereka sering dipandang dengan penuh kecurigaan. Simbol-simbol keislaman terkadang menjadi bahan stereotip, sementara suara umat Islam dalam berbagai narasi publik, tidak memperoleh ruang yang setara,” ujarnya.

Dalam rilis tersebut, Benz menyampaikan pandangannya mengenai penanganan persoalan yang berkaitan dengan umat Islam.

“Ketika terjadi persoalan yang melibatkan Umat Islam, penanganannya sering di besar besarkan, sedangkan kasus lain yang tidak terkait Umat Islam selalu dipeti es kan,” tulisnya.

Ia menambahkan bahwa warisan kolonial yang paling berbahaya menurut pandangannya bukanlah bangunan peninggalan Belanda, melainkan cara berpikir kolonial.

“Warisan kolonial yang paling berbahaya bukanlah gedung-gedung peninggalan Belanda, melainkan mentalitas kolonial. Mentalitas yang memandang umat Islam sebagai masyarakat yang harus terus diawasi, dicurigai, diperangi, dan selalu di infiltrasi, juga dijauhkan dari pengaruh dalam kehidupan berbangsa,” katanya.

Benz juga menyatakan:

“Ironisnya, pelaku dari cara berpikir itu bukan lagi orang Belanda. Mereka adalah Londo Ireng anak-anak bangsa sendiri, yang memperoleh jabatan, kekuasaan, dan fasilitas dari Kaum Kafir dan Kaum Munafik.”

Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa umat Islam memiliki peran penting dalam sejarah perjuangan Indonesia.

“Padahal, umat Islam adalah bagian penting dalam sejarah Indonesia. Banyak ulama, santri, dan pejuang Muslim berperan dalam perjuangan melawan kolonialisme. Karena itu, muncul pertanyaan yang layak direnungkan, mengapa mayoritas umat Islam selalu dipecundangi oleh kaum kafir dan kaum munafik di Indonesia,” tulisnya.

Meski demikian, Benz menilai tantangan umat Islam tidak hanya berasal dari luar, tetapi juga dari dalam.

“Tantangan umat Islam tidak hanya datang dari luar, tetapi juga dari dalam, perpecahan, rusaknya pendidikan, lemahnya ekonomi, dan berkurangnya semangat membangun persatuan umat. Tanpa pembenahan internal yang solid, sulit umat Islam untuk menjadi kekuatan yang mampu membawa perubahan,” ujarnya.

Di bagian akhir rilis, Benz menegaskan bahwa Indonesia tidak memerlukan kebencian antargolongan, melainkan penegakan keadilan bagi seluruh warga negara.

“Pada akhirnya, Indonesia tidak memerlukan kebencian antargolongan. Yang diperlukan adalah negara yang benar-benar berdiri di atas semua warga negara secara adil, menghormati kebebasan beragama sesuai konstitusi, dan membuka ruang yang sama bagi setiap kelompok untuk berkontribusi,” katanya.

Ia menutup pernyataannya dengan menegaskan makna kemerdekaan yang menurutnya harus diwujudkan dalam kehidupan berbangsa.

“Kemerdekaan sejati bukan hanya bebas dari penjajah asing, tetapi juga bebas dari segala bentuk ketidakadilan, diskriminasi, dan penyalahgunaan kekuasaan. Jika masih ada warga negara yang merasa dipinggirkan, maka pekerjaan besar bangsa ini belum selesai,” demikian pernyataan Benz Jono Hartono dalam rilis yang diterima redaksi.

Redaksi menyampaikan bahwa seluruh isi pernyataan di atas merupakan pandangan dan pendapat narasumber sebagaimana tercantum dalam rilis yang diterima. Pihak-pihak yang disebut atau merasa berkepentingan memiliki ruang yang sama untuk memberikan tanggapan, klarifikasi, atau penjelasan lebih lanjut.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *